Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Subhanallah, Cantiknya!


__ADS_3

"Jadi, uang ini boleh Syifa pakai buat apapun?"


"Kamu kenapa nanya lagi? Kalau udah buat kamu, ya kamu bebas pakai lah. Shoping, nyalon, apapun itu." jawab Mama Ayu, dengan nada judesnya.


"Engga... Ngga mau itu. Syifa kan ngga bisa pergi juga." jawab syifa, sembari membayangkan sesuatu untuk esok hari.


"Mau apalah, anak ini? Aneh." gumam Mama Ayu dalam hati.


Papa Erland datang. Dengan wajahnya yang segar, dan rambutnya yang tampak basah, begitu mempesona di usianya yang kepala Lima itu.


"Seusia Ayah, mungkin. Tapi, bedanya jauh. Apa karena, Ayah pekerja kasar?" batin Syifa.


"Bagaimana, Fa? Sudah sembuh dari alerginya?"


"Hehe, lumayan, Pa. Mungkin besok sudah kempes bengkaknya. Ini juga, udah ngga gatel lagi kok." jawab Syifa.


Papa Erland mengangguk, lalu memulai makan malamnya setelah Mama Ayu menuangkan nasi di piring mereka.


Dan seperti biasa, Syifa terlebih dulu menyuapi Bagas dengan makanannya. Begitu telaten, dan bagas memang begitu nyaman dengan nya. Mama dan Papa hanya bisa memperhatikan mereka dengan senyum, faham dengan keadaan yang manis itu.

__ADS_1


"Udah, Mas?" tanya Syifa, dan Bagas mengangguk.


Syifa kemudian memakan makanannya. Tampak menikmati, meski sudah dingin.


"Itu dingin, ganti aja sama yang baru." ucap Mama.


"Terus, yang ini dikemanain, Ma? Dingin pun masih enak. Diluar sana, makanan dingin pun kadang susah di dapat. Malah makan yang udah ngga layak, asal bis ganjel perut. Masih enak, kalau pun dingin tapi makan dengan menu lengkap." ucap Syifa, yang bicara sambil mengunyah.


" Makan itu makan dulu, jangan makan sambil ngomong."


"Lah, Mama nanya Ifa pas lagi makan. Nanti pas ngga di jawab cepet, katanya aku ngga patuh."


Makan malam selesai, Mama, Papa dan Bagas duduk di ruang santai sembari menonton tv. Meski tv tersebut, hanya untuk mengisi suara ruangan yang hening.


Bagas duduk menyandar di sofabed, berbantal lengan Mama Ayu. Ia terlihat seperti anak yang sedang bermanja dengan Mama dan Papanya, meski sebenarnya Ia tak pernah semanja itu. Ia selalu di didik keras, terutama oleh Kakeknya semasa hidup. Karena dari awal, Ia lah yang diharapkan menajadi pewarisnya esok hari.


"Kamu nyaman seperti ini, sayang? Kita begitu jarang seperti ini, karena Kakek mengambilmu di usia manja mu." ucap Mama dengan membelai rambut anaknya.


"Nyaman, Ma... Begitu hangat. Tapi aku mneghayalkan Syifa yang melakukan ini padaku." batin Bagas.

__ADS_1


"Cieeee, Bagas sedang bermanja." ledek Reza yang datang.


"Za, sudah datang? Ayo masuk ke ruang kerja Om." ajak Papa Erland.


"Iya, Om... Sebentar, mau ngobrol dulu sama Bagas." jawab Reza.


Bagas mulai kusut mentap Reza. Ia yang datang dan selalu meledek Bagas, membuatnya kesal. Apalagi, ketika Ia akrab dengan Syifa.


"Bini loe mana, Bro? Kok tumben, Loe sama Mama?"


"Di kamar, lagi shalat Isya. Syifa rajin shalatnya, meski nyuri waktu dari Bagas yang sulit ditinggal." jawab mama Ayu dengan ramah.


"Katanya alergi? Jadi penasaran lihat mukanya, pasti lucu." gemas Reza. Daj Bagas hanya menatapnya dengan. Mata setengah memejam, menahan gerutuan yang ingin meledak dalan hatinya.


"Eh, Mas Reza dateng." sapa Syifa yang keluar dari kamarnya.


Ia membawa nampan obat, dan masih menggunakan mukenah berwarna putihnya. Selaras, dengan wajahnya yang memang bersih, dan begitu cerah dengan bibirnya yang pink alami.


Kedua pria itu mengarahkan pandagangan fokus padanya. Meski, Bagas sudah sering melihat Syifa begitu, namun kali ini seperti berbeda.

__ADS_1


"Subhanallah, cantiknya." celetuk Reza pada Syifa, membuat Bagas semakin meradang...


__ADS_2