SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Rasa yang tak bisa ditolak


__ADS_3

Esok paginya saat waktu menunjukkan pukul 08.00 wib dirumah kediaman keluarga wijaya


Kevin sedang sibuk memakai bajunya sementara Citra baru selesai mandi dan dia keluar dengan mengenakan handuk yang membungkus tubuhnya yang sudah mulai terlihat membuncit keluar.


Citra berkaca didepan kaca besar seukuran badannya yang terletak dimeja riasnya. Citra bertolak pinggang sambil membolak balikan badannya sendiri ke kiri dan ke kanan.


"Sayang, kenapa?" Tanya Kevin sambil menghampiri Citra dan memeluk istrinya dari belakang.


"Aku gendutan ya sayang?"


Kevin malah tertawa mendengar pertanyaan konyol dari istrinya.


"Ya iyalah sayang, kamu kan lagi hamil ya jelas perut kamu bakal terus bertambah besar setiap harinya.." Kevin ikut menatap tubuh Citra didepan cermin.


"Kamu masih tetep cintakan sama aku walaupun nanti perut aku bakal segede balon? kamu gak akan nyari cewek lain kan?" Tanya Citra sambil menoleh ke Kevin.


Kevin perlahan membalikkan tubuh Citra lalu memberikan satu kecupan di keningnya dengan mesra.


"Sayang, mau kamu segede balon, mau segede gentong kek, aku bakal tetep setia sama kamu.."


Citra memeluk Kevin dan membenamkan wajahnya di dada suaminya. Sementara Kevin terlihat tersenyum licik dibalik pantulan kaca dihadapannya.


Sebelum berangkat ke kampusnya, Kevin mampir dulu kerumah Sarah.


Sarah langsung membukakan pintu saat tahu Kevin sudah ada didepan rumahnya.


"Sayang! ayo masuk sini!" Sarah langsung tersenyum sumringah.


Kevin buru masuk kedalam, Sarah sedang mengunci pintu dan menutup jendela ruang tamu, Kevin pun langsung memeluknya dari belakang. Diciumnya pipi Sarah dengan mesra sementara kedua tangannya sudah merayap ke dalam baju Sarah.


"Sayang, jangan disini, ayok ke kamar!" Ucap Sarah dengan nada manja dan centil. Namun Kevin tak peduli, dia malah langsung mendaratkan satu pagutan brutal dibibir Sarah.


"Aku udah gak tahan sayang.." Ucap Kevin dengan nafas memburu. Dipeluknya kembali gadis itu dengan erat.


Namun Sarah langsung melepaskan diri dan mengajak Kevin untuk langsung ke kamar saja. Sarah ngeri kalau sampai ada yang mengintip mereka diluar bisa gawat urusannya.


Sarah dan Kevin pun akhirnya masuk kedalam kamar tanpa mengetahui kalau perbuatan mereka barusan sudah terekam oleh kamera Cctv milik Sasya.


***


Sementara itu dikampusnya Bella sedang duduk bersama Inyong dan Sasya di kantin kampus. Sasya dan Inyong sedang sibuk membicarakan acara kamping tahunan yang sudah rutin diadakan di Brawijaya untuk mempererat tali persaudaraan sesama mahasiswi dan mahasiswa disana.

__ADS_1


Kabar yang beredar kegiatan rutin ini akan diselenggarakan akhir pekan ini. Semua mahasiswi/mahasiswa dari fakultas manapun diperbolehkan untuk ikut, Juga para jajaran dosenpun di haruskan untuk turut serta agar bisa lebih dekat dengan para anak muridnya.


"Alaska ikut gak ya kira-kira?" Tanya Inyong seketika sambil mengunyah batagor dengan suapan super jumbo.


"Mana gue tau nyong, gue kan bukan emaknya apalagi bapaknya!"


Bella mengangkat bahunya sambil menyeruput teh botol ditangannya. Pertanyaan Inyong memang konyol.


"Mudah-mudahan dia juga ikut deh, kan Inyong lebih semangat jadinya.."


"Kaya mau ujian aja lo semanget semanget!" Cibir Sasya dengan nada bercanda.


"Tau. Kaya mau ikut lomba 17 agustusan aja!" Timpal Bella sambil menahan tawa.


"Yaelah lo berdua gak bisa liat Inyong seneng apa! dah sih iya in aja napa!" Desis Inyong sambil mendelik kesal.


"Yaelah Nyong candaa!" Seru Sasya dan Bella bersamaan.


"Eh, tapi kalian ikut juga kan?" Inyong menatap Bella dan Sasya bergantian. Keduanya pun mengangguk bersamaan.


"Kalau kita gak ikut nanti siapa dong yang ngecengin lo sama Alaska?"


"Eh Bell, ngomong-ngomong ceritain dong yang kemaren itu, yang lo ceritain di whatsap itu kayaknya seru tuh!" Sasya menatap Bella dengan wajah seperti anak kecil yang menunggu dongeng dari ibunya.


"Ouh iya, gue geh baru mau nanya Bell!" Inyong pun merapatkan tubuhnya dan mendekat ke arah Bella, menatap Bella dengan wajah penasaran.


Bella jadi kikuk saat ingat kejadian kemarin. Bella menarik nafas dalam-dalam .


"Gue juga bingung ya sama sikap pak Ansel. Dia jadi aneh banget tau. Masa cuman gara-gara perut gue kram doang dia sampe nyuruh gue istirahat total dikamar. Abis itu gue gak boleh ngapa-ngapain lagi! Rese banget kan? ya kan?"


Kontan Sasya dan Inyong langsung mengerutkan keningnya.


"Terus ya gue ngerasa kok dia beda banget, dia kayak orang khawatir gitu tapi emang dasarnya harga dirinya tinggi banget dia gak pernah mau ngakuin itu!" Ucap Bella sebal.


Inyong dan Sasya pun saling bertatapan sambil menahan tawa geli.


"Kenapa lo berdua?"


"Yaelah lo aja yang oon Bell! itu berarti tandanya Pak Ansel udah mulai ada rasa sama lo!" Tandas Sasya dengan tegas.


Bella langsung ternganga dan menggeleng cepat.

__ADS_1


"Haha ngarang banget! mana mungkin Sya! lo ngaco kalau ngomong! dia itu nikah sama gue cuman buta balas dendam aja!" Bella menolak mentah-mentah opini yang diberikan oleh Sasya.


"Tapi si Sasya bener Bell. Menurut pengamatan Inyong dari cerita lo barusan itu, Pak Ansel emang udah mulai ada rasa sama lo!" Inyong menambahkan juga dengan nada yang mantap.


Bella terdiam. Apa iya ya yang dikatakan kedua sahabatnya? namun sedetik kemudian Bella langsung menggeleng dengan cepat. Dia gak mau geer! jangan sampe geer! ntar yang ada sakit hati lagi! Sudah cukup si brengsek Kevin saja yang sudah membuat hatinya hancur.


Padahal di hati kecilnya sebenarnya Bella mulai mempertanyakan satu hal, mengapa dia akhir-akhir ini sering berdebar debar setiap kali Pak Ansel menyentuhnya. Apa jangan-jangan dia juga mulai ada rasa pada pria itu? Arghhhhh Bella menjerit frustasi didalam hatinya.


***


Sementara didalam kamar kontrakan Kevin sedang tidur berdua dengan Sarah tanpa sehelai benangpun. Setelah melakukan hubungan itu Kevin ambruk disamping Sarah dengan nafas yang memburu. Sarah memang luar biasa selalu membuatnya kewalahan.


"Sayang.. kamu ikut kamping akhir pekan ini?" Tanya Sarah sambil menyandarkan kepalanya di dada Kevin.


"Iya dong sayang ikut! kamu juga ikutkan?"


"Iya deh aku ikut kalau kamu ikut.." Sarah memeluk Kevin dengan manja.


"Gitu dong. Aku juga punya rencana besar sayang.. Aku berencana mau ngabisin si bangsat itu pas kita kamping nanti!"


Hah? Sarah langsung menoleh kaget.


"Maksud kamu apa sih? ngabisin siapa?"


Tanya Sarah panik.


"Ya si Dosen Killer lah sayang! siapa lagi? aku tuh udah nyiapin rencana bagus biar seolah-olah kematiannya nanti itu terjadi karna sebuah kecelakaan. Soalnya pas banget tuh momen nya, kitakan bakal kamping ditengah bukit, nah disitu nanti aku dan temen-temen aku bakal ngejalanin rencana kita!"


Sarah makin ternganga.


"Kamu tenang aja sayang, gak perlu panik gini dong! aku jamin semuanya bakal berjalan lancar karna aku sama temen-temen aku udah ngerencanain ini matang-matang!" Ucap Kevin mencoba menenangkan Sarah karna dia bisa membaca kepanikan diwajah gadis itu.


"Kalau gagal gimana? kalau dia gak dateng ke kamping gimana?" Tanya Sarah dengan raut wajah yang berubah takut.


"Gak bakal gagal sayang karna kita pakai umpan yang paling manjur yakni.." Kevin tersenyum licik, dia menatap Sarah lalu melanjutkan kalimatnya.


"Bella!"


Sontak Sarah melemas dan tak mampu berkata apa-apa.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2