
Sejam lebih menunggu akhirnya seorang Dokter keluar dari ruangan itu, dokter itu membuka maskernya dan menunjukkan ekspresi yang kurang mengenakan.
"Maaf, tapi kami sudah berusaha semampu kami menyelamatkan bayinya, namun Tuhan berkata lain.."
"Maksud dokter apa? bayi saya tidak selamat?" Kevin menghampiri Dokter sambil mengguncang-guncangkan bahunya.
"Sabar tuan, semua ini sudah takdir dari yang Maha Kuasa, kami mengucapkan turut berbelasungkawa, sabar ya.." Dokter mengelus punggung Kevin yang kini ambruk dilantai sambil menangis sejadi jadinya, tentu saja itu bukan akting sepenuhnya karna sesungguhnya dia tidak berencana membuat Citra keguguran.
Sementara itu Bella dan Ansel tak kalah syok, mereka membeku ditempatnya masih masing, Bella sudah terisak sejak datang tadi dan kali ini lebih terisak lagi mendengar kabar buruk itu.
Darah Ansel tiba tiba mendidih, air mata jatuh perlahan tapi pasti dikedua pipinya, padahal selama ini pantang baginya untuk menangis.
Karna bagi dia air mata adalah bukti kelemahan laki laki. Namun kali ini beda, dia telah melanggar prinsipnya sendiri yang berarti dia memang sedang menunjukkan kelemahannya.
Dia telah gagal menjaga adik dan keponakannya hingga semua ini bisa terjadi.
"Kami akan memindahkan Citra keruang perawatan, kalian bisa menjenguknya disana.." Dokterpun pergi setelah mengatakan itu.
Tiga jam lebih akhirnya Citra siuman, yang pertama kali dtanyakan olehnya adalah
"Kenapa perutku sekarang kempes, dimana bayiku?"
Dan tentu saja tak ada satupun yang bisa menjawab kecuali tatapan kesedihan dari wajah wajah dihadapannya yang seolah olah membantunya untuk menjawab secara tidak langsung.
"Kenapa kalian diam saja?"Teriak Citra dongkol, air mata mulai mengalir perlahan dikedua pipinya.
Bella mencoba mendekat namun Kevin tiba tiba menghalanginya.
"Berhenti! kau sudah membunuh anakku!"
Sontak Bella tercengang mendengar tuduhan itu.
"Omong kosong, tutup mulutmu Kevin!"
Ansel menarik kerah Kevin dan hendak meninjunya namun Citra mencegahnya.
"Tidak kak! yang dikatakan Kevin memang benar! kak Bella sudah mendorongku saat dikamar! dia yang sudah bikin aku keguguran hiks..hiks.."
Bella sangat syok mendengar ucapan Citra, Ansel langsung menoleh kaget, tangannya yang sudah siap meninju perlahan diturunkannya.
"Maksud kamu apa Cit?"
__ADS_1
"Iya kak, pasti kak Bella yang udah ngedorong aku dikamar, karna cuman kita berdua yang ada disana saat itu! tadi aku ke kamar kakak terus tiba tiba lampunya mati dan ada yang sengaja ngedorong aku sampai perut aku ngebentur meja kak!" Citra menunjuk Bella dengan wajah yang histeris.
Citra memang tidak melihat wajah orang yang mendorongnya namun dia yakin Bella pelakunya.
Bella yang mendapat tuduhan itu langsung menggeleng cepat, dia berjalan ke arah Ansel dan meraih kedua tangan suaminya.
"Tidak pak, sumpah demi Tuhan bukan aku pelakunya, untuk apa aku melakukan itu?"
"Karna kau dendam kan Citra sudah membawa Diandra kerumah! kau tidak bisa mengelak lagi Bella!" Timpal Kevin mencoba memanas-manasi suasana.
Bella menggeleng kuat, dia menatap Ansel dan berharap Ansel akan percaya padanya.
Namun perlahan Ansel melepaskan tangannya, Bella terperangah ketika Ansel menatap matanya seolah bertanya 'mengapa?'
"Apa bapak tidak percaya padaku?" Tanya Bella dengan suara yang terdengar bergetar, laki laki yang selama ini sangat dia percaya malah tidak bisa mempercayainya balik.
"Bella, aku tidak ingin melihat wajahmu sementara ini, pergilah!"
Deg
Bella tersentak, bak tersambar petir di siang bolong, Bella tak menyangka Ansel akan mengucapkan kalimat itu.
"Pak.."
Ansel menghampiri ranjang Citra dan memeluk adiknya dengan erat.
Tubuh Bella tiba tiba menjadi lemas, dia tak sanggup menyembunyikan rasa sedihnya, hatinya hancur benar benar sangat hancur.
Bukan reaksi itu yang dia harapkan dari Ansel. Bella kecewa, marah, sesak, kesal! semuanya bercampur aduk di dalam dadanya, rasanya sangat sakit dan remuk hatinya.
Akhirnya Bella keluar dari ruangan dengan langkah gontai, dia memutuskan untuk pulang karna percuma dia disana jika semua orang tidak mempercayainya terutama Ansel.
Disepanjang perjalanan pulang, Bella terus menangis sesegukan, dadanya benar benar bergejolak, perih hatinya jika ingat kejadian tadi. Tega teganya Citra menuduhnya dan dengan gampangnya Ansel percaya semua itu!
CUKUP! Bella menghapus air mata dikedua pipinya, sudah cukup harga dirinya diinjak injak, tidak lagi kali ini. Dia sudah cukup mengalah diperlakukan tidak adil.
Bella mengelus perutnya, dia mencoba mengatur nafasnya agar dirinya tidak tambah stres, dia tidak ingin membuat bayinya kenapa napa.
Sesampainya dirumah, Bella langsung berlari ke arah kamar, dia bergegas membuka lemari dan mengambil beberapa baju lalu dia letakan didalam kopernya.
Mata Bella menyapu seisi kamar dengan pandangan sedih, dia ingat banyak sekali kenangan yang sudah terukir disini bersama Ansel, tapi dia harus pergi sekarang, untuk apa tinggal disini jika orang yang kau cintai tidak bisa mempercayaimu?
__ADS_1
"Nona mau kemana membawa koper?" Tanya Seorang pengawal saat Bella melewati pintu depan.
"Aku mau kembali kerumah sakit membawa beberapa baju untuk nona Citra, kau tidak usah khawatir, Pak Ansel yang menyuruhku.." Ucap Bella berbohong, karna kalau dia jujur pengawal itu pasti akan menahannya.
Meskipun ragu akhirnya pengawal itu membiarkan Bella pergi dengan koper ditangannya.
Sebelumnya Bella telah menyuruh taksi yang tadi mengantarkannya pulang untuk menunggunya sebentar diluar gerbang. Bella menggunakan taksi itu untuk pergi meninggalkan rumah besar itu.
Meskipun dia tak tahu dia akan kemana sekarang, Bella tak punya tujuan apalagi tempat untuk pulang, tidak mungkin dia pergi kerumah orang tuanya karna dia tidak ingin membuat mereka khawatir.
Bella ingin pergi sejauh mungkin dari kota ini, dia ingin menghilangkan segala sakit hati dan kecewa di dalam dadanya. Tapi dia harus kemana?
Tiba tiba Bella teringat satu tempat yang ingin sekali dia kunjungi.
"Pak, tolong antar kan saya ke bandara Soekarno Hatta ya.." Pinta Bella pada supir taksi.
Sesampainya di bandara, Bella langsung memesan satu tiket penerbangan menuju Bali, untung saja dia masih punya uang simpanan di atm pribadinya. Dia akan menggunakan uang itu sebaik mungkin untuk memulai kehidupan baru dengan bayi yang ada didalam perutnya. Dia berjanji akan menjaga bayinya walau pun sekarang dia hanya sendirian.
Bella menatap layar ponselnya, dia melihat wallpaper foto Ansel dan dirinya sedang tersenyum disana. Rasanya berat untuk melakukan langkah besar ini, tapi mau bagaimana lagi, dia tak ingin Ansel terus terusan meremehkan dirinya.
Sebelum mematikan telponnya Bella mengirim satu pesan kepada Ansel.
to: Ansel
'Selamat tinggal, terima kasih untuk semuanya."
Bella ragu untuk mengirim pesan itu, Bella menarik napas panjang lalu mengklik tombol send di ponselnya.
Terkirim,
Setelah membaca teks itu Bella buru buru mencabut kartu dari hpnya lalu Bella patahkan kartu itu menjadi dua, dada Bella rasanya mendidih, dia tak menyangka dia bisa senekat ini.
Bella menatap keluar jendela pesawat. Sebentar dia akan meninggalkan kota ini untuk selamanya. Dia tidak ingin kembali lagi, biar lah takdir membawanya pada kehidupan baru di tempat yang baru nanti.
Bella mengelus perutnya sambil menahan tangis.
"Maafkan mamah nak, ayahmu bahkan belum sempat tau kehadiranmu.. maaf sayang.."
Akhirnya tangis Bella pecah seketika, Bella menunduk dalam dalam, namun tiba tiba seseorang mengulurkan sapu tangannya ke hadapan Bella.
"Maaf, aku tidak tahan melihat seorang wanita menangis.." Ucap seorang pria yang duduk disebelah Bella dengan mimik wajah yang terlihat prihatin melihat kondisi Bella.
__ADS_1
bersambung..
Jangan lupa vote ya cerita ini thankyou :D