
Jangan lupa vote dulu ya sebelum membaca 😁
Setelah Citra tertidur, Ansel berjalan keluar kamar untuk mencari udara segar, hari ini benar benar melelahkan baginya, Orang tuanya baru kembali besok dari luar kota, dia bingung bagaimana cara memberitahu mereka tentang kondisi Citra saat ini, mereka pasti akan sangat sedih kalau tahu Citra telah kehilangan bayinya.
Ansel berjalan ke arah kantin rumah sakit dan memesan secangkir kopi, Ansel teringat Bella lalu wajahnya tambah muram. Dia tak menyangka Bella akan nekat mendorong Citra hanya karna cemburu kepada Diandra.
Ansel hendak menelpon Zio, diapun merogoh ponsel disaku celananya, Ansel mengerutkan kedua alisnya ketika melihat satu pesan masuk dari Bella. Dia tak mengetahui ada pesan masuk karna ponselnya tadi sedang di silent.
From: Bella
'Selamat tinggal, terima kasih untuk semuanya'
Ansel tersenyum kecut, ini pasti hanya gertakan. Bella pasti sengaja menulis ini untuk membuat Ansel merasa menyesal sudah membentaknya tadi, Ansel meneguk kopinya sambil menarik napas panjang.
Tak lama hpnya berdering, terlihat panggilan masuk dari nomor rumahnya.
"Hallo den, bi Iyam mau tanya apa aden mau nginep dirumah sakit sama non Bella malem ini?" Tanya Bi Iyam di ujung telpon.
Ansel merasa bingung.
"Tidak bi, cuman saya yang menginap disini, bukannya Bella sudah pulang dari tadi?"
"Loh non Bella tadi emang balik den, tapi balik lagi bawa koper loh den si agus tadi yang liat di depan pintu, tak kirain mau kerumah sakit lagi.."
Deg
Tiba tiba Ansel tertegun. Dia langsung ingat pesan dari Bella yang baru dibacanya tadi.
"Yaudah bi, nanti saya telpon lagi."Ucap Ansel sambil menutup telpon dengan cepat.
Ansel langsung beralih ke kontaknya dan menelpon nomor Bella.
Tut tut tut
Nomor Bella tidak aktif, Ansel mulai terlihat cemas, dia kembali menekan panggilan keluar, dan hasilnya sama saja, panggilan langsung terputus.
Dia berdiri dan hendak pulang untuk memastikan, tapi langkahnya tiba tiba terhenti. Dia ingat kembali peristiwa tadi, dia masih marah pada Bella dan mengurungkan niatnya.
'Biarlah mungkin Bella hanya sedang menenangkan diri kerumah sahabatnya' Gumam Ansel dalam hatinya.
Namun Ansel tak bisa membohongi dirinya, hatinya tidak tenang sekali dan merasa sangat cemas.
Semalaman itu Dia bahkan tak bisa memejamkan matanya sedetikpun hingga akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi.
Dia akhirnya tak sabar dan langsung merogoh ponselnya untuk menelpon kembali nomor Bella.
__ADS_1
Namun sialnya nomor Bella ternyata masih tidak aktif. Ansel mengetuk-ngetukan hpnya ke dagunya sendiri. Dia terlihat kalang kabut sekali.
Akhirnya Ansel menelpon lagi ke nomor rumahnya untuk bertanya pada bi Iyam apa Bella sudah pulang atau belum?
"Hallo bi, Bella sudah pulang belum?" Tanya Ansel dengan wajah penuh harap.
"Hallo den, belum den, non Bella belum pulang kerumah.."Jawab bi Iyam di sebrang telpon.
Ansel pun langsung menutup telponnya dengan wajah gusar.
Tiba tiba Ansel teringat pada Zio, ya dia akan meminta tolong Zio saja untuk menghubungi pacarnya Sasya dan menanyakan apakah Bella bersamanya, karna Ansel tau jika Sasya adalah salah satu sahabat baik istrinya.
Ansel pun kembali menelpon, kali ini dia menekan nomor Zio. Tak lama Zio mengangkat telponnya.
"Hallo men, ada apa?"
"Zi, gue minta tolong telponin Sasya dan cari tahu apa semalam Bella pulang kerumah dia.."
"Apa? maksud lo men? emang Bella kemana?" Zio terdengar kaget dari nada bicaranya.
"Nanti gue ceritain kalau ketemu, sekarang lo lakuin yang gue suruh, kalau udah dapet informasi soal Bella langsung kabarin gue ok!" Ansel menutup telpon dan berharap Zio cepat mendapat info yang dia mau.
Ansel mondar mandir tak tenang didepan kamar Citra, tiba tiba Kevin keluar dan berdiri menatapnya.
"Ada apa kak Ansel?" Tanya Kevin. sepasang mata Ansel menatap Kevin dengan tajam, seperti seekor elang yang melihat tikus buruannya.
"Ada apa kak?" Tanya Citra dengan suara yang masih terdengar parau. Citra melihat wajah Ansel seperti tidak tenang.
Ansel baru mau menjawab namun tiba tiba hpnya berderit, panggilan masuk dari Zio. Dia pun buru buru mengangkatnya.
"Hallo Zi, gimana?"
"Men, kata Sasya sih Bella gak kerumahnya, Sasya udah nanya ke Inyong sahabatnya Bella yang lain juga sama aja jawabannya Bella gak kesana.."
Ansel langsung tertegun, kemana sebenarnya Bella? apa mungkin dia kembali ke kampung halaman orang tuanya? hanya itu satu satunya tempat terakhir yang mungkin Bella datangi.
"Kenapa sih kak? ada masalah apa?" Tanya Citra merasa heran dengan tingkah kakaknya.
"Bella sepertinya pergi Cit, semalam dia tidak pulang kerumah.." Jawab Ansel akhirnya.
Citra diam sejenak.
"Baguslah dia tahu diri berarti! gara gara dia aku kehilangan bayiku!" Mata Citra kembali berkaca kaca. Rasanya hancur sekali setiap mengingat kejadian yang sudah merenggut nyawa bayinya itu.
Ansel mendekati Citra dan memeluknya.
__ADS_1
"Cit, apa kau yakin Bella yang mendorongmu?" Tanya Ansel tiba tiba.
"Kenapa? kakak ragu pada ucapan ku? aku yakin dia yang mendorongku karna waktu itu hanya ada kami berdua di dalam kamar itu."
Ansel tak berkata apa-apa lagi, sejujurnya dia agak ragu Bella bisa melakukan hal sekejam itu pada Citra. Tapi dari ucapannya Citra begitu yakin Bella yang melakukannya, Ansel bingung harus percaya pada siapa.
Disebuah tempat makan
Sarah duduk dengan wajah bahagia menunggu kedatangan Kevin, dia sudah janjian dengan pria itu disana sekalian untuk makan siang.
Sarah tak sabar untuk memberitahu Kevin jika dirinya sekarang sedang mengandung buah hasil cinta mereka.
"Sayang maaf, kamu udah nunggu lama ya?" Sapa Kevin tiba tiba muncul dari arah belakang.
Sarah mendongak lalu tersenyum.
"Tidak sayang, aku juga baru sampai.."
"Ouh iya sayang, aku ada kabar baik buat kita!" Ucap Kevin sambil duduk dihadapan Sarah.
"Ouh ya? sama dong! aku juga ada kabar baik buat kamu.." Sarah ikut menimpali Kevin.
"Yaudah aku dulu ya yang ngasih tau kabar baik ke kamu.."
Sarah mengangguk setuju.
"Kamu tau gak Sar, Citra abis keguguran dan sebentar lagi Ansel bakal sibuk karna Bella pergi dari rumah!"
Sarah kontan melotot kaget mendengar kabar itu.
"Kok bisa Kev? jadi itu kabar baiknya? Citra keguguran Kev, anak kamu loh itu!" Sarah merasa aneh melihat Kevin malah tidak terlihat sedih sedikitpun.
"Aku juga sedih sayang kehilangan anak aku, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bermaksud sampai sejauh ini.."
"Maksud kamu? aku makin gak ngerti nih! Terus Bella kenapa emang pergi dari rumah?"
"Iya Sar, sebenernya semalem pas Citra ke kamar Bella, aku sengaja nyuruh orang matiin lampu rumah, terus aku masuk dan aku dorong deh Citra ke lantai dan tau tau perut dia malah kebentur meja, Citra keguguran karna itu, dan kamu tau gak hal baiknya? Bella yang sekarang disalahkan sama mereka.. aku puas banget!" Desis Kevin dengan wajah yang terlihat bahagia.
Sarah kontan ternganga, dia benar benar syok mendengar pengakuan Kevin itu.
Sarah sangat heran, bagaimana mungkin seorang ayah yang baru saja kehilangan anaknya gara gara ulahnya bisa dengan santainya menceritakan itu kehadapan nya.
Sarah merasa ngeri dan tak habis pikir pada Kevin. Dia mengelus perutnya sendiri. Seketika niatnya untuk memberitahukan kehamilannya pun urung.
Jika Kevin bisa dengan tega menghilangkan nyawa anaknya sendiri demi mencapai keinginannya, bukan tidak mungkin Kevin juga bisa melakukan hal yang sama kepada bayinya.
__ADS_1
Sarah baru sadar ternyata selama ini dia mencintai pria yang begitu egois dan hanya mementingkan kepentingannya sendiri.
bersambung..