
Ansel membeku ditempatnya. Dia seolah tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya sekarang.
Beberapa tahun silam gadis itu menghilang bagai ditelan bumi, meninggalkannya begitu saja tanpa kabar apapun, tapi kini dia tiba-tiba hadir lagi di depan matanya, menyebut namanya seolah olah tidak pernah melakukan kesalahan apappun.
"Kau.." Ucap Ansel dengan pandangan mata yang masih syok.
Diandra mengangguk, tanpa sadar air mata mengalir di kedua pipinya. Dia langsung berlari ke arah Ansel lalu memeluk pria itu dengan erat.
Bella tersentak kaget sambil matanya mengekor pada gerakan tubuh Diandra yang begitu cepat.
Ansel terperangah mendapati pelukan yang tiba-tiba itu. Diandra terisak sambil membenamkan wajahnya di dada pria jangkung itu.
"Maafkan aku Ansel, aku minta maaf karna sudah meninggalkanmu secara tiba-tiba. Aku terpaksa melakukannya.." Diandra terisak dengan suara tertahan.
Bella perlahan melangkah mundur ke belakang. Dadanya sangat sesak melihat peristiwa itu. Apalagi Bella tahu siapa Diandra dari cerita yang sudah di dengarnya dari bu dokter Renata waktu itu.
Ansel menyadari pergerakan Bella.
"Berhenti disitu Bella!" Perintah Ansel seraya melepaskan pelukan Diandra. Diandra kaget dan ikut menoleh ke arah Bella.
Kali ini Bella tak mau mendengarkan perintah Ansel. Dia berbalik dan langsung lari sekencang-kencangnya.
Yang ada di pikirannya hanyalah menjauh dari tempat itu. Dia tak kuat melihat suaminya di peluk oleh mantannya itu.
"Bella! tunggu!" Ansel berteriak dan hendak mengejar Bella namun Diandra segera menahan pergelangan tangannya.
"Kamu mau kemana? siapa gadis itu?" Diandra merasa penasaran karna Ansel begitu peduli pada Bella.
Ansel menoleh dan menatap penuh kebencian pada wanita yang pernah dicintainya itu. Berani beraninya dia muncul lagi setelah membuat luka yang teramat dalam di hatinya.
Ansel melepaskan genggaman tangan Diandra dengan kasar.
"Ansel.. aku tahu kamu marah tapi.."
"Aku tidak ingin mendengar apapun, dan aku bakal anggap kita gak pernah kenal satu sama lain!" Ucap Ansel getas.
Ansel melangkah meninggalkan Diandra dengan perasaan kalut. Pikirannya benar benar kacau saat ini.
Dia tak bisa menggambarkan betapa anehnya rasa yang berkecamuk di dadanya saat ini.
"Ansel!" Diandra mencoba mengejar Ansel hingga semua mahasiswa menoleh ke arah mereka.
Ansel tak peduli, dia malah mempercepat langkahnya untuk mengejar Bella.
"Eh tolongin, ibu itu pingsan!!" Teriakan dari salah satu mahasiswa membuat langkah Ansel terhenti seketika. Ansel menoleh dan membulatkan matanya saat mendapati Diandra sudah tersungkur diatas lantai.
Ansel mematung ditempatnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Haruskah dia menolong Diandra atau meneruskan langkahnya untuk mengejar Bella?
"Dari hidung ibu ini keluar darah." Teriakan panik salah satu mahasiswi yang berada di dekat Diandra langsung membuat Ansel tanpa berpikir lagi lari ke arah wanita itu.
__ADS_1
Ansel menerobos masuk dan mencoba melihat keadaan Diandra. Mahasiswi tadi tidak berbohong, Ansel memang melihat darah segar keluar dari hidung wanita itu.
Tanpa basa basi lagi Ansel langsung menggendong tubuh Diandra menuju ruang kesehatan.
Renata menoleh kaget saat Ansel datang ke ruangannya sambil membopong tubuh Diandra.
"Tolong periksa dia ren!" Ansel meletakan tubuh Diandra dikasur. Matanya menatap bingung sekaligus cemas.
"Saya gak tau dia tiba-tiba pingsan terus keluar darah dari hidungnya."
Ansel mencoba menjelaskan pada Renata kronologinya
Renata mengangguk lalu mulai memeriksa kondisi Diandra. Dia pun mengambil beberapa kapas untuk membersihkan sisa Darah di hidung wanita itu.
Ansel masih tetap berdiri mematung ditempatnya. Kejadian demi kejadian yang begitu mendadak belum bisa dia cerna sepenuhnya.
"Ansel kita duduk dulu yuk! ada yang mau saya kasih tau ke kamu.." Ajak Renata sambil menyelimuti tubuh Diandra yang masih tak sadarkan diri.
Ansel hanya diam namun Renata kemudian memberikannya kode agar Ansel mau menuruti ucapannya.
"Please, ini penting banget Sel, sebentar aja.." Renata terlihat memelas.
Akhirnya Ansel menurutinya. Dia pun duduk di sebelah temannya itu.
"Sel, kamu pasti syok banget Diandra tiba tiba muncul lagi dihadapan kamu, dia sebenernya.."
Renata menghela nafas panjang.
Renata kemudian berdiri dan mengambil selembar kertas yang terlipat diatas meja kerjanya.
"Ini, bacalah, ini jawaban dari semua pertanyaan kamu tentang hilangnya Diandra selama ini."
Ansel mengerutkan keningnya namun dia akhirnya tetap menerima kertas itu dan segera membukanya.
Beberapa detik kemudian Ansel terperangah kaget saat melihat ternyata kertas itu adalah laporan kesehatan milik Diandra. Dan disitu tertulis dengan jelas Diandra mengidap penyakit leukimia.
"Gak mungkin!" Ansel menggeleng tak percaya.
"Stadium 3 Sel, sebagian sel kankernya sudah menyebar ke tubuhnya, Darah yang tadi kamu lihat di hidungnya adalah salah satu pertanda nya.." Renata menatap sedih ke arah sahabatnya Diandra.
"Dia sengaja gak ngomong sama kita semua karna dia gak mau bikin siapapun khawatir. Dia sudah melewati tahun-tahun yang berat sendirian Sel. Saya mohon sebagai sahabatnya, setidaknya bersikaplah baik padanya." Renata menambahkan.
"Apakah penyakitnya masih bisa disembuhkan?" Ansel tiba tiba melontarkan pertanyaan itu.
Renata hanya diam.
Ansel menoleh dan menatap temannya itu menunggu jawaban.
"Kemungkinannya kecil sekali karna sel kanker sudah menyebar hampir ke seluruh bagian tubuhnya.."
__ADS_1
Bak disambar petir di siang bolong, seluruh tubuh Ansel tiba-tiba lemas seperti tak bertulang. Ansel sampai tak sadar kalau kertas di tangannya telah terjun bebas ke lantai.
Ansel teringat kembali kejadian beberapa tahun silam. Saat Diandra tiba tiba pergi meninggalkannya tanpa kabar apapun. Saat itu dia seolah kehilangan seluruh dunianya. Dia mengira jika Diandra pergi karna sudah tidak ingin bersama dengannya. Ternyta Ansel salah, jadi ini alasan sebeneranya.
Ansel mengusap wajahnya sendiri. Sekarang perasaannya benar benar campur aduk. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Ansel berdiri dan mendekat ke arah ranjang Diandra. Dia melihat gadis itu sangat pucat wajahnya.
"Kenapa Di? kenapa kamu gak cerita semua ini dari awal? mungkin kejadiannya gak bakal kaya gini." Ucap Ansel lirih.
Ansel pun melangkah keluar ruangan dengan langkah gontai.
"Kamu mau kemana Sel? kamu gak mau nungguin dia sadar?" Tanya Renata ketika melihat Ansel malah hendak pergi keluar pintu.
"Saya butuh waktu buat mencerna semuanya Ren.. Kau tolong jaga dia." Ucap Ansel tanpa menoleh.
Renata mengangguk. Renata paham semua ini pasti sangat sulit di terima oleh Ansel.
Sementara itu Bella duduk termenung di taman depan kampusnya. Dia terbayang bayang kejadian tadi, saat wanita itu memeluk Ansel didepan matanya sendiri.
"Bella.." Inyong dan Sasya menghampiri Bella den duduk mengapitnya.
Tapi Bella malah ngelamun. Dia bahkan tak sadar dengan kehadiran dua orang sahabatnya itu.
"Ih ngelamun jorok lo ya!" Inyong menepuk paha Bella dengan kencang. Barulah Bella menoleh kaget.
"Kita mah nungguin lo di kantin, ngapain malah ngelamun sendirian disini?" Tanya Sasya merasa heran karna melihat wajah Bella yang begitu tidak bersemangat.
Bella menggeleng pelan.
Tiba tiba segerombolan mahasiswi dibelakangnya yang baru datang nyeletuk.
"Eh lo liat gak tadi? Dosen baru itu pingsan terus Pak Ansel langsung lari ngegendong dia dong ke ruang kesehatan, wajahnya keliatan panik gitu, apa mereka punya hubungan ya?" Salah seorang dari mahasiswi itu membuka percakapan.
Inyong dan Sasya langsung menatap Bella yang kelihatannya diam mendengarkan pembicaraan mereka.
"Gue denger sih dosen baru itu mantan pacarnya Pak Ansel dulu.. ya wajarlah dia panik, mungkin masih ada rasa kali ya.." teman di sampingnya menambahkan.
Bella tertegun. Dadanya tiba tiba merasa sesak kembali.
Inyong memberi kode pada Sasya untuk mengajak Bella pergi dari sana secepatnya. Dia tidak ingin Bella sedih mendengar perbincangan tentang suaminya itu.
"Bell, kita ke kantin aja yuk! gue laper banget.." Ajak Sasya sambil menarik lengan Bella.
"Gue gak laper, kalian duluan aja.." Bella kemudian berjalan dan pindah posisi ke bangku yang ada di depannya, disitu lebih sepi dan tidak ada mahasiswi lain juga.
Bella tertunduk sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong. Bagaimana kalau memang benar kata salah satu mahasiswi tadi. Jangan-jangan Pak Ansel masih punya perasaan pada mantannya itu?
bersambung..
__ADS_1