
"Lah, kok begitu?" tanya Bu Mariam, kaget.
"Ngga papa, pengen aja. Dekat sama Ibu, Ayah, dan Gibran, serasa dekat dengan keluarga yang sesungguhnya." jawab Reza.
"Emangnya, kalau di rumah sama Mas Bagas dan Ifa, ngga kayak keluarga sesungguhnya?" tanya Syifa yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
Reza terkejut, dan langsung diam seketika. Apalagi, ketika Syifa menghampirinya dengan tatapan yang menakutkan.
"Lama-lama, Syifa makin mirip Bagas." batin Reza.
"Coba ngomong, kenapa pengen pergi?" tanya Syifa lagi, bernada galak.
"Kadang, Aku rindu Mama. Kadang juga, aku rindu Papa meski Papa sejahat itu. Om Erland, dan Tante Ayu, sudah ku anggap seperti Papa dan Mama ku sendiri. Tapi, rasanya beda. Tak seperti, ketika bersama Ayah dan Ibu." jawab Reza.
"Kondisi masih belum kondusif. Pulang aja kerumah kami, sampai semua aman. Ifa ngga mau, Ayah dan Ibu ikut terseret dalam kasus ini." jawab Syifa.
"Baik, Fa. Maaf, telah membuatmu sedikit marah dengan ucapanku."
"Engga, Ifa ngga marah. Ifa hanya mengingatkan. Ayo, siap-siap. Ayah udah nunggu di depan." ajak Syifa.
Mereka beranjak, lalu Syifa menarik kursi roda yang tersedia di belakang pintu.
"Fa... Aku bisa jalan sendiri, kok. Ngga perlu pakai kursi roda."
"Ya, Ifa tahu."
__ADS_1
"Terus, kursi rodanya buat apa?" tanya Reza.
"Buat, taro barang Ibu. Kasihan, bawanya ribet, mana banyak." jawab Ifa santai, dengan menyusun barang-barang di kursi roda itu.
"Astaga... Memang mereka Satu jiwa Dua raga." batin Reza lagi.
Syifa mendorong kursi rodanya, Bu Mariam menggandeng Reza hingga keluar Rumah sakit.
Reza tercengang, karena melihatnya banyak penjagaan yang di kerahkan untuknya. Bagas memang tak main-main, untuk melindungi keluarganya agar selalu aman, ditengah kondisi seperti ini.
"Terimakasih, Gas. Dan maaf, untuk yang telah terjadi." sesalnya.
Mereka telah tiba di mobil, Farhan dengan cekatan membantu untuk memasukkan semua barangnya.
"Eh, Nak Farhan. Kerasan, kerja sama Ifa?" sapa Bu Mariam, ramah.
Bu Mariam tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil dan ikut pulang ke rumah Bagas. Ia sengaja libur, untuk membantu Syifa pindah kamar hari ini. Dan Pak Abu, berjanji akan memijat Reza untuk tubuhnya yang pegal dan nyeri.
" Kamu yakin ngga mau rehab?" tanya Reza.
"Engga. Itu kamarnya bagus. Ngga usah mikir mantan, Mas Bagas aja udah lupa." jawab Syifa.
"Ngga cemburu?"
"Kalau sama Luna, engga. Buat apa? Dia udah punya suami. Tapi, kalau macem-macem sama yang lain, awas aja." toleh Syifa kearah Reza, sembari mengepalkan tinjunya.
__ADS_1
Gleeeekkk! Reza menelan salivanya.
"Gas... Pawangmu, seram sekali rupanya." batin Reza.
Perjalanan berlanjut. Dan seketika, Reza teringat akan Olin. Rambut keritingnya, matanya, dan senyumnya. Tiba-tiba pun, Ia merindukan Olin dalam hatinya. Meski sempat bertanya-tanya, kenapa Olin tak mengunjungi, tapi Ia berusaha sadar diri jika Ia bukan siapa-siapa bagi gadis itu.
"Olin... Sesulit itukah, meraih hatimu? Apa yang salah? Bahkan hanya sekedar merayu pun, tak pernah ada tanggapan meski hanya senyuman."
***
"Selamat siang, Pak Bagas?" sapa Olin, yang tengah membersihkan lorong tepat di ruangan Bos besarnya itu.
"Siang, Olin. Kamu sehat?" sapa Bagas, ramah.
"Sehat, Pak. Bagaimana, dengan......" tanya Olin dengan ragu, hingga memotong ucapannya sendiri.
"Reza?"
Olin hanya mengangguk malu.
"Reza baik. Hari ini, Syifa menjemputnya pulang. Jika mau, kamu boleh menjenguknya di rumah." ucap Bagas.
"Hmm, saya... Sungkan." jawab Olin, sembari memainkan kakinya di lantai.
Bagas tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya sembari tertawa. Ia tahu, ada rasa di hati Olin. Tapi, masih ada yang menghalangi mereka untuk saling bertemu rasa.
__ADS_1
Part Bonus buat kalian. Semoga suka😍😍😍
Kalian maunya gimana? Mau lanjutin kisah Zaolin disini, apa dibuatin kisah sendiri di karya baru? Vote ya.. 😘😘😘