Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Kamu bagaikan candu untukku.


__ADS_3

"Apa maksud Mama barusan? Mendukung apapun yang terbaik untukku? Apa Mama tahu perasaanku pada Syifa?"


"Mas, kok ngelamun?" tegur Syifa, yang membawakan baki obat untuknya.


Bagas hanya menggeleng, karena ada Bik Darmi di sana. Syifa pun mulai menyuapkan beberapa obat untuk Ia minum pagi ini.


"Fa...?"


"Ya, kenapa?"


"Mau ke kamar mandi." pinta Bagas dengan sedikit malu-malu.


"Owh, iya...." jawab Syifa.


Ia lalu memanggil Minah untuk membereskan bekas obat tadi, Karena Mama Ayu tak menyukai sesuatu yang berantakan.


Syifa mendorong kursi roda Bagas, membawanya ke kamar dan memindahkan ke kursi roda khusus di kamar mandi. Ia dengan sabar menunggu, berdiri dengan memegang tangan Bagas yang refleks menggenggam ketika sedang fokus dengan konsèntrasi nya.


Syifa tersenyum geli melihat ekspresinya.


Selesai dan mereka keluar dari kamar mandi. Syifa membereskan tempat tidur yang berantakan, karena Tadi keburu ditunggu Mama di ruang makan. Seetelah itu, Syifa meraih kursi dan duduk tepat di belakang Bagas.


Syifa meraih lengan Bagas dengan lembut dari belakang, membelai nya beberapa kali dan memijat nya. Terasa hembusan nafas Syifa, tepat ditengkuk leher Bagas. Jantungnya berdetak kencang, darahnya berdesir, bulu kuduknya berdiri. Semua rasa semakin menjadi tak karuan dan sulit tertahan.


"Mas, kok merinding?" tanya Syifa.

__ADS_1


"Ya, kamu disitu. Itu area sensitif, jangan buat kepancing."


"Mas, kalau Mas terpancing, itu tandanya bagus buat sensoriknya."


"Iya, kalau cuma bulu kuduk sama spot jantung masih mending, Fa. Tapi kalau yang lain, gimana cara nenanginnya?"


Tubuh Syifa spontan mundur. Ia menepuk pundak Bagas karena kata-kata yang menurutnya terlalu jujur itu.


"Mas, ih..."


"Lah, kenapa? Normal 'kan?" balas Bagas.


Canda dan tawa mengiringi pagi mereka kali ini. Meski Bagas belum dapat tertawa lepas seperti seharusnya. Syifa pun tak menghentikan kegiatannya memijat lengan Bagas yang meski kecil tapi berotot itu.


"Aaakkh..." lirih Bagas, yang merasa sesdikit nyeri di bagian sendi.


"Besok-besok, Ifa akan lebih sering pijetin kayak gini." ucap Syifa.


"Pakai pembukaan kayak tadi ngga?"


"Ih, maunya."


"Kan katanya butuh rangsangan."


"Jangan sering-sering lah, takut." jawab Syifa.

__ADS_1


Semua tahap harus di lewati perlahan. Tak ada yang instan dalam proses penyembuhan ini. Bahkan sebuah keajaiban puh, tak serta merta dalam sekejap membuat Bagas sembuh dari sakitnya.


Awalnya suara meski masih terbata. Lalu tangan yang mulai dapat menggenggam meski belum kuat sempurna. Lengan yang kini di usahakan, hingga suatu saat kaki akan dapat menapak lagi dan berjalan dengan sempurnanya.


Syifa lama-lama menjadi candu untuk Bagas. Bahkan tak dapat di bayangkan oleh Bagas, bagaimana jika Syifa pergi dari sisinya.


"Tidak, kamu tidak boleh pergi. Bagaimana pun caranya. Aku tak akan bisa tanpamu."gumam Bagas.


" Siapa yang pergi?" tanya Syifa.


" Ah, tidak... Bukan siapa-siapa. Fa, sore ini ke taman, yuk? Aku bosan di rumah."


"Emang boleh? Nanti ngga diizinin sama Mama? Mama ngga percaya loh, kalau Aku ngomong Mas yang mau."


"Boleh... Aku ingin udara segar."


"Baiklah... Apapun itu." jawab Syifa.


Bagas memejamkan matanya sejenak. Ia masih rutin meminum obat pereda nyeri, yang efeknya mengantukkan mata. Syifa masih duduk di samping ranjang, memperhatikan wajah sempurna Bagas, dan sesekali mencolek-colek pipinya. Jarinya pun bergerilya hidung yang mancung itu dengan gemas.


"Tak pernah ku bayangkan, akan menjadi istri pria tampan sepertimu. Meski dengan kondisi seperti ini, tapi gantengnya ngga luntur, astaga." lirih Syifa dengan wajah yang menggemaskan.


Mata Bagas hanya terpejam, tapi belum sepenuhnya tidur. Ia hanya tertawa dalam hati dengan kelakuan konyol istrinya itu. Ia pun gemas, tapi Ia harus menahan semuanya karena belum dapat melakukan apapun.


" Awas kamu. Lancang mencolek-colek pipiku? Kamu akan dapat balasan dariku nanti." batin Bagas.

__ADS_1


__ADS_2