Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Kenapa tak mati saja?


__ADS_3

Bruuuughhhh!!


Seseorang menjatuhkan tubuh Bagas di sebuah kursi. Mereka mengikat tangan, dan me lakban mulut Bagas.


"Istrinya mana?"


"Tak datang. Hanya dapat dia, toh istrinya sudah tak berguna sejak kuasanya di cabut lagi."


"Tak ikat kakinya?"


"Tak usah. Dia berdiri pun tak mampu, bagaimana bisa kabur? Ngesot?" cibir salah seorang dari mereka.


Ia lah Om Edward, Om Aldo, dan Tante Viona. Mereka lah yang berkomplot, untuk merebut warisan keluarga Nugraha, karena merasa lebih berhak dari keturunan istri pertamanya.


Mereka duduk bersama, menyantap makan siang masing-masing sembari menunggu Bagas sadar dari tidurnya.


"Sisakan sedikit. Setidaknya, Dia juga perlu makan." tegur Om Edward pada Tante Viona.


"Kenapa, tak kau biarkan mati saja? Bukankah, akan lebih tenang bagi kita?"


"Aku ingin melihat, ketika Ia terpuruk. Sama seperti Ibu, yang susah payah membesarkanku. Bahkan, terpaksa memberikan aku pada madunya untuk di urus." sengit Om Edward.


Orang-orang itu hanya mengangguk setuju. Mereka juga sangat mendukung keinginan Edward itu.

__ADS_1


Mereka pun duduk santai, sembari menonton tv yang tersedia di rumah itu. Rumah tua, tempat mereka menyekap Syifa juga waktu itu.


***


"Bu... Tenanglah. Semua orang akan membantu menyelamatkan Bapak." bujuk Olin, yang menunjukkan sisi manisnya.


"Lapor, Pak. Sepertinya, mereka melewati jalan lain. Bukan jalan utama yang ada di kantor ini." lapor Sang satpam.


"Jalan lain? Berarti, mereka benar-benar faham perusahaan ini dan seluk beluknya." fikir Reza.


"Kalian! Lanjutkan pekerjaan. Jangan ikut-ikutan mengurusi masalah ini. Kalian tak boleh lengah." perintah Reza, pada semua yang ada di lokasinya bersama Syifa dan Olin.


Semua pun membubarkan diri, dan menuju tempat masing-masing. Polisi pun datang, meninjau tempat kejadian perkara. Mereka menanyai semua saksi, termasuk Olin yang memang ada disana ketika kejadian. Dan Olin, menceritakan semua sesuai yang Ia ketahui.


"Fa... Aku antar pulang, ya?" tawar Reza.


Syifa menggeleng, dengan terus memeluk kaca mata milik Bagas.


"Kalau, Ibu disini... Ibu hanya keinget Bapak. Atau, mau saya temani di rumah?" tawar Olin, yang begitu cemas melihat kondisi Syifa.


Olin dan Reza saling lirik. Lalu Reza berinisiatif, menggendong Syifa dan membawanya keluar.


"Mau kemana?" tanya Syifa, lemah.

__ADS_1


"Pulang. Kau, perlu istirahat. Olin akan menjagamu." ujar Reza.


Reza membawa mobilnya sendiri. Sementara Farhan, Ia minta untuk menjemput Mama Ayu. Dan Papa Erland, sementara harus turun tangan mengurusi kericuhan yang kembali datang.


"Tolong, Om. Syifa down, jadi Reza harus membawanya pulang."


"Baik, Za. Tolong, jaga dia baik-baik. Bila perlu, bawakan dokter keluarga untuknya." pinta Papa Erland.


Reza hanya meng'iyakan. Ia menyetir mobilnya dengen kencang, sembari terus memperhatikan Hp nya. Ia berharap, akan ada kabar selanjutnya akan Bagas. Entah dari polisi, atau dari penculiknya.


" Sayangnya... Dalam kondisi seperti ini, aku tak bisa ke rumah Papa. Aku, hanya ingin memastikan jika bukan Ia pelakunya." batin Reza, yang kian semrawut rasanya.


Tiba di rumah, mereka di sambut oelh Mama Ayu yang tak kalah cemasnya. Apalagi, menatap Syifa yang begitu lemah hingga harus di gending oleh Reza.


" Fa... Bangun, Nak." bujuk Mama Ayu.


" Tante... Reza pamit ke kantor. Reza titip Syifa, Olin akan bantu Tante disini."


"Olin?" tanya Mama Ayu.


"Bu, saya Olin. OB baru di kantor." sapa Olin, mencium tangan Mama Ayu dengan ramah.


Reza kembali pergi. Sepanjang jalan, Ia hanya memikirkan Bagas dan Papanya. Setidaknya Syifa aman, karena berada di rumah dengan orang-orang kepercayaan. Apalagi, Ayah dan Ibunya juga akan datang kesana.

__ADS_1


__ADS_2