
"Apa yang kalian lakukan!" teriak Bagas, yang sudah terlalu emosi saat ini. Bahkan, Syifa pun begitu takut untuk menenangkannya.
"Mas?" lirih Syifa, yang menatap nanar suaminya.
Reza menarik Syifa dari posisinya. Membawanya dekat dengannya dan Olin.
"Biarkan dulu, Fa. Tenanglah. Jika kau menangis, maka Bagas akan semakin emosi." lirih Reza.
Viona melangkah mendekatinya. Tertawa dengan segala rasa puas di hatinya. Menatap Bagas, dengan tatapan penuh benci dan dendam kesumat yang Ia pendam selama ini.
"Benar kata orang. Se arogan apapun dirimu, pasti akan lemah ketika telah bersama seorang wanita. Semua begitu, termasuk sepupuku yang gila itu. Makanya, ku buat Dia berpisah dengan wanitanya."
"Kau? Kau membunuh Ibuku! Biadab!" pekik Reza.
"Tak berniat membunuh, tapi ternyata dia lemah." imbuh Viona..
__ADS_1
"Apa saja yang telah kau lakukan, pada keluarga kami?" tanya Bagas, masih berusaha menahan emosinnya.
"Tak ada... Hanya membuatmu kecelakaan, tapi kau masih selamat. Korupsi di perusahaan itu aku dan suamiku. Menggelapkan aset itu tugasku. Kau tak tahu 'kan? Terlalu percaya dengan sebuah kata keluarga. Padahal, sama saja. Bahkan aku tak pernah menganggapmu keluarga sama sekali."
"Kak Reza tahu? Kalau Om Edward itu jadi bahan percobaan Obat yang Farah buat. Obat penenang fikiran, tapi pada akhirnya, obat itu malah menghilangkan ingatan. Uuuh, kasihan Om Edwardku, sekarang jadi gila." sambung Farah, yang bangga dengan aksinya.
"Dan sekarang! Akhirnya, aku merusak semua acaramu. Acara pesta pernikahan megah, yang kau idamkan dengan rencana yang matang. Pesta idaman istri tercintamu. Tapi sayang, Mama dan Papamu tak ikut memakan semua racun yang ku sediakan." ucap Viona.
"Jadi, kau merencanakan semua ini dengan matang? Meracuni semua tamuku, dan berharap seluruh keluargaku mati?" tanua Bagas, dengan senyum simpul di ujung bibirnya.
"Ya... Kau hebat, bisa menyadarinya secepat itu. Dan lagi, racun di minuman yang kau habiskan. Itu sangat mematikan. Kenapa, kau bahkan belum pingsan?" tanya Farah pada Bagas. Karena dia lah yang meracik racun itu sendiri.
"Ya, harusnya begitu. Dimana mereka? Harusnya mereka ikut mati bersama kalian!" teriak Viona, yang mulai histeris.
Sebuah besar layar datar, turun dari langit-langit rumah besar. Bagas langsung meraih remote, dan memencet untuk menghidupkan tv nya.
__ADS_1
Tampak jelas terpampang. Kondisi mereka di dalam ruangan itu. Semua yang pingsan, Viona dengan tatapannya yang penuh tanya.
"A-apa maksudnya?" tanya Viona.
"Selamat... Kau telah membuat pengakuan di depan publik, jika kau lah dalang dari semua ini. Dan bahkan, kau telah mengakui jika kau berencana membunuh semua orang disini." ucap Bagas, dengan senyumnya yang lebar.
"A-apa maksudmu? Kau menjebakku? Beraninya kau!" pekik Viona yang mulai ketakutan.
Layar berubah, menjadi sebuah latar yang berbeda. Ada Mama Ayu dan Papa Erland di sana, beserta polisi yang menyaksikan semua kejadian secara live. Tak hanya mereka, bahkan tersiar di seluruh tv yang yang di kota itu.
"Selamat Viona. Kau telah membuat pengakuan untuk segala kejahatanmu sendiri." ucap Mama Ayu, yang tampak begitu puas kali ini.
"Ti-tidaaaaak! Tidak bisa begini. Kenapa begini?"
"Kau terlalu meremehkan Aku, Tante. Padahal, selama ini kita dekat. Tapi, kau tak pernah memahami aku bagaimana." ucap Bagas.
__ADS_1
Semua tamu yang pingsan, terbangun kembali dan merapikan diri mereka masing-masing. Sebagian dari mereka, menghampiri Viona dengan pistol di tangannya. Mereka adalah polisi, yang dikerahkan untuk melindungi jalannya pesta itu.
" Dengan semua pengakuan itu... Anda akan di hukum begitu berat. Apalagi, semua telah terrencana dengan baik." ucap salah seorang polisi, yang memborgol tangan Viona.