
"Eh, kalian liat gak tadi? tatapan matanya bu Selvi tajem bener dah sama lo Bell! iyuh ngeri kayak lo mau dimakan aja! iyakan, Sya?" Celetuk Inyong tiba-tiba saat mereka berjalan menuju kantin kampus.
"Sya!!" Panggil Inyong sekali lagi saat Sasya tak juga menggubrisnya.
"Lo kok malah ngelamun sih Sya!" Inyong menyikut lengan Sasya dan membuat gadis itu langsung tersentak kaget.
Bella ikut menoleh ke arah Sasya.
"Iya, ada masalah apa sih Sya?" Tanya Bella yang juga memperhatikan kalau dari tadi Sasya terus saja melamun.
Sasya menggeleng cepat sambil tersenyum lebar.
"Engga kok perasaan lo berdua aja kali! Emang kalau gue diem tandanya gue ngelamun?"
"Iya takutnya lo ngelamun jorok!" Timpal Inyong yang membuat Bella tertawa geli.
"Emang kenapa kalau gue ngelamun jorok?"Dengus Sasya kesal karna sudah di fitnah oleh Inyong.
"Ya, Inyong ikutan lah haha." Inyong tertawa terbahak bahak sambil memegangi perutnya.
"Sialan lo nyong!" Sasya mentoyor kening Inyong dengan kesal.
Merekapun langsung bergegas ke kantin dan memesan makanan karna perut yang sudah mulai menjalankan konser sejak tadi.
"Eh, Sarah ada kelas sore ya?" Tanya Sasya tiba-tiba.
"Iya kayaknya, kenapa emang?" Tanya Bella sambil menyendok nasi padang didepannya.
"Engga apa-apa kok!" Jawab Sasya cepat. Sasya memang masih belum memutuskan akan menerima tawaran Zio atau tidak. Tapi hati kecilnya berjaga-jaga seandainya dia setuju untuk membongkar perselingkuhan itu dia harus segera menyusun strategi agar bisa masuk ke dalam rumah Sarah dan menaruh Cctv tersembunyi disana.
"Eh iya kalian tau gak? Inyong punya kabar spektakuler loh!" Celetuk wanita berbadan tambun itu sambil menyuapkan sesendok bakso ditangan kanannya.
"Berita apa?"Tanya Bella.
"Ini soal Alaska!" Bisik Inyong sambil mengecilkan volume suaranya.
"Tau gak, ternyata dia itu punya geng motor namanya Samurai kalau gak salah!" Kata Inyong dengan wajah antusias.
"Dan tau gak? ternyata Alaska itu ketua geng motor itu!" Lagi lagi Inyong berbicara dengan wajah yang berbinar binar.
__ADS_1
"Aduh keren deh pokoknya. Inyong emang gak salah nih naksir orang!" Sahut Inyong lagi sambil menggebrak gebrak meja dengan mulut penuh dengan potongan bakso.
"Terus? info itu penting buat kita?" Tanya Sasya yang merasa Inyong terlalu berlebihan.
Bella malah hanya mengangguk ngangguk saja tak memperdulikan info soal pria yang menyukainya itu. Baginya info itu memang tidaklah penting.
"Bell! Lo gak suka sama Alaska kan?"
Pertanyaan Inyong ini langsung dibalas tawa renyah oleh Bella.
"Nyong ngomong apa sih lo! gue gak mungkin suka sama Alaska! lagian gue kan udah nikah sama pak Ansel. Lo ngaco kalau ngomong." Ucapnya pelan sambil menahan geli mendengar pertanyaan Inyong.
Wajah Inyong seketika berubah sumringah. Diapun memeluk Bella dengan erat.
Malamnya pukul 20.10 wib dirumah kediaman keluarga Wijaya
Bella baru saja selesai menonton tv dibawah. Bella hendak masuk ke dalam kamarnya namun Citra tiba-tiba saja memanggilnya.
"Kak, kesini geh!" Panggil Citra sambil memberi kode pada Bella agar dia masuk ke dalam kamarnya.
Bella pun berjalan dan langsung mendekati Citra.
Citra tidak langsung menjawab. Dia melihat kebawah lantai dan memastikan kalau suaminya Kevin masih sibuk di dibawah mengobrol dengan Papahnya.
"Kak sini deh aku mau minta tolong!" Citra langsung menarik tangan Bella dan menyuruhnya untuk segera masuk kesana.
Citra buru-buru mengunci pintu kamarnya yang membuat Bella langsung mengerutkan keningnya.
"Cit, ada apa sebenarnya? kamu mau minta tolong apa?"
Citra langsung berjalan ke arah lemarinya dan mengeluarkan sebuah kemeja dari tumpukkan paling bawah.
"Kak, coba cium kemeja ini! ini wangi parfum apa ya kaka tau gak?" Citra menyerahkan kemeja kotor Kevin yang tadi pagi.
Sebenarnya Citra mau langsung melaundry kemeja itu namun hati kecilnya seolah ragu. Dia pun memutuskan untuk tetap menyimpan kemeja itu dulu.
Bella meraih kemeja yang disodorkan oleh Citra. Didekatkannya kemeja itu ke hidungnya. Bella mencium wangi parfum bernuansa bunga mawar yang manis.
Bella kenal betul siapa yang punya parfum seperti ini. Ini parfumnya Sarah! Benar ini memang parfum sahabatnya karna setahu Bella Sarah itu tidak pernah gonta ganti parfum dari jaman pertama kali mereka kenal.
__ADS_1
"Kenapa Cit? ini parfum Cabella varian rose.."
"Kak, apa kaka kenal teman-temannya Kevin? Kakak satu kampus kan sama dia? apa dia ada teman wanita yang memakai parfum ini?" Tanya Citra yang keliatan cemas sekali.
Bella semakin tak mengerti dengan arah pembicaraannya Citra.
"Kakak gak kenal teman-temannya Kevin Cit.." Jawab Bella, karna jujur dia memang tidak pernah dikenalkan kepada teman-temannya Kevin saat mereka masih pacaran dulu.
"Emang kenapa Cit? kamu kenapa keliatan cemas banget?" Bella menyuruh Citra untuk tenang karna khawatir pada kehamilannya.
"Kak, aku nemuin wangi parfum wanita di baju suamiku, bagaimana aku tidak cemas!"
HAH? Bella tersentak kaget dengan ucapan Citra. Parfum wanita lain? Bella baru konek ternyata Citra sedang curiga pada Kevin karna ada wangi parfum wanita di bajunya.
Bella terdiam sesaat. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan. Bella menggigit bibirnya, Raut wajahnya jadi ikutan cemas.
Apa mungkin wangi parfum itu milik Sarah? mereka memang satu fakultas dan itu menyebabkan mereka jadi sering bertemu jadi mungkin saja saat Sarah sedang duduk didekat Kevin tak sengaja wangi parfumnya menempel di baju pria itu.
"Mungkin tidak sengaja aroma parfum itu menempel disana Cit. Kamu gak boleh banyak pikiran ya.."
"Tapi aroma ini menempel di seluruh bagian baju kak, seolah olah ada seseorang yang habis memeluk seluruh tubuh suamiku kak!" Citra terduduk lemas di ranjangnya.
Bella bingung harus berbuat apa. Apakah dia harus memberitahu Citra kalau dia tahu ada satu teman wanita Kevin yang memiliki parfum seperti itu.
Tapi dia tidak ingin gegabah dan menuduh tanpa bukti. Bagaimana kalau parfum itu tenyata bukan miliknya Sarah? bukankah dia malah akan menyakiti sahabatnya itu! walaupun jauh dalam hatinya Bella mulai penasaran siapa pemilik parfum itu.
Setelah yakin kalau Citra sudah tenang, Bella pun kembali ke kamarnya dengan wajah gusar. Bella bolak balik disisi ranjang karna kepikiran dengan ucapan Citra sampai tak sadar kalau kakinya tersandung selipan karpet dilantai.
Hampir saja dia jatuh dan mencium lantai kalau Ansel tidak segera datang dan menangkap tubuhnya dengan cepat.
"Pak!" Bella melotot saat menyadari sebagian roknya sudah tersingkap ke atas paha. Bella buru-buru hendak merapihkan roknya lagi namun tangan Ansel menahannya.
"Lepas pak!" Pintanya sambil mencoba berontak. Namun Ansel malah tak menggubris sama sekali. Tenaga laki-laki itu benar-benar kuat.
Dibopongnya tubuh Bella dan dipindahkannya ke atas ranjangnya yang besar.
"Aku sedang menginginkannya Bella!" Bisik Ansel dengan menatap mata Bella tepat di manik matanya.
bersambung..
__ADS_1