Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Pertama kalinya, pergi tanpa suami.


__ADS_3

Mentari pagi bersinar dengan hangat. Syifa masih menggeliat didalam pelukan Bagas, seolah tak ingin pergi sejenak pun.


"Bangun, udah jam berapa ini?" bujuk Bagas.


Syifa menggeleng, dan jusru merangkulkan lengan di leher Bagas. Menenggelamkan waja di sela-sela tubuhnya.


"Hey, ayolah. Katanya mau reunian?"


"Kan Ifa bilang ngga jadi. Mau di rumah aja."


"Ini hari minggu, yang lain libur. Jadi ada yang bisa jagain di rumah."


"Iya, tapi nanti siang." jawab Syifa, yang masih menggeliat manja.


Bagas terus membujuk, Ia pun tak tahu kenapa Syifa tampak begitu manja hari ini. Andai bisa, Ia pasti akan menggendong dan memasukkan tubuhnya ke dalam Bath up, dan mengguyurnya dengan air dingin. Tapi tak bisa.


Jari jemari tangan Ia mainkan di punggung Syifa. Membuatnya menggeliat geli.


"Mas, aaaaaah. Udah..." rengeknya.


"Mau bangun, atau..."


"Iya, bangun." ucap Syifa, beringsut dari tempat tidurnya.


Ia berdiri, mengikat rambut dan mempersiapkan alat mandi Bagas.


"Gimana? Jadi perginya?" tanya Bagas lagi, saat Syifa menggosok punggungnya.


"Ngebet banget nyuruh Ifa pergi? Bosen di temenin?"

__ADS_1


"E-engga, cuma tahu aja kalau kami bosen dirumah terus. Sesekali pengen keluar." jawab Bagas.


Syifa hanya menghela nafas panjang, sembari memutar bola matanya. Ia meneruskan aktifitasnya, memandikan Bagas tanpa mau membalas lagi. Hingga akhirnya, Ia membawa Bagas untuk mengganti pakaiannya.


" Fa... "


" Iya, nanti Ifa pergi. Agak siang perginya."


"Ngambek lagi?"


"Engga... Siapa yang ngambek? Emang Ifa anak kecil, ngambek mulu?" jawab Syifa, yang masih ketus.


Bagas selesai, Ia lalu membawa dirinya menuju yang lain. Sedangkan Syifa, membersihkan diri sekaligus berdandan untuk pergi.


"Ifa, mau kemana?" tanya Mama Ayu.


"Lama?"


"Ngga tahu sih. Tapi, kalau kelamaan, nanti Ifa pamit pulang duluan." ucap Syifa.


"Owh... Baiklah." jawab Mama Ayu, yang tengah santai dengan sarapannya.


Usai sarapan, Syifa nempersiapkan apa saja keperluan Bagas. Dari alat terapi, lalu obat-obatan yang harus diminum tepat waktu.


"Iya, Mama faham. Kamu berangkat aja, diantar Farhan." ucap Mama Ayu.


Syifa mengangguk, lalu berpamitan.


"Ifa pergi ya, Mas. Jangan nakal." pesan Syifa, dengan mencium tangan suaminya.

__ADS_1


"Anak kecil apa?" tukas Bagas, sembaru mengecup kening Syifa.


Ya, baru hari ini, dan untuk pertama kali setelah mereka menikah. Mereka harus berpisah meski hanya dalam hitungan Jam.


"Sesak... Kenapa?" batin Bagas, menatap kepergian sang istri.


"Cuma bentar, yaelah." cibir Reza, yang langsung membawanya masuk.


Beralih pada Syifa. Ia tengah sibuk memberi kabar pada semua rekannya, mengenai perjalanannya menuju tempat perjanjian. Ceria, meski harap-harap cemas dengan bayi besar yang Ia tinggalkan di rumah.


" Ah, ada Mamanya. Selagi bisa dan diizinkan, Happy-happy aja deh. Yang penting, mau kemanapun kirim kabar, bila perlu kirim foto." gumam Syifa.


Ia kini telah tiba di tempat perjanjian. Sebuah Cafe yang memang sering Ia datangi bersama rekan-rekannya dahulu. Ia masuk, dan meminta Farhan pulang setelah nya.


" Nanti, aku naik taxi aja." ucap syifa dan Farhan pun pergi.


Syifa masuk, dan di dalam para sahabat menyambutnya. Ada Erwin disana, pria yang pernah menjadi bahan kecemburuan Bagas. Syifa menghampiri mereka, dan semua menyambutnya dengan suka cita. Temu kangen, saling berpelukan dan bertanya kabar masing-masing..


"Ifa, sehat?" tanya Erwin.


"Sehat, alhamdulillah.".


"Suamimu gimana? Ada perubahan?" tanya Ratna.


"Alhamdulillah juga. Udah banyak perkembangan yang di rasakan. Semoga, semakin sehat nantinya."


"Terus, kalau sehat gimana? Kalian, masih kontrak?" tanya yang lain.


Syifa hanya diam, memberi senyum manis dan menyeruput minuman yang telah dipesan. Yang lain hanya saling pandang, sulit mengartikan ekpresi yang diberikan Syifa pada mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2