
Ansel menarik tangan Bella dan langsung membukakan pintu mobilnya agar Bella segera masuk. Bella tak berontak karna dia sedang tidak ingin ribut dengan Ansel.
Ansel duduk di kursi kemudi dan langsung menyalakan mobilnya. Mobil Fortuner Anselpun melaju dengan sangat cepat menuju ke arah rumahnya.
Sesampainya dirumah Bella langsung berlari ke kamarnya tanpa berkata apa-apa lagi. Ansel langsung menyusulnya dibelakang dengan menatap punggung gadis itu lurus-lurus.
Klek
Ansel masuk ke kamarnya dan mendapati Bella tengah duduk disisi ranjang sedang sibuk melepaskan aksesoris yang menempel ditubuhnya.
"Bapak pasti mau ngomel-ngomelin saya kan? bapak mau nuduh saya lagi kan? sebelum bapak nanya saya bakal jelasin dengan senang hati! dia itu namanya Alaska, dia katanya ngefans sama saya, udah itu aja. Terserah deh ya bapak mau percaya atau engga saya gak peduli!" Ucap Bella garang dengan wajah dongkol. Emang dia kira dia doang yang bisa galak! gumam Bella dalam hatinya.
Ansel hanya diam membiarkan Bella mengeluarkan semua yang ada dipikirannya.
Setelah itu Bella bangkit dan hendak mencuci wajahnya dikamar mandi, namun tiba-tiba tangan kekar milik Ansel memeluk tubuhnya dari belakang.
Jantung Bella seketika berdegup lebih cepat! Sial perasaan aneh itu datang lagi! Bella mencoba menepisnya.
Ansel membalikkan tubuh Bella dan menatapnya tepat di manik mata Bella.
Bella mulai meronta namun Ansel langsung mendekatkan wajahnya dan memberikan satu pagutan dibibir Bella. Bella kontan kaget dan berusaha mendorong tubuh pria itu tapi Ansel mencengkram pergelangan tangan Bella dengan kedua tangannya.
Mata mereka saling bertemu satu sama lain. Ansel terus menatap Bella dengan tatapan yang Bella sendiri tidak bisa mengartikannya.
Sekian lama Ansel menahan ciumannya dibibir Bella. Membuat Bella sampai kesulitan bernafas karna Ansel tak memberikannya jeda sama sekali. Sampai akhirnya Ansel meluruhkan sedikit cengkramannya.
Bella merasakan ada yang beda dari ciuman Ansel kali ini. Ansel melakukannya dengan lebih lembut atau mungkin itu hanya perasaannya saja?
Hingga akhirnya Ansel melepaskan bibirnya dari bibir gadis itu.
"Bella, ingatlah kau hanya milikku! Tak ada siapapun yang boleh menyentuhmu selain aku, kau paham!" Ucap Ansel tegas tanpa menunggu jawaban dari Bella. Anselpun pergi keluar kamar meninggalkan Bella seorang sendiri.
Bella ternganga dan mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Dasar seenaknya sendiri!
Diluar kamar Ansel bergegas ke dapur untuk mengambil air dingin didalam kulkas. Sesampainya di dapur segera dituangkannya air putih kedalam gelas kaca yang lumayan besar lalu di teguknya air itu sampai tak bersisa. Ansel mengelap bibirnya dengan punggung tangannya sendiri.
Ansel menggebrak meja dengan keras. Dadanya terasa panas saat melihat Alaska hendak memegang tangan Bella tadi dan kenapa juga jantungnya berdegup lebih kencang saat dia mencium Bella barusan? apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya? padahal tadi dia hanya berniat membuat gadis itu takut..
Ansel menghela nafas berat. Dia sudah bertekad untuk menutup hatinya sejak kejadian itu. Sejak Diandra meninggalkannya dia sudah memutuskan untuk tidak percaya pada hal-hal konyol semacam cinta.
Baginya cinta itu bullshits! Tapi hari ini, detik ini, sepertinya ada yang sudah mulai meruntuhkan keyakinannya itu. Dan hatinya mulai merasakan getaran itu lagi.
Esoknya jam 08.00 wib dirumah kediamaan Tuan Hamis Wijaya
Ansel panik saat mendengar teriakkan dari kamar adiknya Citra. Ansel langsung bergegas keluar kamar, Bella yang sedang sibuk memasukkan buku-bukunya kedalam tas pun ikut bangkit dan langsung menyusul ke kamar adik iparnya.
Bella tersentak kaget saat melihat Kevin tengah membopong tubuh Citra ke atas ranjang.
__ADS_1
"Citra kenapa Kevin?" Tanya Ansel dengan wajah yang sangat panik. Pria itu langsung ikut membantu membopong tubuh Citra.
"Dia jatuh di kamar mandi kak." Jawab Kevin yang juga terlihat sangat panik.
Akhirnya Anselpun memutuskan untuk langsung membawa adiknya itu ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya dirumah sakit, Citra langsung dilarikan ke ruang IGD. Semua orang yang mengantar disuruh menunggu diluar ruangan. Terlihat Ansel, Kevin dan Bella setia menunggu disana. Sementara kedua orang tua Citra tidak bisa menemaninya karna mereka berdua sedang berada di kanada saat ini untuk mengurusi bisnis keluarga dan baru pulang besok paginya.
Ansel mondar mandir selama Citra diperiksa didalam ruangan. Dia takut terjadi apa-apa pada Citra dan bayinya.
"Kenapa dia bisa sampai jatuh dikamar mandi?" Ansel melirik tajam ke arah Kevin.
Kevin menunduk sambil memalingkan wajahnya tak berani menatap Ansel.
"Saya gak tahu kak, tadi saya lagi siap-siap mau kuliah tiba-tiba aja Citra teriak dari dalam kamar mandi, terus pas saya samperina posisi dia udah terbaring dilantai" Ucap Kevin tergagap
Ansel mengatur nafasnya agar tak lepas kendali. Dia berdiri dengan punggung bersandar pada salah satu dinding didepan ruangan. Wajahnya terlihat sangat cemas dan khawatir.
Bella mendekati Ansel dan memegang pergelangan tangannya. Tak ada ucapan apapun yang keluar dari mulut Bella. Dia hanya berharap genggaman tangannya bisa sedikit mengurangi rasa cemas Ansel.
Ansel hanya diam tak bereaksi apapun. Kevin yang melihat itu merasa sangat cemburu dan tidak suka. Namun ditahannya rasa tidak sukanya itu karna dia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya diam.
"Apa kau tidak ada kelas hari ini?" Ansel menoleh ke arah Bella saat teringat gadis itu pasti meninggalkan kuliahnya untuk menemaninya disini.
"Aku bisa ijin tidak masuk hari ini.." Ucap Bella.
"Tapi.."
Bella hendak menolak namun Ansel langsung merogoh hp disaku bajunya dan menekan tombol nomor salah satu pengawalnya.
"Cepat kemari!" Ucap Ansel singkat lalu langsung menutup kembali telponnya.
Tak lama datang seorang pria dengan baju serba hitam menghampiri Ansel dengan setengah berlari.
"Kau antar Nona Bella kerumah, lalu setelah itu langsung antarkan dia ke kampusnya dengan selamat." perintah Ansel pada pengawalnya itu.
Pria itu mengangguk dan mempersilahkan Bella untuk berjalan didepannya.
Bellapun akhirnya pergi dari sana, sesekali dia menoleh ke belakang dan melihat Ansel sedang berdiri mematung menatap kepergiannya.
Kini hanya tinggal Ansel dan Kevin yang berdiri diluar ruangan.
Tak lama Dokter membuka pintu ruang IGD, dilepaskannya masker yang menutup wajahnya.
"Apa kalian keluarga pasien?" Tanya Dokter sambil menatap Ansel dan Kevin secara bergantian.
"Iya dok, bagaimana keadaan adik saya dan bayinya?" Tanya Ansel tak sabar.
__ADS_1
"Syukurlah tak ada luka serius pada beliau dan bayinya, tapi kita akan terus pantau selama 24 jam karna tadi sempat ada pendarahan. Tapi bapak tenang saja karna kita sudah memberikan obat penguat kandungan. Mudah-mudahan keadaannya cepat membaik."
Ansel langsung bernafas lega mendengar perkataan Dokter. Begitupun juga dengan Kevin, ada binar bahagia diwajahnya.
"Baiklah saya permisi dulu."
"Terima kasih Dok."
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan lagi akhirnya Citra siuman dan dia langsung dipindahkan ke kamar rawat inap.
Ansel dan Kevin langsung masuk ke dalam kamar untuk menemui Citra.
"Sayang, kamu gak apa-apakan?" Kevin membelai pipi Citra dengan lembut.
Citra menggeleng pelan.
Ansel memegang tangan Citra dan mengelus-ngelusnya.
Citra menatap Ansel, dia tahu pasti kakaknya ini panik setengah mati tadi.
"Kak, aku udah baik-baik aja, kaka gak perlu khawatir lagi ya.." Citra membalas genggaman tangan Ansel dengan tersenyum.
"Aku akan urus administrasinya dulu." Anselpun pergi meninggalkan Kevin dan Citra berdua saja disana.
Kevin mengelus-ngelus perut Citra dan menempelkan wajahnya disana.
"Sayang, maafin ayah ya, ayah lengah sampai-sampai ibu kamu tadi jatuh dikamar mandi. Maafin ayah ya sayang?" Kevin bertanya kepada Bayi yang ada didalam perut Citra. Citra tersenyum gemas melihat tingkah laku suaminya. Dielusnya kepala Kevin dengan penuh cinta.
Kevin mengangkat wajahnya dan memberikan ciuman di kening Citra dengan mesra.
"Maafin aku sayang, aku belum bisa jagain kamu dengan baik!" Kevin menggenggam tangan Citra dan duduk disisi ranjangnya.
"Gak perlu minta maaf sayang, tadi itu salah aku. Aku yang gak hati-hati sampai akhirnya kepleset." Citra tidak ingin Kevin merasa bersalah atas keteledorannya sendiri.
Akhirnya hari itu Dokter memutuskan Citra akan dirawat semalaman agar mendapatkan penanganan terbaik untuk kandungannya.
Tak lama hp Kevin bergetar. Kevin melihat pesan masuk ternyata itu dari Sarah, Kevin sengaja tidak menyimpan nomor sarah namun dia hafal betul angka-angkanya.
from: 08888xxxx
'Sayang apa kau jadi kerumah nanti malam?'
Lalu Kevin pun mereply pesan itu dengan cepat.
'Tentu sayang, aku akan datang menemui nanti malam, love you'
Kevin langsung memencet tanda Send dan dengan buru-buru dia hapus semua percakapan itu agar perselingkuhannya tak meninggalkan jejak sama sekali.
__ADS_1
bersambung..