SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Kehadiran Alaska di kampus


__ADS_3

Ansel menatap Bella lama dalam diam dan tak mengeluarkan sepatah katapun. Bella menjadi lebih gugup dan tak bisa menahan rasa malunya. Dia sama sekali tak bisa menebak apa yang ada didalam pikiran pria didepannya itu.


Seharusnya dia mengatakan sesuatu setelah memaksanya melakukan hubungan suami istri ini bukan? Kenapa dia tidak punya hati sama sekali!


Ansel mencabut miliknya dengan perlahan. Ansel berdiri dan mengambil handuknya dan mengalungkannya dileher Bella.


"Apa kau mau meneruskan mandimu? atau mau kita melakukannya sekali lagi? boleh saja kalau kau mau aku tidak keberatan.." Ansel menyalakan kran dan mulai menggosok tubuhnya tanpa memperdulikan ekspresi Bella yang melongo karna melihatnya benar-benar mandi dengan santainya didepan wajahnya.


Walaupun mereka sudah menjadi suami istri tetap saja Bella merasa sangat canggung. Apalagi pria ini benar-benar tidak bisa ditebak isi kepalanya. Dia selalu melakukan semuanya dengan spontan.


Bella masih meringkuk dalam bathup sambil memeluk kedua lututnya. Ansel telah selesai membersihkan diri. Setelah mengeringkan badannya dia hanya memakai kolor dan berjalan keluar kamar mandi.


Saat memegang gagang pintu dia menoleh sebentar ke arah Bella.


"Cepatlah mandi, apa kau mau tenggelam disana? kau akan masuk angin dan merepotkanku nanti!" Ucap Ansel dengan nada dingin.


Bella melotot kesal sambil menahan dongkol.


"Memangnya siapa yang sudah menenggelamkan saya dibathup ini hah?" Dengusnya sambil melemparkan cipratan air ke arah Ansel.


Pria itu malah ngeloyor pergi begitu saja tanpa menggubris Bella.


"Ah dasar gak punya hati!" teriak Bella jengkel.


Diluar kamar mandi


Ansel mengambil kaos dari dalam lemarinya. Wajahnya sedari tadi gelisah memikirkan kejadian barusan. Dia sama sekali tak berniat menyerang Bella dikamar mandi. Tapi melihat gadis itu nalurinya tiba-tiba saja bangkit dan dia sama sekali tak bisa mengontrol keinginannya.


Ansel bingung apa yang sedang terjadi pada dirinya, perasaan macam apa ini! Sial! jangan sampai dia jatuh cinta lagi! Tidak! dia sudah menutup hatinya rapat-rapat. Dia tidak ingin kejadian seperti Diandra terulang kembali dalam hidupnya.


Cukup hanya satu perempuan yang memporak porandakan perasaannya. Hanya satu dan tak akan ada yang lainnya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri.


Kejadian dimasa lalu seketika terlintas lagi dipikirannya. Ketika dia tengah berlari keliling kampus. Menanyai setiap manusia yang dilewatinya dengan ekspresi kesetanan. Saat itu seolah olah dunianya telah runtuh.


Gadis yang begitu dicintainya, yang begitu berharga dan selalu di lindunginya tiba-tiba saja pergi meninggalkannya tanpa alasan apapun. Rumahnya telah kosong.


Tak ada satupun kontak yang bisa dihubungi dan tak ada satu teman dekatnya pun yang mengetahui kemana Diandra pergi.


Gadis itu menghilang bagaikan ditelan bumi, meninggalkannya seorang diri padahal dia sudah berjanji setelah lulus nanti Ansel akan melamarnya.


Ansel patah hati sepatah-patahnya. Di tinggalkan oleh seseorang yang lebih berharga dari diri kita sendiri disaat kita sedang sayang-sayangnya apa yang lebih menyakitkan daripada itu?

__ADS_1


Semenjak itulah dunianya berubah. Segala kehangatan sikapnya hilang ditelan perihnya rasa kecewa dan sakit hati. Tak ada lagi Ansel yang baik dan penuh tawa. Sekarang yang ada hanyalah kebencian yang memenuhi rongga hatinya. Ansel berubah menjadi pribadi yang dingin dan kejam.


Ansel menggebrak lemari dengan keras.


"Aargggh sial! kenapa bayangan masa lalu sialan itu muncul lagi!"


Ansel memijat kepalanya sendiri dengan kedua tangannya. Pikirannya semrawut! Cape! Lelah! Ansel membaringkan dirinya di kasur dan mencoba memejamkan matanya sesaat.


Esoknya di kampus Brawijaya waktu menunjukkan pukul 11.30 wib.


Bella, Inyong dan Sasya berjalan ke arah kantin sambil menunggu jam pelajaran pertama dimulai.


"Bell, jalan lo kok kaya itik sih?" Inyong melirik heran saat Bella kelihatan terseok-seok mengimbangi langkahnya dan juga Sasya.


"Hah maksud lo?"


"Iya lo kok jalannya kaya ngangkang gitu sih? kenapa? lo bisulan?"


Inyong dengan polosnya bertanya.


"Diem lo nyong! hanya yang udah nikah yang paham. Lo gak akan paham nyong" Sasya menimpali dan menjitak kepala Inyong.


Bella mengedipkan matanya dan menyuruh kedua sahabatnya itu untuk tidak berisik.


"Mang udin aku mau es jeruk ya satu!" Bella menyerahkan selembar uang 10rbn ke Mang udin salah satu penjaga kantin disana.


"Iya neng tunggu bentar ya.."


Mang udin langsung bergegas menyiapkan pesanan mereka bertiga.


"Kita duduk disini aja deh!" Saysa memilih tempat duduk disisi kantin. Mereka bertiga pun duduk dan menunggu pesanan datang.


"Eh, lo mau tau gak Inyong punya kabar baru yang spektakuler!" Inyong mulai membuka mulut.


"Kabar apaan?"


"Ada anak pindahan baru dari kampus lain. Anaknya cakep banget wey! Wiiih lo lo pada gak bakal nyangka deh!" Inyong langsung menyendok batagor yang baru saja mendarat di mejanya dengan rakus.


"Murid pindahan?" Sasya mengerutkan keningnya.


"Iya. Dia ganteeeng abis!" lagi lagi Inyong menyendok batagor ke mulutnya. Dia makan sambil ngomong sampe mulutnya belepotan.

__ADS_1


"Siapa emang?" Tanya Bella tak sabar.


"Lo berdua udah kenal siapa dia!" Ucap inyong yang makin membuat kedua temannya bingung.


"Iya siapa sih nyong! kebiasaan lo mah bikin penasaran aja!" Protes Bella sambil menyeruput es jeruk yang baru diantarkan oleh mang Udin.


"Itu loh cowok yang waktu malem ntu ketemu sama kita di klub.." Inyong meneguk sebentar minumannya sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.


"Itu loh si Alaska!"


"Oh.." Bella dan Sasya hanya mengangguk bersamaan.


"Wey belum selesai nih infonya! jangan ber'oh' doang!" Seru Inyong.


"Kabarnya nih ya, si Alaska itu ternyata konglomerat, pewaris utama dari Hotel Bintang Lima di jakarta dan pemilik Restauran paling ngetop juga dikawasan bandung sana. Wah tajir bener ternyata tuh cowok! Sejahtera deh kalau bisa dapetin dia.."


"Oh." Lagi-lagi Bella dan Sasya hanya membulatkan mulutnya bersamaan.


"Ish, gak asyik amat reaksinya!" Dengus Inyong kesal,


"Ya emang kenapa kalau dia ganteng terus tajir?" Tanya Sasya acuh.


"Ya kali lo mau tertarik ngejadiin dia list cowok idaman gitu Sya!" goda Inyong sembari menyenggol lengan Sasya.


"Kagak lah! biasanya ya cowok ganteng itu kalau gak brengsek ya homo!" Tukas Sasya telak yang membuat Bella dan Inyong saling bertatapan geli mendengarnya.


"Hah? kaya pernah denger tuh kalimat! tapi dari siapa ya?" Bella pura-pura berpikir sejenak.


"Tau gue juga lupa pernah denger dari mana!" Ucap Sasya ngasal. Karna memang dia juga asal jeplak doang.


"Dasar lo!" Tukas Inyong dan Bella bersamaan.


Tak lama muncul keriuhan dilorong menuju kantin. Segerombolan cewek-cewek terlihat berkumpul dan saling berbisik kepada teman disampingnya.


"Ada apaan sih?" Inyong mulai penasaran pada keributan itu.


Bella dan Sasya pun ikut menoleh ke arah lorong. Dan betapa terkejutnya Bella saat melihat sosok yang familiar itu. Alaska! cowok tampan itu kini tengah berjalan ke arahnya. Memandangnya dengan senyum khasnya.


"Hai Bell!" Sapa nya sambil langsung duduk dihadapan Bella dan tepat di sebelah Inyong yang membuat Inyong langsung memuntahkan seluruh batagor di mulutnya.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2