
Semenjak menemukan Bella, Ansel tak mau jauh jauh lagi dari istrinya itu. Selama dua hari dia bolak balik cottage ke Villa yang jaraknya lumayan jauh dari subuh sampai sore hanya untuk mengecek kondisi Bella.
Namun karna masih merasa khawatir juga Dia akhirnya meminta ijin kepada bu Laras untuk bisa tinggal di Villa itu menemani Bella, alasannya cukup masuk akal, dia ingin menjadi suami siaga untuk Bella.
Bella yang mengetahui itu jelas saja menolak mentah mentah rencana Ansel. Dia masih marah, kesal dan emosi soal sikap Ansel dulu.
"Kenapa harus di Villa ini? bapak kan bisa menyewa Villa lain selain disini!" Protes Bella saat ibu Laras menyampaikan keinginan Ansel kepada Bella untuk ikut tinggal bersamanya di Villa.
"Karna di Villa ini ada istri tercintaku, wajarkan jika aku ingin tinggal disini juga? lagian yang punya Villa juga dengan senang hati mengijinkan.." Tandas Ansel sambil menyeringai meninggalkan Bella yang masih dongkol.
Ansel kemudian dengan santai memasukkan kopernya ke dalam kamar yang ditempati Bella.
"Iya Bella, lagian ibu juga lebih tenang kalau ada suami kamu disini, dia kan bisa sekalian jagain kamu.." Ibu Laras malah menimpali Bella dengan membela Ansel. Huh pengkhianat!
Senyum mengembang diwajah Ansel. Bella tidak bisa berkutik jika Ibu Laras tidak melarangnya karna memang Villa itu bukan miliknya.
Alaska yang sedang makan siang menatap pertengkaran itu dengan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Dasar bucin!" Desisnya lirih.
Malamnya saat Bella sedang asyik menonton tv tiba tiba rasa mual datang lagi.
Huek huek huek
dengan membekap mulutnya sendiri Bella berlari ke arah kamar mandi, Ansel yang sedang duduk dimeja makan kaget lalu berlari menghampiri Bella.
"Bella, kamu kenapa?"
Bella tak menjawab, terdengar suara kran air di nyalakan dn sepertinya Bella masih muntah di dalam sana.
Ansel menunggu dengan khawatir di depan pintu kamar mandi. Setelah beberapa menit Bella keluar dengan wajah yang sedikit pucat.
"Bella kamu gak apa apa?" Tanya Ansel lembut. Bella menggeleng tanpa menjawab, tangannya sibuk menutupi mulutnya karna dia merasa masih sedikit mual.
"Tiduran dikasur! aku akan membuatkan teh hangat untukmu.." meskipun dengan nada lembut namun tetap terdengar seperti sebuah perintah ditelinga Bella.
Ansel langsung menggendong tubuh Bella dan meletakkannya diatas kasur.
Bella melotot dan hampir saja mau membuka mulut untuk protes keras namun Ansel sudah menghilang ke arah dapur.
"Ish!" Akhirnya Bella hanya bisa menahan kesal dalam hati. Benar benar Pak Ansel itu! kenapa sekarang sikapnya jadi berbanding terbalik begitu? Bella jadi tak habis pikir.
Tak lama Anselpun kembali dengan membawa segelas teh hangat ditangannya.
Diulurkan nya teh itu ke hadapan Bella. Bella jelas tidak sudi menerimanya, Bella membuang muka ke arah lain berusaha tidak memperdulikan suaminya.
Namun bukannya marah, Ansel malah mendekat dan mengelus pucuk kepalanya.
"Aku taruh di meja ya sayang, nanti diminum ya biar enakan badannya.." Bisik Ansel dengan suara yang lembut bahkan teramat lembut malah! Bella terpaku, gila! dia syok berat melihat sikap Ansel.
__ADS_1
Jika Ansel terus bersikap manis seperti itu justru Bella jadi tak bisa protes lagi karna Ansel tak memberikannya celah untuk bisa bertengkar dengannya.
Seperti pada satu malam, Ansel tiba tiba saja membawa sebuah bungkusan besar lalu menyerahkannya ke hadapan Bella.
Bella awalnya enggan menerimanya, namun karna Ansel terus mendesaknya, akhirnya Bella dengan terpaksa menerima bingkisan itu.
"Apa ini?" tanya Bella merasa ragu untuk membuka bingkisan yang tingginya sebesar dirinya itu.
"Buka dong Bella, kamu pasti suka.." Suruh Ansel sambil mengulurkan pita merah yang mengikat ujung atas bungkusan.
Jika Bella ingin membukanya maka Bella tinggal menarik ujung pita itu saja.
Tanpa menunggu lama lagi Bella pun langsung menarik ujung pita, isi bungkusan pun kini dapat terlihat dengan jelas oleh kedua matanya.
"BONEKA BERUANG!!!" Bella memekik bahagia dan hampir saja meloncat kegirangan. Namun saat dia sadar Ansel memperhatikannya, diapun buru buru kembali bersikap biasa.
Ansel menahan tawa melihat tingkah laku Bella yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Iya boneka itu buat kamu Bella, buat nemenin kamu kalau kamu lagi sendirian, apa kamu suka?" Tanya Ansel sambil memperhatikan mata Bella yang terlihat sangat antusias.
"Biasa saja." Jawab Bella datar, padahal dalam hatinya dia sangat senang menerima hadiah itu. Bahkan dia ingin sekali meloncat dan memeluk boneka beruang itu, namun karna gengsi dia pun akhirnya hanya meletakkan boneka itu di pojok kamar tanpa menghiraukannya.
Sudah seminggu berlalu, ternyata Bella masih bersikukuh dengan pendiriannya, dia masih belum bisa memaafkan kesalahan Ansel pada dirinya meskipun Ansel sudah berkali kali meminta maaf dam melakukan hal hal konyol agar Bella mau membuka hati untuk memaafkannya.
Pagi itu Bella hendak membereskan pakaiannya. Entah berapa lama lagi dia akan tinggal di Villa itu, yang jelas Bella masih belum mau pulang ke jakarta bersama Ansel.
Bella celingukan, dan akhirnya dia punya ide untuk menggunakan bantuan bangku saja agar dia bisa sedikit berjinjit.
SREETT
Bella menyeret kepala bangku dan mendekatkannya ke lemari. Setelah bangku itu dia sejajarkan dengan posisi kosong di atas lemari Bella pun langsung
menaiki bangku itu.
Diraihnya pegangan koper lalu mulai diangkatnya koper itu dengan kedua tangannya.
Setelah koper itu berhasil diletakan diatas lemari, Bella pun langsung bergegas merapikan bangku itu dengan menaruhnya kembali ke tempatnya.
Bella hendak menutup pintu lemari namun dia tak sadar koper yang tadi dia letakkan itu mendadak goyang karna posisinya yang tidak sejajar.
Berbarengan dengan suara pintu lemari yang ditutup koper itu pun akhirnya meluncur bebas ke arah Bella.
"BELLA AWAS!!!!!"
Bella hendak menoleh ke atas namun pergerakan Ansel lebih cepat dari yang dibayangkan.
Secepat kilat dia sudah berdiri dihadapan Bella, merengkuh gadis itu lalu menenggelamkan kepala Bella di dadanya agar gadis itu tidak terluka.
Ansel melindungi Bella dengan menggunakan tubuhnya sendiri hingga akhirnya benturanpun tidak dapat di elakan.
__ADS_1
BRUUGGHHH..
Ansel memekik saat koper itu malah menghantam punggungnya dengan sangat keras.
Bella tercengang melihat kejadian yang begitu kilat itu.
Sontak dia langsung mendongakkan wajahnya dan melihat ke arah Ansel, Ansel terlihat meringis menahan nyeri namun dia belaga santai di depan Bella.
Ansel malah mengelus kepala Bella dengan lembut.
"Kau tidak apa-apa Bella?" Tanya Ansel sambil membantu Bella untuk berdiri.
Bella menggeleng dengan cepat sambil menatap Ansel dengan khawatir.
"Pak, punggungmu pasti terluka, biar aku liat ya?" Pinta Bella namun Ansel menahan tangan gadis itu saat dia hendak membalikkan tubuhnya.
"Tidak perlu Bella, aku tidak apa apa.." Tolak Ansel halus.
Ansel pun kemudian keluar kamar dengan langkah pelan sambil sedikit membungkuk memegangi pinggangnya, Bella menggigit bibirnya, dia tahu kalau suaminya itu sedang kesakitan tapi dia malah pergi untuk menyembunyikannya, kini ada rasa bersalah muncul di dalam hatinya.
Beberapa hari berlalu dengan sangat lambat, seperti biasa Bella masih jual mahal, namun kini sikapnya sedikit melembut karna menurutnya Ansel sudah benar benar keluar dari karakter aslinya yang sombong, seenaknya dan egois.
Kali ini dia bagaikan terlahir kembali dengan sikap yang sangat jauh berbeda, dia sangat manis, ramah dan pengertian.
Bella akhirnya mulai goyah, kemarahannya pun perlahan menguap dengan usaha usaha yang dilakukan oleh Ansel untuk dirinya.
Seperti malam itu, Bella tengah ngidam kue serabi.
"Kue serabi kayaknya enak.." Ucap Bella sambil mengelus perutnya.
Ansel yang sedang menonton tv diruang tamu langsung menoleh ke arah Bella.
"Kamu mau kue serabi Bella?" Tanya Ansel memastikan.
Bella mengangguk pelan lalu berjalan ke arah dapur.
"Yaudah kamu tunggu disini ya, kunci semua pintu, aku bakal keluar nyari kue serabi buat kamu.." Ansel langsung berjalan ke arah depan dan menghilang dibalik pintu.
Bella langsung berbalik dan mengikuti langkah Ansel namun mendadak berhenti dan akhirnya memutuskan untuk mengintip di jendela.
Bella melihat Ansel mengeluarkan motor trail nya dan langsung tancap gas keluar dari gerbang Villa.
Bella sesungguhnya sangat bahagia Ansel memperlakukannya dengan sangat baik seperti ini, dia merasa Ansel sangat menjaga dirinya dan juga bayi dalam kandungan, meskipun laki laki itu bahkan sampai detik belum dia ijinkan untuk sekedar mengelus perutnya.
bersambung
Thor kasih bonus deh nih pak Ansel sama Bella pas nanti bucin bucinan😁
__ADS_1