
Syifa tampak begitu kelelahan. Ia membaringkan dirinya dengan begitu tenang, usai melakukan IMD 'Inisiasi Menyusui Dini'. Bagas tidur bersama bayinya, di tempat tidur yang sengaja disediakan untuk mereka.
Pintu terdengar dibuka. Syifa terbangun dan menoleh pada siapa yang datang. "Mana? Mana cucu Mama?" tanya Mama Ayu.
"Cucu kita, loh Ma." sahut Bu Mariam. Mereka langsung menghampiri Baby Brey yang tengan tidur begitu lelap dan imut dengan Papinya.
"Ya ampun, ini Papi nya malah tidur begini." lirik Mama Ayu pada putaranya.
"Udah Ma, biarin aja. Mas Bagas capek daritadi. Baru aja istirahat, sejak Breyhan tidur." jawab Syifa, yang berusaha duduk. Mama Ayu menghampiri, dan membantu memegangi tubuhnya yang masih lemah.
"Syifa lahiran normal? Kuat, Nak?" tanya Mama Ayu, tampak begitu khawatir.
__ADS_1
"Ya kuat dong, nyatanya Breyhan kita sudah lahir." sahut Bu Mariam, yang sibuk dengan cucunya yang masih tidur pulas.
Mama Ayu mengambilkan minum, mengusap wajah Syifa yang kusam dengan tissue basah dan merapikan rambutnya. "Terimakasih, sayang. Kamu telah bertaruh nyawa melahirnya Breyhan kami dengan selamat. Kamu pantas dapat hadiah setelah ini." bisik Mama Ayu pada menantu kesayangannya itu.
Tangis Baby Brey memecah keheningan. Bagas langsung sigap untuk bangun dari tidurnya. Meraba-raba disebelahnya yang kosong tanpa sang bayi di sampingnya.
" Astaghfirullah, anakku mana?" pekiknya. Ia pun dengan sigap berdiri dan lari untuk keluar.
"Mau kemana, Gas?" tanya Bu Mariam.
Semua hanya tertawa melihat Papi baru itu. Terlalu siaga, hingga hawanya begitu khawatir dengan sang putra. "Mas, ngga perlu cemasan gitu. Udah ada bala bantuan kok." ucap Syifa.
__ADS_1
Bagas hanya tersenyum, menggaruk kepala yang sebenarnya tak gatal itu.
"Mandi aja dulu, hari semakin sore. Kalau udah bersih, aman mau gendong bayi lagi." pinta Mama Ayu pada putranya, sembari mengeluarkan handuk dan beberapa pakaian ganti untuknya.
Bagas masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Sedangkan Syifa duduk santai dengan potongan apel yang disediakan mertuanya. Sedangkan Brey, bersama Nenek nya yang sedaritadi tak diam bershalawat untuk menenangkan cucunya.
Hari semakin malam. Kedua wanita paruh baya itu, seperti tengah bertukar anak. Bu Mariam sibuk mengurus Bagas dengan segala keperluannya. Sedangkan Mama Ayu sibuk memanjakan Syifa yang telah menjadi anak kesayangannya. Sedangkan Baby Brey, mereka urus bersama bertiga. Sesekali memberikan pada Maminya, untuk kembali meminum ASInya.
"Dah, tidur aja lagi. Kamu butuh banyak istirahat. Ada kami bertiga disini. Apalagi, kalau nanti Olin sama Reza datang. Pasti mereka lebih gemes sama Brey." pinta Mama Ayu.
"Ah, Ifa tak dapat membayangkan, bagaimana ketika mereka melihat bayi kecil ini." tatapan Syifa terasa aneh. Fikiran nya menerawang, membayangkan kedua anak itu mempermainkan bayinya dengan begitu gemas. Tapi, lama-lama lamunan itu membawanya tidur, meski tak bisa nyenyak karena Ia selalu siaga dengan bayinya yang tiap sebentar menangis.
__ADS_1
"Bersyukurnya punya kalian. Dan kamu, Mas. Kamu sudah memenuhi janjimu. Kamu mengurus aku, dan anak kita dengan baik. Semoga selalu seperti ini." harapnya, memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuh, yang serasa digempur dengan hujaman benda berat yang berjumlah banyak.
Seperti itulah, kata orang. Ketika mengatakan kuatnya seorang wanita yang mengeluarkan tenaganya untuk melahirnkan.