Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Part Ekstra bab 1


__ADS_3

"Kak, Olin izin pulang ke kost, ya? Kan pestanya udah selesai." pamit Olin pada Syifa.


"Pulang? Reza mana?"


"Reza disini." sahutnya dari kamar.


Ia pun turun, menghampiri dua wanita cantik itu di sofanya.


"Ada apa?"


"Anter Olin pulang." pinta Syifa, dengan semangkuk bubur di pangkuannya.


"Lah, pulang?"


"Ya, masa mau nginep disini terus? Ngga bolehlah." ucap Olin.


"Eh iya, belum nikah." garuk Reza di kepalanya.


"Bisa tinggal disini." ucap Syifa.


"Hah, serius?"


"Iya, tapi Mas Reza yang harus pergi." balas Syifa.


"Haish, menyebalkan. Sama saja, itu memisahkan kami berdua."


"Ya engga lah. Kalau disini, kami yang akan mengawasi. Tak seperti di kost."


Reza hanya meminyirkan bibirnya, menirukan semua ucapan Syifa. Olin hanya tertawa, melihat tingkah mereka berdua.


"Eh, sopankah begitu?" tegur Syifa. "Udah sana, anter. Nanti kemaleman."


"Iya..." jawab Reza.


Ia pun mengambil kunci mobil, dan menggandeng tangan Olin untuk pulang bersamanya.


"Nanti, setelah pesta, Olin kerjaanya apa? Balik OB lagi?" tanya Olin pada Reza.


"Ya engga lah. Kamu fokus kuliah, nanti kalau ada apa-apa, kamu harus siap nemenin Syifa. Karena lagi ada proyek besar, Aku sama Bagas pasti bakal sibuk banget mulai sekarang. Apalagi, proyeknya udah ditunda lebih dari setahun."


"Oh, iya..." jawab Olin.


Di kehamilan pertamanya, Syifa memang harus ekstra hati-hati. Apalagi, riwayatnya merawat Bagas bisa membuat kandungannya lemah. Tapi, Ia belum sempat memeriksakannya ke dokter kandungan secara langsung. Ia baru mendapat waktu istirahat, sejak pesta berlalu kala itu.


"Mas Reza masuk dulu?" tanya tawar Olin.


"Iya deh, masuk sebentar. Capek banget soalnya. Hari juga belum  malam 'kan?"


Olin pun mengangguk, lalu membuka pintunya. Mereka masuk, dan Olin langsung masuk ke kamar untuk merapikan kost yang sudah beberapa hari Ia tinggal itu. Reza pun berbaring di sofa, berusaha memejamkan matanya meski sulit.


" Olin? "


" Iya, Mas? Kenapa?"


"Kamu, mau jika aku ajak ketemu Papa?"


"Mau sih, emang mau ajak?"


"He'em." angguk Reza. "Meski tak lagi kenal, tapi setidaknya Dia tahu kalau aku sudah memiliki kamu."

__ADS_1


Olin hanya tersenyum, tersipu ketika menatap wajah serius Reza yang menjadi semakin tampan baginya.


"Tak apa lupa, karena itu memang sakit. Tapi kita yang sehat, jangan lantas ikut melupakan. Begitu kan?"


"Pintar sekali, kesayanganku ini." puji Reza. Ia merentangkan tangan, menyambut Olin dalam pelukannya.


Plukkk! Olin justru melempar boneka tedy bear pada kekasihnya itu.


"Maunya kamu." rengek Reza.


"Mau di marahin Mami?" lirik Olin, dan membuat Reza langsung berbaring memeluk bonekanya.


Sebuah rapat besar di adakan. Bagas sendiri yang turun tangan datang kesana dan menangani semuanya. Tapi, ditengah acara Ia tampak begitu lemas..


"Pak Bagas, Anda kenapa?"


"Entahlah, hanya sedikit pusing. Dan rasanya, begitu mual. Huuueeekkk!" Ia ingin muntah, meski hanya rasanya saja.


"Astaga, Bapak. Bapak kenapa?" tanya Ali, yang kini jadi tangan kanan Bagas.


"Ali, tolong air hangat." pinta Bagas, yang semakin lunglai.


Rapat terhenti sementara. Mereka semua tak tega jika harus melihat Bagas dalam kondisi lemah seperti itu.


"Maaf, ini mendadak. Padahal, saya tak merasa sakit sama sekali." sesalnya.


"Apa perlu, saya panggil dokter?"


"Tidak usah, mungkin hanya masuk angin saja. Terimakasih." ucap Bagas.


Ali pun datang dengan segelas air hangat. Cepat-cepat Ia minumkan, beserta sati sachet obat masuk angin yang Ia bawa.


"Takut Bapak masuk angin." jawab dina.


"Ngga ada, saya cuma mual-mual aja."  jawab Bagas.


"Magh?"


"Engga, saya sudah sarapan. Bekal juga bawa dari Ibu, tadi."


"Lalu apa?"


"Mana saya tahu, Ali. Pergi panggilkan Reza." perintahnya.


Ali pun segera melakukan perintahnya. Ia menghubungi Reza, dan memintanya datang segera.


"Kenapa saya? Mereka maunya Bagas."


"Tapi Pak Bagas lagi sakit, Pak Reza."


"Kenapa sakit? Dia berangkat sehat-sehat aja. Kamu kasih makan apa dia?" tanya Reza yang kesal. Pasalanya, Ia baru saja santai di kost Olin, dan bahkan baru ingin memejamkan matanya sejenak.


"Saya ngga kasih makan. Bapak bawa bekel dari Ibu, tadi."


"Aaah, ada-ada saja dia. Yasudah, saya kesana." jawab Reza.


Ia pun mematikan Hp, lalu berpamitan dengan sang kekasih yang masih memasak dibelakang..


"Olin...?"

__ADS_1


"Ya, Mas?" jawabnya menghampiri.


"Bagas sakit, Aku harus menggantikannya rapat."


"Loh, Olin baru masak."


"Yaudah, nanti aja balik lagi. Ngga tahu lah, dia kenapa." kesalnya.


Olin meraih tangan Reza dan menciumnya. Kiss gelembung udara pun Ia berikan, dan Reza langsung mengantonginya dalam hati yanh terdalam.


"Iiiih, pengen cepet nikahin kamu deh." gemasnya pada Olin.


Sang kekasih hanya memberikan senyum penuh cinta, tanpa menjawab ucapan Reza. Lalu, Reza kembali pergi dengan mobilnya.


"Untung bawa Jas, gua. Ah, ada aja si Papi mah." keluh nya lagi.


Ia segera memacu mobilnya dengan kekuatan luar biasa. Untung saja, suasana begitu lengang, sehingga tak banyak resiko yang menghadang.


"Pi, kenapa?" tanya Reza yang telah tiba di hadapan Bagas.


"Ngga tahu, ngga enak banget. Eneg, mual, puyeng aja."


"Yaelah... Mami yang hamil, kenapa Papi yang mabok?" isengnya.


"Mabok?"


"Iya, mabok hamil. Mual muntah berlebihan. Ngidam ngga sekalian?" Reza semakin meledek.


Bagas langsung membulatkan mata. Ia segera meraih Hpnya dan menelpon sang istri yang tengah santai dirumah.


"Sayang?"


"Ya, Mas? Kenapa?"


"Kamu lagi ngapain?"


"Lagi istirahat, nonton, ngemil, makan, tidur. Kenapa?" jawab Syifa dengan begitu santai nya.


"Ka-kamu ngga mual, atau ngerasa aneh di badan kamu? Atau, ngidam?"


"Engga, enak aja nih. Makan banyak, dan semuanya enak. Ngga kayak kata orang, kalau hamil pertama, pasti mabok."


"Astaga, Sayang... Apa bisa, kalau yang mabok itu aku, dan bukan kamu?" tanya Bagas, yang semakin bingung dengan keadaan dalam dirinya.


"Hah, serius?"


"Sayang, nanti kita bicarakan lagi di rumah, ya? Kamu, jaga diri baik-baik. See, You." ucap Bagas, lalu mematikan teleponnya.


"Hhhh, astaga... Bagaimana bisa seperti ini?" ucap Bagas, setengah tertawa tapi sedih.


"Kenapa?"


"Sepertinya, anakku ingin menyiksaku kali ini. Dia tahu, jika aku sering merepotkan Ibunya kala itu." ucap Bagas.


Reza tertawa terbahak-bahak, begitu juga Dina yang masih aneh dengan keadaan mereka.


"Jangan ketawa kau... Kalau aku seperti ini pekerjaan mu bertambah." sergah Bagas.


"Astaga... Iya..." Reza menepuk jidatnya.

__ADS_1


__ADS_2