
Ansel berjalan menyusuri jalan setapak dengan penuh keyakinan, dia bertanya pada setiap penduduk desa disana dengan membawa ponselnya dan menunjukkan foto Bella istrinya, dia berharap ada salah satu diantara para penduduk itu yang melihat gadis itu.
Namun pencariannya dihari ke lima tetap tidak membuahkan hasil. Tak ada satupun yang melihat Bella di desa Munduk itu.
Bella memang tidak pernah keluar rumah kecuali pergi ke halaman depan membantu ibu Laras mengurus tanaman hiasnya.
Untuk keperluan makan Bella pun ibu Laras yang menyiapkan semuanya mengingat Bella sedang hamil muda, ibu Laras khawatir jika membiarkan Bella berkeliaran di desa yang baru saja di tinggali nya. Jadi wajar saja tidak ada penduduk asli sana yang tahu tentang keberadaanya.
Ansel menghela nafas panjang, dia berdiri di pinggir danau sambil menatap perkebunan kopi yang terhampar di depannya. Pikirannya kembali mengawang.
'Apa jangan jangan Bella sudah pergi dari desa ini?' Wajah Ansel mendadak mendung.
Lama Ansel berdiri disana sampai akhirnya dia kembali memutuskan untuk mencari Bella lagi.
Ansel menggeber motor trail nya ke arah perkebunan kopi, dia mulai bertanya lagi pada setiap warga yang sedang berkebun disana, namun tak ada satu pun yang tahu keberadaannya Bella, semua hanya menggelengkan kepalanya.
Ansel menarik napas gusar, dia mulai putus asa. Sepertinya memang Bella sudah tidak ada di desa Munduk ini. Mungkin dia sudah pergi ke tempat lain.
Tak jauh dari tempat Ansel berdiri sebuah mobil jeep terparkir di bawah lereng kebun. Sang pemilik jeep yang duduk dibelakang kemudi stir menyipitkan matanya sambil mengamati setiap pergerakan Ansel dengan sorot mata yang tajam.
Alaska mengetuk ngetuk dasbor sambil menggaruk garuk dagunya sendiri.
'Apa dia harus memberitahu Ansel kalau istrinya sekarang ada di Villanya?' Alaska membatin dalam hatinya. Tapi bagaimana dengan Bella? bagaimana jika Bella memang pergi ke desa ini sengaja untuk menghindari Ansel? Alaska jadi bingung sendiri.
Lama Alaska memarkirkan jeep nya disana sampai akhirnya dia melihat Ansel turun dan kembali menjalankan motornya ke arah perkebunan cengkeh.
Di lihat sekilas saja Alaska bisa tahu kalau Ansel pasti sudah mencari Bella selama berhari hari, dia bahkan sempat mendengar tentang sayembara itu.
Alaska menggeleng pelan. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali saja ke Villanya tanpa memberitahu Ansel soal keberadaan Bella.
Seminggu berlalu, Bella mulai bisa beradaptasi di Villa itu, kegiatannya menanam tanaman hias milik Ibu Laras membuatnya sedikit bisa melupakan sejenak masalahnya dengan Ansel.
Namun saat malam tiba dan ketika dia seorang diri di dalam kamar, bayangan Ansel muncul kembali di dalam pikirannya, mengambil alih ketenangannya padahal dia sudah mati matian mengalihkan pikirannya pada hal lain namun ternyata gagal total.
Malam itu Bella duduk di depan balkon kamarnya sambil mengelus perutnya, dia menatap rembulan ditemani dengan sepiring pisang goreng dan secangkir teh jahe yang dibuatkan Ibu Laras untuknya.
Suasana malam di desa Munduk benar benar berbanding terbalik dengan di kota jakarta, suasana disana benar benar tenang, tak ada suara knalpot motor yang bising ataupun hingar bingar tempat hiburan malam, yang terdengar hanyalah suara jangkrik yang saling bersahutan.
Alaska tiba tiba datang dan langsung mencomot satu pisang goreng lalu sedetik kemudian pisang goreng itu sudah berpindah tempat ke dalam mulutnya.
"Sorry Bell, abis baunya enak banget, kenapa di anggurin sih pisang gorengnya?" Alaska duduk di samping Bella.
__ADS_1
Pria itu menatap Bella dengan mulutnya yang masih belepotan karna sibuk mengunyah pisang goreng.
"Ya ntar gue makan kok Al, gue mau nanya deh sama lo, lo kapan balik lagi ke jakarta?" Tanya Bella sambil menatap Alaska lurus.
"Mungkin minggu depan Bell.." Alaska masih tetap santai mencomoti pisang goreng dihadapannya.
"Lo ngambil cuti? kan belum libur semester, apa gak masalah gak masuk selama itu?"
Sesaat Alaska berhenti mengunyah sambil menoleh ke arah Bella.
"Terus lo sendiri gimana? udah hampir dua minggu lebih loh Bell, absen lo udah pasti merah semua Bell, konsekuensi terburuknya nilai lo bakal anjlok dan beasiswa lo bisa dicabut! lo pasti tau itu kan?" Alaska berdecak heran.
Bella tampak menghela nafas panjang.
"Entahlah Al, gue juga bingung ke depannya harus apa.."
Alaska menatap Bella lekat lekat lekat. Sepertinya Bella sedang menghadapi masalah yang sangat berat, terlihat dari raut wajahnya yang selalu muram akhir akhir ini.
Dia tak menyangka kepulangannya ke Bali malah mempertemukannya dengan Bella.
"Bell, sampai kapan lo mau sembunyi kaya gini? Apa lo gak mau kembali sama Pak Ansel? mungkin aja dia sekarang lagi sibuk nyariin lo.." Alaska mencoba memancing Bella.
Bella tampak diam sambil menggigit bibirnya.
"Kata siapa?" Pancing Alaska lagi.
"Yah, karna terakhir kali gue pergi itu kita lagi berantem! lo tau gak? gue kesel banget karna dia gak pernah percaya sama apa yang gue bilang! bukankah didalam pernikahan itu harus saling percaya Al? kalau dia cinta sama gue harusnya dia bisa lebih mendengarkan omongan gue dibanding orang lain! biarin aja, lagian gue dan bayi gue juga bisa hidup meskipun tanpa dia!" Bella tak sadar sudah ngoceh panjang Lebar.
Setelah dia menatap Alaska yang terbengong bengong barulah Bella sadar kalau dia baru saja mengatakan semuanya kepada pria itu.
Oops, Bella langsung menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.
Alaska menggeleng pelan sambil menahan senyum.
"Gue udah duga, lo pasti lagi berantem sama Pak Ansel.. Gimana kalau ternyata dia lagi ada dikampung ini nyariin lo Bell?" Alaska mendekatkan wajahnya sambil menyeringai lebar.
"Hah serius?" Bella tampak kaget. Namun buru buru dia normalkan kembali ekspresinya.
Alaska terkekeh pelan.
"Katanya tadi bisa hidup tanpa Pak Ansel.." Ucapn Alaska membuat Bella tampak kesal.
__ADS_1
Bella terlihat manyun, sialan! Alaska ternyata hanya sedang menggodanya saja.
Namun Bella tak tau kalau sebenarnya Alaska mengatakan hal yang sebenarnya, Ansel memang sudah ada di desa itu, mencari keberadaannya sejak beberapa hari belakangan.
Pagi hari jam 06.30 wib di Desa Munduk.
Pagi itu entah kenapa tiba tiba Bella ingin sekali makan rujak, sepertinya bawaan bayi di dalam perutnya.
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke pasar yang letaknya ada di bawah perkebunan tak jauh dari rumah ibu Laras, Bella sengaja tidak memberitahu ibu Laras bahwa dia keluar rumah pagi itu karna Ibu Laras pasti tidak akan mengijinkannya.
Bella berjalan kaki menyusuri jalan setapak diarea perkebunan kopi. Pagi itu cuaca begitu sejuk, kabut tipis menyelimuti setiap langkah kaki Bella. Bella mengenakan kardigan berwarna hitam dengan dipadukan dres bergambar bunga lili yang membuat tampilannya terlihat sangat anggun dan cantik.
Bella menghentikan langkahnya saat berada di tengah perkebunan, Bella tertegun saat melihat seorang perempuan seusia dengannya sedang berdiri ketakutan, dihadapan perempuan itu terlihat tiga orang pria berbadan besar tengah menyeringai ke arahnya.
"Lepaskan aku tuan, kumohon!" Pinta perempuan itu dengan wajah memelas sambil menyatukan kedua tangannya memohon belas kasih.
"Haha, cih enak saja minta dilepaskan! kau tahu tidak? orang tuamu itu sudah terlilit hutang dan tidak bisa membayar sepeserpun! jadi jangan salahkan kami kalau kami minta kau yang membayarnya!" salah seorang pria maju dan mencengkram kedua lengan gadis itu.
Bella tersentak, buru buru dia membungkuk agar tidak kelihatan oleh mereka.
"Tapi aku tidak punya uang Tuan, lepaskan aku, aku berjanji akan mencari pekerjaan dan melunasi semua hutang hutang orang tuaku.."
Gadis itu panik dan meronta memukuli pria yang memeganginya.
"Enak saja! orang tua mu itu sudah terlalu banyak membual! kami tidak akan tertipu lagi dengan janji manis kalian!"
Salah seorang pria datang dan ikut memegangi perempuan itu hingga kini dia tidak bisa berkutik sedikitpun dibawah cengkraman dua pria disamping kanan dan kirinya.
"Tapi tenang saja, Tuan kami akan menganggap lunas semuanya asalkan kau mau melayani dia.." Ucap seorang pria berbadan besar dengan tato di lengan kanannya.
Seorang pria yang sedari tadi berdiri dibelakang pun maju, dia tersenyum mengusap dagunya sambil memandang perempuan tadi dengan tatapan me sum. Sepertinya dia yang dimaksud 'Tuan' oleh kedua orang temannya.
Bella mengamati setiap gerak gerik adegan di depannya dengan wajah tegang.
Bella berpikir keras apa yang bisa dia lakukan untuk menolong perempuan itu, karna sepertinya ketiga pemuda itu punya maksud jahat pada si perempuan itu.
"Aaahhh tidak!" Wanita itu berteriak ketika seseorang yang dipanggil Tuan itu menyibak kan roknya ke atas, namun mulutnya segera dibekap oleh salah satu pria disampingnya.
Perlahan pria yang dipanggil Tuan itu mencengkram dagu wanita itu dengan kasar.
"Arum.. bayar saja semua hutang orang tuamu dengan menyerahkan keperawanan mu kepadaku, dengan begitu aku akan menganggapnya lunas! dan kau bisa bebas setelah ini.." Ucap pria itu dengan tatapan penuh makna.
__ADS_1
Bersambung..