
"Lalu apa mau kamu? Mau kembali sama laki-laki yang cacat itu? Kamu mau, mandiin dia, bersihkan kotoran dia, mau?" tanya Mama Nuri
Luna hanya diam, matanya nanar dan hatinya begitu tertekan.
Ia ingat ketika Bagas berjuang untuk meraih hatinya kala itu, meski harus bersaing dengan Reza yang tak lain adalah sahabat dengan sepupunya sendiri. Tapi Sang Mama memintanya memilih Bagas, karena Ia akan menjadi pewaris utama di keluarga Nugraha 'NUGRAHA' S COMPANY'.
"Kalau mau coba kembali padanya, silahkan coba. Kamu bahkan sudah kehilangan muka, hanya untuk berada di hadapan mereka saat ini. Apalagi, Si Ayu sudah Ilfeel sama kamu." imbuh Mama Nuri.
Luna hanya menggigiti bibir. Air matanya pun tak dapat lagi dihindari dan akhirnya mengalir begitu deras. Tapi Ia tak dapat berkata apapun, bahkan menentang. Semua ucapan yang dikatakan Mama nya itu benar adanya. Apalagi, ketika mengetahui Bagas telah menikah.
Luna mencebik bibirnya, menggenggam tangan penuh amarah, lalu berlari menuju ke kamarnya. Mama Nuri pun senang, ketika Anak semata wayangnya itu kembali tak dapat menentangnya.
***
"Tadi main kemana?" tanya Mama Ayu pada Syifa.
"Main ke taman aja, yang deket, Ma."
"Kamu ngga sadar, hal itu akan buat Bagas malu dengan keadaan dia? Orang akan lihat kondisi dia, mencibir, dan menghina. Jangan beralasan lagi, kalau Bagas yang minta. Bicara aja dia belum bisa." tukas Mama Ayu.
"Bukan di hindari, Ma_ tapi Mas Bagas harus bisa menerima keadaan itu. Syifa bawa Mas Bagas keluar, supaya bisa menikmati udara segar, buat relaksasi. Masalah pengelihatan orang... Belajar aja agar ngga baperan."
__ADS_1
"Kamu bisa bilang begitu, karena kamu ngga merasakan jadi dia, Fa."
"Syifa perawatnya, Ma. Syifa juga istrinya. Jadi, Syifa faham itu." sergah Syifa.
"Sudah bisa lantang kamu dengan Mama?"
"Maaf...." jawab Syifa, yang kembali menundukkan kepalanya.
Mereka diam satu sama lain, sementara Bagas hanya menyaksikan dengan tetap diam. Tak enak hati sebenarnya, ketika Syifa harus terus menjadi sasaran Mamanya akan sebuah kesalahan.
"Sabar, Fa..." batin Bagas.
"Tapi, meski awalnya terpaksa. Syifa tetap melakukan tugas dengan sebaik mungkin. Apa yang Syifa lakukan bukanlah tindakan yang asal-asalan tanpa tahi resikonya."
"Fa, maaf. Mama..... Mama hanya, ngga mau psikis Bagas tersakiti karena kondisinya."
"Mas Bagas kuat. Dia ngga serapuh yang Mama fikir. Bukan kah, dia kebanggaan Mama?"
"Iya... Ketakutan Mama yang berlebihan. Baiklah, bawa Bagas istirahat. Ini sudah malam." pinta Mama Ayu.
Syifa lalu meraih Bagas, dan mendorongnya kembali ke kamar. Ia hanya diam, memindah Bagas ke tempat tidurnya.
__ADS_1
Rasa bertubi-tubi di serang sesuatu yang tak mengenakkan hati seharian ini. Untuk mengembalikan moodnya untuk tersenyum saja sulit. Hingga akhirnya Ia hanya bisa duduk termenung menatap kosong ke depan.
"Fa...?" panggil Bagas, yang tak juga dapat tidur.
"Kenapa? Aku lagi ngga mood bercanda."
"Kepalaku, pusing sekali." ucap Bagas.
Syifa beralih dari tempatnya duduk lalu menghampiri Bagas. Ia pun duduk bersimpuh, dan meraih kepala Bagas untuk memangkunya.
"Sedih?"
"Ngga usah nanya. Siapa yang ngga sedih, kalau dikatain begitu."
Syifa menyandarkan kepalanya di bahu ranjang. Kembali merenung, dengan tangan yang memijati kepala Bagas yang katanya sakit. Makin lama, mata Syifa semakin terasa lelah, hingga akhirnya terpejam dalam posisi tetap memangku kepala Bagas.
Bagas mendongakkan kepalanya, menatap wajah lelah Syifa. Tajam, sembari berusaha menggerakkan lengan agar dapat terangkat.
"Ayolah... Dulu, barbel sepuluh kilo sanggup kau angkat dengan mudah. Dan kini, hanya akan meraih wajahnya saja kau tak mampu." ucap Bagas, berusaha memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Sedikit demi sedikit, perlahan dan terasa begitu berat. Bahkan mungkin sesakit itu baginya, hanya untuk meraih wajah Syifa. Tak menyerah, terus berusaha meski keringat dingin sudah mulai membanjiri wajahnya.
__ADS_1