
Bagas duduk di depan jendela. Menatap keluar dengan segala pemandangan yang ada. Dan Syifa, yang duduk di belakangnya. Posisi yang sering mereka lakukan, karena memang Syifa melakukan salah satu tindakkan nya dengan posisi seperti itu.
Syifa menjelajah bahu Bagas, memberi sentuhan lembut dan beberapa pijatan untuknya. Dan meski berkali-kali, Bagas masih saja bergetar ketika Syifa melakukan itu padanya. Bahkan, tampak bulu-bulu halus di kulit Bagas menunjukkan respon, beserta tarikan nafas Bagas yang panjang.
"Kenapa suka dengan posisi ini?" bisik Syifa.
"Karena, posisi seperti ini adalah posisi pertama kamu memelukku." jawab Bagas.
Syifa beranjak dari tempat duduknya. Ia maju, dan kini berdiri di hadapan Bagas dengan menjulurkan kedua tangannya.
"Kenapa?" tanya Bagas menatapnya.
"Ayo, berdiri. Ifa juga mau dipeluk, dari depan. Masa, cuma Ifa aja yang meluk teruz."
"Kan, kalau mau tidur juga di peluk, sayang."
"Engga... Beda rasanya. Mau nya dipeluk sambil berdiri. Ayo..." ajak Syifa.
Meski ragu, Bagas meraih tangan Syifa. Di genggamnya kuat, dan beberapa kali menghela nafas untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Bismillahirrohmanirrohim..." ucap Bagas dengan yakin.
Syifa mulai menarik tangan itu, tangan yang memggenggamnya erat seakan tak ingin terlepas. Bagas berusaha menyesuaikan diri dan mengangkat tubuhnya sendiri. Perlahan tapi pasti, Bagas berdiri meski kakinya masih bergoyang-goyang tak dapat Ia hentikan.
__ADS_1
Ini kali pertama Bagas berdiri tanpa alat, dan hanya Syifa yang membimbingnya.
"Iiiih, bisa..." sorak Syifa dengan begitu bahagia.
Tampak Bagas pun demikian, meski masih menahan sakit di area pinggangnya, dan kesulitan mengontrol gerakan kakinya yang belum dapat berdiri diam dan tegap.
"Masih, susah, Fa." bisik Bagas, terus mencoba bertahan dalam posisinya.
"Kayaknya, udah perlu dibuatin sandaran, Mas. Supaya bisa belajar berdiri lama, terus punya pegangan." ujar Syifa.
Ketika Bagas berdiri, Syifa harus mendongakkan kepalanya ketika ingin menatap sang suami. Dan ketika itulah, Bagas langsung mendekapnya erat, dan mengecup keningnya lagi.
"Ayo, belajar melangkah." ajak Syifa.
Syifa membimbing Bagas melangkahkan kakinya. Bukan ke depan, melainkan ke samping. Berpindah tempat setidaknya sampai ke ranjang mereka yang hanya berjarak beberapa meter saja dari posisi sekarang.
"Satu.... Dua... Tiga... Kan bisa? Ayo, terus. Beberapa langkah lagi kok." bujuk Syifa.
Tampak wajah Bagas meringis menahan sakit. Tapi Ia tetap berusaha menuruti apa yang Syifa mau. Ia melangkahkan kaki sesuai hitungan dari istri yang begitu Ia cintai saat ini. Meski kebas di telapak kaki, meski nyeri di bagian pinggang, dan meskipun peluh membasahi.
"Bentar lagi sampai. Dua langkah lagi." ucap Syifa, yang kembali menatap wajah Bagas yang lebih tinggi darinya itu.
Bruuuggghhhh! Mereka jatuh bersamaan di tempat tidur, karena memang Bagas tak mampu lagi menahan kakinya.
__ADS_1
Muuaaachhh...! Syifa mengecupi dahi, pipi dan bibir Bagas bertubi- tubi. Itu adalah upah, bagi Bagas yang mau dan bisa menuruti apa yang Ia katakan.
"Seneng, kalau dapet upah terus begini? Jadi semangat 'kan?" goda Syifa.
Bagas hanya tersenyum renyah, dengan nafasnya yang terengah.
***
Reza tengah mencari makan siang. Ia menuju keluar kantor, sekalian untuk mencari keberadaan Olin ditempat yang waktu itu.
Braaaakkkk! Tubuhnya menabrak seorang karyawan yang membawa setumpuk kertas, hingga berserakan di lantai.
"Oh, Pak Reza? Maaf, Pak. Saya ngga sengaja, soalnya buru-buru." ucap karyawan itu, sembari mengumpulkan lembaran kertasnya.
Reza menemukan selembar, dengan Cv seorang gadis.
"Carolina Hermawan?" senyumnya sembari menatap foto di hadapannya.
"Iya, dia salah satu calon OB baru disini."
"Terima dia, tapi jangan bilang kalau saya yang minta." pinta Reza.
" I-iya, Pak..." ucap Karyawan itu. Meski bingung, tapi Ia tak berani bertanya. Apalagi menatap wajah Reza yang tampak aneh baginya.
__ADS_1