Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Kasihan Gibran


__ADS_3

Ibu Mariam beralih pandang ke Bagas. Menantu nya yang duduk tenang di kursi roda, yang bahkan tak dapat meraih dan mencium tangannya. Sedih, iba, apalagi membayangkan Syifa yang herus mengurusnya sendiri setiap hari.


"Fa, ini?"


"Ya, Mas Bagas. Ibu baru bertemu lagi dengan dia, selama beberapa bulan ini 'kan?" ucap Syifa.


Bagas tersenyum. Ia berusaha menggerakkan tangan nya untuk mencium tangan sang mertua. Ibu Mariam pun sampai terharu melihat kesungguhan hati menantu nya itu.


" Ya Allah, Bagas. Iya, saya Ibu mertua kamu, Nak. Ini Ayah mertua, dan ini adik ipar kamu, Gibran." tunjuk Bu Mariam Satu persatu.


Gibran pun menyapa dengan ramah, lalu meraih tangan Bagas dan mencium nya, tanpa rasa sungkan sama sekali.


"Udah udah... Sesekali bertamu kok sedih gini. Ayo masuk, Ibu nginep 'kan? Syifa anter ke kamar." ucap Syifa, berusaha mencairkan keadaan.


Mereka pun berjalan menuju kamar tamu, yang letaknya bersebelahan dengan kamar Bagas dan Syifa di lantai bawah. Syifa belum berani menyentuh kamar atas hingga kini. Ia masih sungkan, jika bukan Mama Ayu sendiri yang mempersilahkan nya.


Syifa membuka pintu kamar itu, dan mempersilahkan mereka masuk. Bagas pun tak pernah tertinggal, selalu ada di samping Syifa.


"Fa, kamarnya besar sekali? ini sepertinya, seluas Rumah kita." kagum Bu Mariam.


"Iya, kamar disini emang luas semua. Syifa aja, mau keliling rumah takut nyasar, Bu." jawab Syifa.


"Kamu... Nyaman disini, Nak?" tanya Pak Abu.


"Nyaman, Yah. Mereka semua baik dan ramah." jawabnya lagi.

__ADS_1


Bukan hanya Ibu dan ayah yang tampak tercengang. Gibran pun juga begitu. Ia begitu takjub dengan apa yang Ia lihat, bahkan sesekali mengambil foto dengan Hp nya yang tampak jadul.


"Astaga, Gibran. Sesulit itukah hidup kalian? Ku kira, Hp Syifa sudah sangat jadul. Ternyata, Hp adiknya lebih dari itu." gumamĀ  Bagas dalam hati.


Tak ingin berlama-lama di sana, Bagas menarik lengan Syifa.


"Iya, Mas? Mau balik ke kamar?" tanya Syifa, dan Bagas hanya mengangguk.


Syifa lalu berpamitan pada kedua orang tuanya, dan meminta mereka agar beristirahat.


"Anggap aja rumah sendiri. Kalau ada apa-apa, panggil Syifa atau Bik Darmi dibelakang." ucap Syifa, lalu meninggalkan mereka pergi.


"Yah, Syifa dapat suami kaya raya."


"Iya, Bu. Kabarnya, beliau pewaris utama Nugraha's company." jawab Pak Abu.


"Sudahlah, jangan terlalu banyak mengomentari keadaan. Syukuri jika Syifa tampak bahagia, doakan dia ketika tampak lelah."


"Yah, yang Gibran tahu, kelumpuhan yang dialami Kak Bagas itu susah sembuhnya. Bahkan, banyak yang mengatkan ngga bakal sembuh." sahut Gibran.


"Doakan yang terbaik, Gibran. Kita ngga ada yang bisa menerka takdir mereka. Meski Ayah tahu, kamu lelah, Syifa."


Keluarga itu lalu merebahkan diri, menikmati rasanya kasur yang empuk dan begitu nyaman.


***

__ADS_1


"Kenapa, Mas?" tanya Syifa.


"Fa, uang yang Aku kasih ke kamu... Pakailah."


"Buat apa? Syifa belum merasa perlu membeli sesuatu. Keluar aja kan ngga bisa, Mas."


"Belikan Hp buat adikmu. Mas ngga tega lihat Hpnya. Di usia seperti itu, apalagi dalam keadaan seperti ini, dia butuh yang lebih canggih, Fa."


Syifa duduk, menggigit bibir sembari berfikir.


"Keluar aja ngga bisa loh, Mas. Jauh mau ke toko Hp."


"Belanja Online, Fa.... Masa ngga bisa?" tegur Bagas.


"Ifa trauma belanja online. Kadang yang dipesen gimana, datengnya begitu. Mana ini barang mahal 'kan?"


Bagas menghendus nafas panjang. Antara kesal, dan gemas dengan istrinya itu. Tangannya pun begitu ingin mencubit nya lagi.


"Ambil Hpku." himbau Bagas.


Syifa mengambilnya, lalu membuka dan memperlihatkna pada Bagas. Dengan tangan gemetar, Bagas menunjuk aplikasi yang biasa untuknya berbelanja online. Dan dia memilih Dua buah Hp untuk Ia belanjakan.


"Sudah, tinggal tunggu barangnya datang." ucap Bagas.


Syifa menatap layar, lalu begitu terkejut ketika melihat total belanjanya.

__ADS_1


"Apa!! Sepuluh Juta? Hp macam apa ini?"


"Dua Hp, sekalian buat kamu." balas Bagas.


__ADS_2