Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Brey itu anakku, Mas.


__ADS_3

"Sayang, semua udah siap. Yuk, pulang." ajak Bagas pada sang istri.


"Brey mana, Mas?"


"Sama Ibu. Mereka udah nunggu di luar, sama Mama. Barang-barang juga udah dibawa Ali."


Syifa hanya mengangguk, lalu Bagas memakaikan sweater untuk istrinya. Ia menutup sedikit rapat di bagian dada, karena tengah dalam keadaan bengkak dan terasa sakit saat ini.


" Masih sakitnya?" tanya Bagas.


"Mendingan. Mama olesin minyak terus soalnya. Pengertian banget, beruntung punya mereka. Bagi tugas untuk jaga mantu dan cucunya yang imut ini." puji Syifa pada dirinya sendiri. Bagas hanya meliriknya tajam, dengan mengusap rambut Syifa yang tampak kusam belkangan.


" Besok ku panggil salon kerumah. Kamu butuh perawatan."


" Baiklah," Syifa mengacungkan jempol dengan gembira. Mereka turun menuju mobil yang terparkir di bawah. Disana mereka semua telah menunggu, dan siap untuk pulang kerumah utama.


"Ma, Brey mana? Mau gendong." Syifa mengulurkan tangannya.


"Udah, kamu di depan aja, duduk manis dan istirahat."

__ADS_1


"Tapi, Ma... Ifa udah istirahat dari tadi. Capek istirahat terus. Masa pegang Brey, cuma pas menyusui doang?" rengeknya.


"Udah, nanti sakit perutnya. Itu masih turun." ucap Bu Marni, membela besannya.


"Masss," tatapnya pada sang suami.


"Udah, ngga papa. Ayo naik." bujuk Bagas padanya.


"Haish, sama aja semuanya." Syifa mencebik kesal.


Bagas merangkulnya naik ke mobil mereka, tapi Syifa melepasnya. "Susah, ih. Tinggi banget gitu,"


"Beda kondisi," Syifa tampak makin kesal padanya. Bagas menggaruk kepala, bingung dengan tingkah sang istri saat ini. Sepanjang jalan pun hanya diam, cemberut seolah tengah cemburu terhadap sesuatu.


"Ifa, sayang. Kenapa begitu? Harusnya seneng, udah pulang."


"Kesel. Itu Brey nya Ifa lah. Kenapa Mama sama Ibu terus yang pegang? Keseeeeeeee!" gemasnya.


Bagas menghela nafas panjang, berusaha mencari bahan untuk menasehati sang istri. Pasalnya, ini juga kali pertamanya memiliki seorang putra, dan pasti belum ada pengalaman untuk memberi nasehat yang baik.

__ADS_1


" Hey, Humairah?" panggilnya lembut. Dan Humairah nya hanya membalas dengan berdehem tanpa menoleh.


"Ifa tahu, atau pernah dengar yang namanya Baby Blues?"


"Tahu, kan Ifa mantan perawat."


"Baiklah, jadi ngga perlu menjelaskan bagaimana. Tapi, anggap saja Mama dan Ibu, tengah membuat Ifa tenang, dan bahagia pasca melahirkan. Mereka faham, bagaimana stres, lelahnya seorang wanita."


"Tapi Ifa juga pengen pegang Brey." manyun nya.


"Ifa tetep pegang Brey, kok. Ifa tidur sama Brey, dan menyusui Brey dengan baik. Dan mereka ambil Brey, ketika tiba waktunya istirahat."


"Iya, maaf. Namanya anak pertama, pengen peluk terus, cium terus, gemeeeessssh!"


"Sama, Mas juga gemes. Sekarang nikmatin aja. Brey punya semua orang yang sayang dengan Dia. Belum lagi Uncle dan Aunty nya. Mereka akan lebih gemas sama Brey nanti."


Syifa hanya mengangguk dengan melipat bibirnya, dan Bagas meraih tangan itu untuk Ia genggam. Sesekali Ia kecup untuk menenangkan sang istri. Wajar saja Brey menjadi pusat perhatian. Pasalnya memang Ia anak yang telah ditunggu oleh semua orang. Maka, mereka akan sibuk dengan Euphoria masing-masing untuk menyambutnya.


"Dah lah, ngga usah di fikirin. Kalau lagi di pegang Oma sama Neneknya, bawa aja Me time. Perawatan dan segala macam." gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Ia pun menyandarkan tubuhnya dibahu kursi mobil, dan memejamkan matanya sejenak. Bagas hanya tersenyum menatapnya, dengan tangan yang terus menggenggamnya erat.


__ADS_2