SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Ansel terpuruk


__ADS_3

Nyonya Tania masuk ke dalam kamar Citra untuk menengok keadaan anaknya, sudah dua hari ini Citra tak keluar kamar, dia terus duduk termenung di depan balkon kamarnya. Ibunya takut jika sampai Citra melakukan kesalahan yang sama seperti dulu yaitu mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.


"Citra sayang.. makan dulu yuk, mamah udah masak udang saos padang kesukaan kamu loh.. yuk kita makan sayang.."


Nyonya Tania membelai kepala Citra, tatapan mata Citra begitu kosong.


"Aku gak lapar mah.."Jawabnya datar.


Nyonya Tania berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Kondisi keluarganya kini sedang sangat memprihatinkan.


"Sayang, ayolah jangan kaya gini terus.. mamah tau kamu kuat, kamu pasti bisa ngelewatin ini semua, tapi tolong jangan bikin mamah khawatir, makanlah sesuatu sayang.."


Citra menggeleng pelan "Aku bilang aku tidak lapar mah.."Tolaknya lagi.


Nyonya Tania menghela napas panjang. Entah dosa apa yang sudah dia perbuat dulu sampai sampai keluarganya ditimpa masalah seberat ini.


"Sayang, setidaknya kamu harus kuat demi Ansel, dia juga sama sepertimu, semenjak Bella menghilang dia lupa makan, dia lupa segalanya, dia terus mencari keberadaan Bella kesana kemari. Jangan menambah bebannya sayang, jangan buat dia tambah khawatir karna melihatmu sakit nanti.."


Kali ini ucapan Nyonya Tania membuat Citra menoleh.


"Kak Bella masih belum di temukan mah?" Citra berdiri dan menghampiri ibunya.


"Belum Cit, semua pengawal sudah di kerahkan ke seluruh penjuru kota, bahkan ada yang mencarinya keluar kota juga tapi belum ada info apapun tentang kakak ipar mu itu.."


"Kasihan sekali kak Ansel, dia pasti khawatir apalagi kak Bella tengah hamil muda.." Citra tertunduk, air mata mengalir di kedua pipinya, rasanya dia semakin tercekik oleh rasa bersalah. Bella pergi karna dirinya.


Nyonya Tania tampak syok mendengar ucapan Citra barusan.


"Apa Cit? Bella hamil?"


"Iya mah, kak Bella pergi dari rumah kita dalam kondisi hamil.."


Nyonya Tania menutup mulutnya yang ternganga.


"Ya Tuhan Bella.."


"Aku harap kak Bella segera ditemukan mah.." Citra memeluk ibunya sambil menangis tersedu sedu menyesali semua perbuatannya.


Di sebuah jalan pinggir kota.


Hari sudah mulai senja, namun Ansel masih berusaha mengelilingi kota untuk mencari keberadaan Bella, sudah dia telusuri sepertinya hampir seluruh tempat yang mungkin akan di datangi Bella namun hasilnya nihil, tak ada sedikitpun tanda tanda keberadaan istrinya itu.

__ADS_1


Ansel menggebrak dasbor dengan kencang. Di usapnya wajahnya dengan gusar.


Zio dan Sasya yang duduk di bangku belakang menatap Ansel dengan tatapan prihatin.


Seminggu berlalu, Ansel semakin depresi karna usahanya tidak juga membuahkan hasil, dia tak bisa menemukan Bella padahal segala usaha sudah dia kerahkan namun Bella bak hilang di telan bumi.


Dia tak bisa melacak Bella karna nomornya sudah tidak aktif sejak terakhir kali dia mengirimkan pesan kepadanya.


Ansel terduduk dilantai, satu kakinya di tekuk sementara kaki yang lainnya berselonjor lurus, tangannya memegang tespek Bella dengan pandangan putus asa.


"Bella, kamu dimana sayang?" Tanya Ansel lirih. Tak terasa butiran bening mengalir di kedua pipi mulusnya. Wajahnya yang tampan terlihat lebih tirus karna sudah seminggu lebih dia hanya makan kalau dia ingat saja.


Ternyata sebegitu hancurnya dia saat Bella tak ada disampingnya. Ansel sangat merindukan gadis itu. Ansel bahkan sudah tidak mengajar lagi dikampusnya karna dia terlalu fokus mencari keberadaan Bella.


Tok tok tok


Ansel tidak menyadari pintu kamarnya diketuk. Tak lama pintu kamar itu terbuka. Seorang wanita berdiri mematung melihat kondisi Ansel yang begitu memprihatinkan.


"Ansel..."


Ansel baru menoleh ketika wanita itu telah berdiri dihadapannya menghalangi cahaya rembulan yang sedari tadi dibiarkan membelai tubuh kekarnya.


"Ansel.." Panggil Diandra lagi, Ansel mendongakkan wajahnya. Diandra menatap ke arahnya dengan tatapan iba. Dia bisa melihat sisa air mata yang belum sepenuhnya mengering di pipi pria itu.


"Sejak kapan kau datang?" Ansel berdiri lalu memakai kemejanya karna tubuhnya sekarang hanya terbungkus oleh kaos dalam yang tipis.


"Aku sudah sejak tadi disini, apa aku mengganggumu?"Tanya Diandra.


"Tidak, ada apa?"


Ansel mengajak Diandra keluar kamar. Dia pun melangkah ke arah pintu.


"Sel, aku kesini untuk pamit.." Kalimat Diandra spontan menghentikan langkah Ansel.


Ansel berbalik dan mengerutkan kedua keningnya. Diandra terlihat pucat namun dia masih berusaha tersenyum dihadapan Ansel.


"Pamit?"


"Iya Sel, aku sudah memutuskan akan kembali keluar negri.." Desis Diandra dengan suara lirih.


Ansel sedikit tercengang.

__ADS_1


"Aku kembali kesini hanya karna kamu Ansel, aku ingin sekali bisa mengulang kemesraan kita dulu setidaknya di sisa hidupku ini, tapi.." Diandra seperti tak kuasa melanjutkan kalimatnya.


"Tapi aku sadar keadaan sudah berubah, aku sadar kamu bukan lagi Ansel yang dulu aku kenal, bukan lagi milikku apalagi Ansel yang mencintaiku.." Diandra akhirnya tak mampu membendung air mata yang sedari tadi sudah berlomba untuk keluar dari ujung matanya.


Perasaannya benar benar luluh lantak saat harus mengatakan semua ini.


"Lihatlah dirimu Sel! kau begitu hancur saat Bella hilang dari hidupmu, aku sadar sekarang kalau kau sangat mencintai gadis itu.. aku.." Lagi lagi kalimat Diandra terpenggal.


"Aku ikhlas, aku akan mengikhlaskan mu Sel.." Diandra berlari ke arah Ansel dan memeluknya untuk terakhir kalinya.


Ansel hanya diam, dia tak tau harus mengatakan apa.


Diandra melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya, dia lalu menatap Ansel sambil tersenyum getir.


"Aku harap kau segera menemukan Bella, ketika kau menemukannya sampaikan maaf ku untuknya bisa kan?"


Ansel hanya mengelus punggung Diandra sambil mengangguk pelan.


Setelah mengucapkan perpisahan Diandra pun langsung pergi dari rumah Ansel.


Dikampus brawijaya


Gosip tentang tertangkapnya Kevin dan skandal cinta terlarangnya dengan Sarah sudah melebar ke segala penjuru kampus.


Sarah tak tahu siapa yang membocorkan semuanya, namun dia tau lambat laun semuanya pasti akan muncul ke permukaan, mau tak mau dia harus menghadapinya.


kini setiap langkahnya selalu menjadi pusat perhatian semua mahasiswa disana.


"Gue denger dia lagi hamil loh, duh gimana tuh bapaknya kan lagi dipenjara!" Ucap seorang mahasiswi pada temannya sambil berbisik ketika Sarah lewat didepan kelasnya. Sarah tentu saja panas mendengar desas desus itu.


Sebenarnya dia sangat malu muncul dihadapan semua orang, namun dia ingat kalau anak di dalam perutnya butuh ibu yang punya masa depan yang cerah, satu satunya cara dengan menyelesaikan kuliahnya ini.


Apalagi keluarga Hamis sudah berbaik hati untuk tak mengeluarkan Sarah dari kampus itu meskipun Sarah sudah melakukan kesalahan yang sangat besar pada salah satu anggota keluarganya yaitu Citra.


Tuan Hamis masih mengasihaninya karna anak di dalam perut Sarah tidak berhak menanggung hukuman atas dosa kedua orang tuanya.


Sekarang Sarah hanya bisa meratapi semuanya, hidupnya sudah benar benar hancur. Tak ada lagi pacar apalagi sahabat di sisinya.


Dia sudah menyia-nyiakan Bella, Sasya dan Inyong yang selama ini begitu care kepadanya. Ini hukuman untuknya, Sarah hanya bisa menangis menyesali kebodohannya selama ini.


Ternyata hartanya yang paling berharga adalah ketiga sahabatnya itu. Merekalah yang selama ini tulus menyayanginya, yang selalu ada ketika dia ada masalah, kini dia sudah tak punya apa apa lagi, tak ada lagi yang tersisa di hidupnya kecuali dirinya dan bayi dalam kandungannya.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2