SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Kemarahan Ansel


__ADS_3

sebelum lanjut ke ceritanya jangan lupa follow dan vote author dulu ya teman-teman biar author lebih semangat lagi ^^, author tunggu.


Ansel membaringkan tubuh Bella di atas kasur dengan wajah yang diselimuti amarah. Dia benar-benar tak bisa lagi membendung emosinya saat melihat Kevin dengan lancangnya memegang tangan Bella tadi.


Bella langsung mundur dan merangkak hendak melarikan diri ke sisi ranjang tapi Ansel dengan mudah berhasil meraih tangan Bella.


"Lepaas!" Pinta Bella dengan nada garang.


"Kamu pikir setelah saya melihat apa yang kamu lakukan tadi saya akan melepaskan kamu begitu saja?" Ansel tersenyum menyindir. Kilatan dimatanya bergejolak amarah yang sudah tak terbendung lagi.


"Tadi itu tidak seperti yang bapak lihat!" Bella mencoba menjelaskan tapi Ansel mana peduli. Ditariknya Bella hingga gadis itu kini tersungkur dibawahnya tubuhnya. Ansel menatap wajah gadis itu dengan tajam tepat dimanik matanya.


Bella berusaha memukul-mukul Ansel dengan keras di bagian dadanya. Tapi pukulan Bella tak berarti apa-apa buat Ansel. Pria itu malah dengan sengaja mulai melepaskan kancing baju Bella dengan paksa hingga salah satu bagian mata kancingnya terlepas dengan kasar diatas ranjang.


Bella mencoba menahan bajunya dengan kedua tangannya agar Ansel tak bisa bertindak lebih jauh lagi. Namun usahanya sia-sia saja. Ansel dengan tangan kekarnya dapat dengan mudah melepaskan baju yang melekat ditubuhnya yang putih.


"Bapak mau apa?!" Bella menjerit. Matanya mulai berkaca-kaca. Bella tak ingin lagi kejadian malam itu terulang lagi.


"Saya ingin menegaskan kepada kamu bahwa tak ada satu pria pun yang berhak menyentuhmu selain saya! apalagi Kevin itu adik ipar mu sendiri. Saya tidak akan membiarkan kamu menghancurkan kebahagiaan adik saya Citra!"


Bisik Ansel ditelinga Bella. Bulu kuduk Bella langsung berdiri saat melihat Ansel mulai menanggalkan celananya sendiri.


Bella hendak menarik selimut untuk menutupi tubuh atasnya tapi tangan Ansel mencegahnya.


Ansel langsung memberikan satu pagutan liar dibibir gadis itu. Bella berusaha meronta dengan keras namun pria tampan itu tak bergeming dan mengasihaninya sedikitpun.


"Jangan munafik Bella! kau biarkan pria lain menyentuh tanganmu sementara suamimu sendiri kau tolak mentah-mentah seperti ini, kau mau mempermainkan harga diriku?" Ansel mulai geram dengan semua penolakan yang dilakukan oleh gadis cantik di depannya.


Dia merasa terhina dengan sikap Bella yang seolah-olah menatapnya sebagai orang yang hendak berbuat dosa padahal jelas-jelas dia sah dan punya hak penuh atas gadis itu.


Sementara Kevin si brengsek itu bisa dengan gampangnya menyentuh Bella didepan matanya sendiri.

__ADS_1


Cih! Ansel semakin mempererat cengkraman tangannya pada Bella. Kau tidak akan ku kasihani sedikitpun.


Ansel mendaratkan satu ciuman dileher Bella, sementara tangannya yang lain kini telah turun dan merayap dibelakang punggung Bella.


Dilepaskannya pengait b ra yang terpasang dibelakang punggung gadis itu hingga terlepas sempurna. Kini tak ada lagi yang menghalangi pertemuan kedua kulit mereka. Nafas Bella dan Ansel saling bertemu tak terelakan lagi.


"Jangan Pak saya mohon!" Tolak Bella mulai dengan suara yang terisak.


Namun Ansel tak juga berhenti. Ansel kini menatap lurus-lurus wajah Bella masih dengan tatapan seolah-olah ingin menerkam Bella.


Ansel bukannya tak sadar jika gadis itu kini mulai terisak dan menangis dihadapannya. Gejolak amarah dan bayangan Citra yang sedang hamil dan begitu bahagia bisa bersama dengan Kevin mampu membunuh semua hati nuraninya.


Tak ada ampun bagi Bella. Tak akan dibiarkannya Bella sampai menghancurkan kebahagiaan adiknya lagi.


Ansel meraih ujung rok Bella dengan satu tangan kanannya sementara tangannya yang lain sibuk menahan pergerakan gadis itu. Bella semakin terisak saat semua yang dikenakannya kini telah raib dari tubuhnya.


Bella bisa menebak apa yang selanjutnya terjadi pada dirinya. Ansel menatap jauh kedalam mata Bella saat Bella terpekik perih dan memejamkan matanya, tangannya tanpa sadar mencengkram bahu Ansel kuat-kuat saat laki-laki menerobos masuk sekali lagi ke dalam pertahanannya.


Bella hendak menjerit namun Ansel buru-buru memberikan satu pagutan untuk membungkam mulut mungilnya.


"Sakit.." Ucap Bella lirih saat pria itu terus saja menghujani tubuh Bella dengan tanpa jeda. Ansel merasakan hangat dan sempit di bawah sana.


Ansel memeluk Bella erat sambil terus beradu dalam pergulatan yang lumayan panas. Bella sesekali terpekik saat Ansel dengan keras memaksa masuk lebih dalam lagi. Tak ada lagi penolak kan dari Bella, percuma juga karna dia sudah berada dalam kuasa penuh suaminya.


Ansel seolah terbawa kedalam suasana. Bella yang terus menolaknya selalu membangkitkan keinginannya menyerang pertahanan gadis itu. Hingga tanpa sadar istrinya Bella mulai menjadi candu bagi dirinya sendiri.


"Perih.." Lirih Bella yang membuat Ansel malah semakin menjadi jadi.


"Tahan, sedikit lagi Bella.." Ucap Ansel sambil bernafas didekat telinga Bella. Bella merasakan perasaan aneh. Tak seperti kemarin, dia merasa ada sesuatu yang tidak 100 persen bisa dia tolak dari Ansel.


Wangi parfum maskulin milik Ansel kini telah menempel di seluruh bagian tubuh Bella. Ansel menatap Bella dengan nafas terengah-engah sesaat saat dia hendak berada dipuncak penyerangannya. Kedua lengan kekar Ansel memeluk Bella dengan sangat erat.

__ADS_1


Ansel terpekik beriringan dengan cengkraman tangan Bella yang semakin kuat. Sekali lagi Ansel sudah membuang yang katanya benih cinta itu ke dalam rahim milik istrinya dengan satu perasaan nikmat yang tak bisa digambarkan.


Ansel memeluk Bella dengan erat. Beberapa menit tak ada suara dari mereka berdua kecuali suara tangis Bella yang lemah dan suara nafas Ansel yang menderu berat. Keduanya mengatur nafas mereka dalam hening. Perasaan di kepala mereka masing-masing mulai berkecamuk.


"Bapak jahat!" Ucap Bella akhirnya.


Ansel hanya diam. Dilepaskannya dengan perlahan pelukannya pada gadis itu. Bella meringis kesakitan. Ditambah sempat ada perasaan aneh tadi. Bella jadi jijik pada dirinya sendiri!


Bella memukul-mukul dada Ansel tapi kali ini pria itu membiarkannya sampai Bella capek sendiri. Ansel bangkit dan meraih selimut dibawah ranjangnya. Diselimuti nya Bella sampai gadis itu menoleh sinis ke arahnya.


"Bapak jahat! saya benci bapak!" Ucap Bella sambil menangis sesenggukan.


"Bella, jangan pernah berpikir jika kau bisa disentuh orang lain! Ingatlah ini semakin kamu berontak dan berulah saya akan semakin menyerang mu sampai kamu ingat dimana sebenarnya posisimu!"


"Harus berapa kali saya jelaskan, apa yang harus saya lakukan supaya bapak percaya dengan perkataan saya pak? saya juga korban dari Kevin! kenapa bapak begitu ngotot menyalahkan saya!" Bella muak benar-benar muak!


Ansel tersenyum sinis ke arahnya.


"Kamu tidak usah cape-cape menjelaskan karna seseorang sudah menjelaskan semua kepada saya!"


Bella menoleh bingung.


"Menjelaskan apa? maksud bapak apa?"


"Bagaimana mungkin sahabatmu sendiri berbohong tentang informasi yang penting soal kamu yang sudah tega menjadi orang ketiga diantara Citra dan Kevin kemarin!" Ucap Ansel dengan nada tajam.


"HAH?" Bella ternganga mendengar perkataan pria itu. Sahabat? sahabat yang mana?


"Maksud bapak sahabat saya siapa?"


Ansel tak menjawab dia malah melangkah menuju kamar mandi dengan memakai handuk putih yang dikaitkan dipinggangnya Namun saat dia sampai didepan pintu Ansel menoleh sesaat ke arah Bella.

__ADS_1


"Jangan lagi memasang wajah menyedihkan itu dihadapan saya! saya tidak akan terpengaruh dan melepaskan mu sedikitpun!" Ansel pun pergi meninggalkan Bella yang kini dibuatnya penasaran setengah mati.


bersambung..


__ADS_2