
Seminggu setelah sembuh nya Reza. Ia telah ceria seperti biasa, dan bekerja keras seperti sedia kala. Apalagi, ketika pemandangan indah selalu menyambutnya disana.
"Pagi banget? Tumben?" tanya Syifa, yang masih menyisir rambut Bagas di kamarnya.
"Iya lah, sekarang kan udah ada temennya di kantor."
"Siapa?" tanya Bagas, memicingkan mata.
"Ada deh.. Makanya ke kantor, nanti. Ketemu." ajak Reza.
"Udah, paling males sama sebuah teka-teki absurd seperti ini." keluh Bagas.
Reza lalu meraih kursi roda Bagas, dan membawanya ke ruang makan sementara Syifa membersihkan diri.
"Siapa?" tanya Bagas lagi.
"Si Rambut Emi... Dia, kerja jadi OB disana. Ngga papa 'kan?"
"Dia masuk sendiri, atau karna loe?"
"Di-dia daftar sendiri, tes sendiri, dan semua sendiri. Sumpah, gue ngga ada campur tangan."
"Hmmmmm." jawab Bagas, singkat.
__ADS_1
Mama dan Papa telah datang, hanya tinggal menunggu Syifa. Mereka pun mengobrolkan mengenai perusahaan di meja makan. Wajar, karena memang mereka tak mempunyai banyak waktu bersama.
Cliiiing....! Hp Reza berbunyi. Ia melihat isi pesan, dan memberitahukannya pada Bagas.
"Loe, diminta kekantor." ucap Reza.
"Siapa yang meminta?"
"Katanya, atas permintaan para anggota Dewan perusahaan. Mereka, membawa dokter dan ingin memeriksa secara langsung."
"Dengan kata lain, ada yang meragukan tentang kondisiku." jawab Bagas, tampak tenang.
"Ya, terakhir mereka membahas kau yang bisa berbicara. Meski ku bilang belum lantang."
Syifa pun datang. Ia langsung duduk dan menjalankan rutinitasnya seperti hari biasa. Baginya, Bagas tak manja. Tapi Ia tahu jika mereka hanya memanfaatkan moment, yang mungkin sebentar lagi akan hilang.
" Biar Mas makan sendiri. Ifa cepat makan, lalu kita bersiap ke kantor." ucap Bagas, meraih piring nasinya.
Syifa hanya mengangguk, dan menyantap sarapannya dengan cepat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun..
Mama, Papa dan Reza pamit. Tinggal Bagas dan Syifa yang mengganti pakaian mereka di kamar. Syifa memakaikan Bagas pakaian formalnya, dengan jas dan celana yang serba hitam. Tak lupa, sepatunya yang menambah elegan penampilannya saat ini.
Syifa mengenakan dress hitam, senada dengan Bagas. Tampilannya cassual, dengan segala accesoris cantik yang Ia pakai. Rambutnya di ikat rapi, tapi Bagas membukanya.
__ADS_1
"Lah, kenapa ngga boleh iket rambut?" protes Syifa.
Bagas hanya diam. Ia menunjuk beberapa bekas kissmark hasil pertarungan mereka tadi malam.
"Makanya, jangan asal gigit." omel Syifa.
"Tapi kamu suka?" goda Bagas. Syifa hanya menggigit bibir, pipinya memerah seperti tomat matang yang begitu ranum.
"Udah ih, malah bahas itu." sergahnya.
Bagas nembalas senyum istrinya. Ia pun tampak begitu bahagia, karena perlahan semuanya membaik. Hanya tinggal menunggu waktu, kakinya bisa menapak, dan akan segera dapat berjalan menghampiri Syifa dimanapun Ia berdiri.
Mereka keluar, Farhan pun menghampiri untuk mengambil alih Bagas dan kursi rodanya. Ia pun naik, dan membawa kedua majikannya itu menuju perusahaan besar mereka.
***
"Bagas, tak bersama kalian?" tanya salah seorang anggota dewan.
"Tidak... Dia sebentar lagi datang. Persiapkan saja ruangan, dan dokter yang kalian pilih. Bagas siap, dengan segala tes yang ada." jawab Mama Ayu yang kesal.
Mereka hanya mengangguk, dan kemudian masuk ke sebuah ruangan yang telah di persiapkan.
Entah siapa yang mempengaruhi, sampai mereka tiba pada titik curiga, jika Bagas hanya bersandiwara. Ataupun, banyak kesembuhan yang Bagas alami, tapi Ia masih diam saja. Karena bagi mereka, sesakit apapun Bagas, Ia harus tetap kuat dan memimpin perusahaan langsung.
__ADS_1
Dan bagi yang memanfaatkan keadaan, maka itu akan menjadi jalan untuk menggeser posisi Bagas, karena jika Bagas berbohong, maka akan dikenakan sanksi yang begitu tinggi oleh semua orang.