
Hari yang di tunggu telah tiba. Pesta pernikahan yang megah dengan segala kemewahannya.
Para MUA tengah sibuk merias sang pengantin. Yaitu Syifa, dengan dandanan yang tampak natural, semakin menambah aura cantik yang selama ini Bagas banggakan darinya. Tapi, wajahnya sedikit murung karena ketakutan akan Viona yang mungkin muncul di dalam pesta.
"Kak, tenanglah. Disana banyak yang melindungimu. Hanya dala. Waktu sekejap, pasti Ia tertangkap."
Syifa terdunduk, mencoba tersenyum meski begitu sulit. Pasalnya, Ayah-Ibu, Papa-Mama, dan semua ada disana. Ia takut, semua akan terancam hanya karena kenekatan Viona dan anaknya.
" Hallo, Mama Ayu? " sapa Olin, yang menggenggam Hp milik Syifa.
" Hey, Olin. Katakan pada menantu kesayanganku, jika hari ini kami telat. Hanya sedikit telat, jadi tak perlu khawatir. Kami akan sampai tak lama lagi."
"Iya, Ma." jawab Syifa, karena suaranya memang di loundspeaker oleh Olin.
Olin mematikna Hpnya. Ia menggandeng Syifa untuk berdiri, dan keluar karena acara sebentar lagi di mulai.
"Mas dimana?"
"Bersama Mas Reza. Mereka telah di pelaminan." ucap Olin.
__ADS_1
Mereka pun berjalan bergendengan, menuruni tangga dengan begitu anggun. Olin tak kalah cantik, karena Ia juga di rias oleh MUA yang sama.
Gaun ungu menjuntai panjang, di pegangi oleh seorang asisten perias. Suasana memang telah ramai, tapi entah kenapa masih tampak lengang serasa tak meriah.
"Mungkin, karena mereka belum datang." ucap Olin.
"Kenapa, para sahabatku juga belum datang?"
"Tapi, Kak Ali sudah menyebarkan sesuai alamat yang Kakak berikan. Sabarlah, mungkin hanya telat seperti yang lain." Olin berusaha menenangkan.
Bagas menoleh. Ia yang tampan rupawan dengan jas yang di hias bunga mawar putih di sakunya, dengan kaca mata yang menambah aura dewasanya. Mengembangkan senyum dan menyambut sang Humairah dengan tangan ramahnya.
"Mas juga, tampan. Seperti biasa, yang selalu melelehkan hatiku." balas Syifa.
Sorak sorai di berikan pada keduanya. Dentuman suara dan nada pun di lantunkan oleh penyanyi, yang sengaja di undang Bagas untuk mengisi acara itu. Bagas dan Syifa pun saling berpelukan, dan berdansa mengikuti alunan lagu yang merdu itu.
"Terasa gamang, tak seperti keinginanku. Tapi....."
Suara tepuk tangan kencang membuyarkan suasana damai itu. Seorang wanita dengan pakaian pelayan, bertepuk tangan tepat di tengah keramaian pesta itu.
__ADS_1
"Viona?" ucap Reza, yang melepaskan Olin dari genggamannya.
"Apa mau mu, Tante Viona?" tanya Bagas, yang menyembunyikan Syifa di belakangnya.
"Aku? Aku hanya ingin hidupmu hancur. Karen kau, telah menghancurkan cita-cita keluarga kami. Kau tahu itu."
"Apalagi yang kau inginkan? Tak puas kau telah membuat Papaku sakit, HAH!" pekik Reza, dengan segala emosinya.
"Papamu sakit? Itu karena kebodohan dia sendiri. Kenapa menuduhku?" ucap Viona, dengan senyum devilnya.
Reza mengepalkan tangannya. Serasa ingin menghampiri dan menghajarnya bertubi-tubi. Tapi, Bagas melerainya.
"Mama, udah selesai."panggil Farah, yang tak kalah jahat tampangnya.
" Apa yang kalian lakukan, pada pesta ku?" tanya Bagas.
"Apa? Kenapa baru tanya sekarang? Sudah ku duga, memang kau sekarang lemah. Sejak aku putus kabel rem mobilmu, kau kecelakaan dan lumpuh. Itu saja kau lemah, apalagi sekarang. Lemah, hanya karena wanita itu." ucap Viona.
Dan setelah ucapan itu. Mendadak semua tamu terjatuh pingsan di lantai, membuat Viona dan Farah semakin terbahak karena begitu puas akan keberhasilan rencananya.
__ADS_1