
"Kenyang." ucap Syifa.
"Ini, masih banyak. Gimana?"
"Makanya, kalau pesen makanan di kontrol. Segini banyak cuma berdua loh. Bungkus aja deh."
"Iya, jangan ngomel mulu, ih." colek Bagas di hidung Syifa.
Bagas memanggil Bimo, membayar dan meminta sisa makanan mereka dibungkus rapi. Kemudian, mereka beranjak pergi dari tempatnya dan pulang.
"Tadi, ada Luna." ucap Bagas.
"Terus?"
"Ngga papa, kasih tahu aja."
"Oh...." jawab syifa tanpa ekspresi.
"Ngga cemburu?"
"Engga.... Ngga ganggu 'kan?" tanya Syifa, dibalas anggukan Bagas.
Bagas hanya memicingkan mata, menatap wajah sang istri yang memang sudah tak se cemburu kala itu, yang bisa melirik hanya dengan mendengar nama Luna di telinganya.
"Bukan ngga cemburu, tapi sudah terlalu terbiasa. Mas Reza bilang, kalau nanti akan banyak wanita di sekeliling Mas. Apalagi, kalau sudah sembuh dan benar-benar aktif di perusahaan."jawab Syifa.
Tatapan tajam kembali Bagas berikan. Apalagi, ketika Syifa memberikan ekspresi, seolah Ia pasrah menerima keadaan.
__ADS_1
Tak lama perjalanan, mereka telah tiba di rumah. Syifa membawa masuk suaminya, dan farhan membereskan mobil dengan semua barang yang ada.
"Ifa... Bener-bener ngga cemburu?" tanya Bagas lagi.
"Eh? Kok lanjut." kaget Syifa yang tengah mempersiapkan obat.
"Begini, suamiku. Setiap pekerjaan itu, ada faktor resikonya. Seperti Ifa, yang ternyata menikahi seorang Bos besar, pawaris Nugraha's Company. Diluar bakal ada banyak pertemuan. Ngga mungkin Ifa kontrol mau ketemuan sama siapa, atau ngga ngebolehin kalau ketemu sama client cewek 'kan?"
Bagas mengangguk, sembari menelan obat yang di suapkan sang istri.
"Tapi... Ada syaratnya."
"Hah, apa?"
"Kalau Mas udah kerja, Ifa balik ke Rumah Sakit, ya? Ifa ngga mau, cuma diem di rumah dan ngga ngapa-ngapain."
" Tidak... Jangan! Jangan, Fa." tolak Bagas.
"Mass... Kenapa jangan? Kan biar ada kegiatan."
"Aaash... Pokoknya jangan. Bila perlu, Aku akan memohon padamu, agar kamu tak kembali kesana."
Syifa hanya menatap. Matanya nanar, dan tampak begitu sedih. Wajar saja, karena memang itu cita-citanya sejak kecil.
Bagas menatapnya lagi. Hatinya benar-benar tak dapat menatap mata sang istri dalam keadaan seperti itu. Akhirnya, Ia merentangkan tangan untuk memeluknya.
"Ifa tahu 'kan, alasan kita di nikahkan?"
__ADS_1
Syifa mengangguk.
"Ya, kita dinikahkan, agar kamu dapat merawatku dengan baik tanpa terhalang gender. Nah, mendengar kamu ingin memandikan Reza saja rasanya sudah tak karuan. Apalagi, membayangkan kamu menyentuh bsnyak pria disana."
"Iya.... Maaf." ucap Syifa. Bagas mengusap lembut rambutnya, lalu merebahkan diri untuk istirahat. Sedangkan Syifa, mulai asyik dengan Hpnya lagi.
***
"Permisi, Pak. Saya mau izin untuk membersihkan ruangan." pamit Olin, yang masuk ke ruangan Reza.
"Kenapa jam segini?" tanya Reza, bernada jutek sembari menatap jam tangannya.
"Ma-maaf... Memang jam segini harusnya, untuk membersihkan ruangan. Bukankah, ini jadwal para karyawan pulang?" Olin merasa gugup, melihat ekspresi Reza yang tampak terganggu.
"Kamu tahu? Saya bukan karyawan?"
"Sangat, tahu, Pak."
"Maka saya bebas, pulang jam berapapun saya mau. Lagipula, pekerjaan saya lebih banyak dari mereka."
"Ma-maaf, kalau begitu... Saya permisi dulu. Takut mengganggu." ucap Olin, tampak begitu sedih karena pekerjaannya harus tertunda.
"Kamu tahu, kamu mengganggu saya. Ya, benar kamu mengganggu. Apakah kamu tahu, bagian mana yang mengganggu?" tanya Reza, dan Olin hanya menggeleng sedih.
"Disini... Dan disini." ucap Reza, menunjuk mata dan dadanya.
"Kamu mengganggu mata saya. Karena ketika kamu dekat, saya akan langsung kehilangan fokus. Dan hati, kamu mengganggu hati saya. Karena ketika saya ingat kamu, bahkan mata saya tak dapat terpejam, meski saya begitu lelah dan mengantuk." ucap Reza.
__ADS_1
Mungkin bagi sebagian wanita, itu akan membuat hatinya berbunga-bunga. Tapi tidak bagi Olin. Ia hanya memicingkan mata, dan meminyirkan bibirnya. Menatap aneh pada Reza yang sudah totalitas dalam rayuannya.