
Syifa telah selesai dan keluar dari kamar mandi. Ia hanya memakai handuk yang melilit dada hingga lutut, serta rambutnya yang basah tengah Ia urai dan Ia keringkan dengan handuk kecil di depan kaca. Tampak bahunya yang putih mulus, serta leher nya yang jenjang dan begitu indah di mata Bagas.
Gleeeekkkk! Bagas meneguk salivanya.
Berpacaran dengan Luna Lima tahun, benar-benar baru kali ini Ia melihat itu meski tak polos. Meski berkali-kali mereka nyaris terjebak dalam situasi yang kotor, tapi Bagas selalu bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Ah, kenapa rasanya aneh?" batin Bagas, yang merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya. Bahkan, tanpa sadar keringat keluar dari dahinya.
Syifa menghampiri Bagas setelah berpakaian lengkap dan rapi. Lalu mendorong kursi rodanya menuju meja makan. Mama Ayu sudah menunggu, disana.
" Pagi, Ma..." sapa Syifa.
Ia berusaha bersikap seolah tak terjadi apapun semalam.
"Hey, pagi..." jawab Mama Ayu dengan senyum ramahnya.
Syifa duduk, lalu Bagas di sebelahnya seperti biasa. Ia mengambilkan makanan untuk Bagas, tapi meletakkan sendok agak jauh darinya.
"Mas... Ambil sendoknya." pinta Syifa.
"Fa... Jangan aneh-aneh. Segera suapi Bagas, ini sudah waktunya makan." tegur Mama Ayu.
"Ayo, Mas... Ambilin sendoknya, please." mohon Syifa dengan wajah manisnya.
Bagas berusaha kembali mengangkat tangannya. Gemetar, tapi tetap terus Ia angkat meski begitu sulit baginya.
__ADS_1
"Ifa... Kamu keterlaluan maksa Bagas begitu. Turunin tangan Bagas sekarang! Biar Mama yang suapin dia kalau kamu bosan." sergah Mama Ayu, yang mulai tampak emosi.
Namun, wajahnya seketika berubah ketika melihat tangan Bagas telah diatas meja. Merayap jari demi jari menghsmpiri sendok yang di pinta Syifa. Mama Ayu memperhatikan dengan seksama, bahkan tanpa mengedipkan mata. Berharap, semua yang dilihatnya bukan hanya ilusi semata.
"Bagas... Bagas bisa angkat tangan? Bagas bisa pegang sendok? Bagas... Bagas Mama bahagia banget." haru Mama Ayu, lalu menghampiri sang anak dan memeluknya.
Dalam dekap sang Mama, Bagas berusaha memberikan sendok itu pada Syifa, meski genggamannya tampak begitu rapuh. Nyaris jatuh, tapi Syifa menangkap sendok itu.
" Fa, sejak kapan Bagas bisa menggerakkan tangannya?" tanya Mama Ayu.
"Sudah mulai Dua hari ini. Maaf, Syifa baru kasih tahu." jawab syifa.
Mama Ayu menangis, bersyukur atas apa yang Ia lihat. Bagas berusaha mengusap air matanya, lalu tangan Mama Ayu kembali meraih dan menggenggamnya erat.
"Papa, dan semua orang pasti senang mendengar kabar ini, sayang."
"Ngga boleh, kasih tahu orang lain?"
Bagas mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah, apapun untuk Bagas. Kita sarapan dulu, Mama mau pergi lagi. Maaf, kamu harus kembali bersama Syifa."
Mama Ayu kembali ke kursinya, lalu menghabiskan sarapan sembari menatap Bagas dan Syifa. Mereka begitu ceria dengan canda dan tawa yang tak lagi sungkan seperti dulu.
" Apa kalian serius kali ini? Kalian, saling mengisi satu sama lain." tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Sarapan selesai. Mama Ayu menyandang tas nya dan berjalan pergi ke kantornya. Tapi, Syifa menyusul untuk membicarakan sesuatu.
"Ma, boleh Syifa minta izin?"
"Izin apa? Ngomong aja, Mama buru-buru."
"Syifa mau masak, agak banyak nanti. Syifa mau ajak Mas Bagas ke panti, terus kasih makanan ke mereka di sana. Anggap aja syukuran buat mas Bagas."
"Kamu masak sendiri?"
"Iya, udah biasa masak banyak." jawab syifa.
"Engga..."
"Kenapa? Kan supaya mereka bantu kasih doa."
"Engga, kamu ngga boleh masak. Nanti, Mama pesankan dari catering langganan Mama. Kalau sudah siap, Mas Tomo akan antar kalian kesana."
Air muka Syifa tampak begitu bahagia. Dibalik cueknya sang mertua, Ia begitu mengerti akan keadaan. Memang, semua itu demi sang anak karena Syifa tak di izinkan terlalu lelah. Tapi Syifa yakin, jika Mama Ayu memang orang yang begitu tulus.
" Ngomong apa sama Mama?" tanya Bagas.
"Minta izin, nanti ke panti."
"Mau apa? Adopsi anak?"
__ADS_1
"Iya, aku pengen punya anak." jawab Syifa, yang sontak membuat Bagas tersedak dan batuk hingga air matanya mengalir.