
"Mustahil!" Bagai tersambar petir di siang bolong, Bella benar benar tak menyangka dengan semua yang telah di dengarnya barusan.
"Maaf ya Bell, kita baru ngasih tau lo sekarang, jujur gue juga pertamanya syok dan nggak nyangka banget! tapi emang semua yang kita omongin sekarang ada buktinya Bell.." Sasya mengeluarkan hp dari dalam tasnya.
Dia tampak membuka galeri ponselnya dan menunjukkan suatu rekaman ke hadapan Bella.
Bella melihat rekaman itu dengan perasaan yang begitu kaget, hancur dan sedih.
"Sarah.. gak mungkin! mustahil! kenapa bisa sama Kevin?" Bella menatap Sasya dan Inyong dengan wajah yang terlihat kalut.
Inyong memeluk Bella dan mencoba menenangkannya.
"Sabar ya Bell.." Hanya kalimat itu yang mampu Inyong berikan untuk sekarang ini.
"Dan gue rasa kasus penculikan lo kemaren juga ada hubungannya sama mereka berdua.." Sasya menambahi.
Bella menaikkan satu alisnya.
"Maksud lo? Sarah dan Kevin terlibat?"
"Iya, tapi kita belum tau motifnya sampe kita nemuin orang orang yang waktu itu udah nyulik lo, cuman mereka harapan kita buat ngebongkar semuanya."
Bella hampir mau jatuh kalau saja Inyong dan Sasya tidak menyanggahnya.
Bella terisak dalam diam, dia bahkan tak tau harus berkata apa lagi. Bayangan kebersamaannya bersama Sarah selama beberapa tahun ini tiba tiba melintas di ingatannya.
"Sejak kapan mereka menjalin hubungan?"
Tanya Bella akhirnya.
Sasya tampak berpikir.
"Mungkin saat Kevin masih jadi pacar kamu Bell.."
Bella masih menggeleng tak percaya.
"Kenapa harus Kevin? gue sedih bukan karna dia ngekhianatin persahabatan kita tapi karna Kevin sekarang udah jadi suaminya Citra! apa Sarah gak tau Citra lagi hamil?" Bella tampak emosi suaranya terdengar bergetar hebat.
"Dia tau, dia pasti tau. Mereka melakukannya karna sama sama suka, emang gila mereka!" Desi Inyong jadi ikut emosi membahas kedua mahluk tak tahu malu itu.
Tiba-tiba Bella merasa sangat lemas, kenyataan ini sudah membuat hatinya hancur, dia kembali teringat ketika masa susah bersama Sarah di kontrakan dulu. Mereka selalu bisa melewati semuanya karna Bella tahu bahwa dia punya satu sahabat yang selalu ada disampingnya, Bella menganggap Sarah sudah seperti saudaranya sendiri, tapi kenapa dia tega melakukan ini kepadanya?
"Apa pak Ansel dan pak Zio tau semua ini?" Bella menatap Inyong dan Sasya.
Sasya mengangguk pelan.
"Iya Bell, kemarin malam rekamannya udah gue kasih ke Zio dan gue rasa Zio udah ngasih rekaman itu ke Ansel.."
__ADS_1
Bella menarik nafas panjang. Kasihan sekali Citra, yang dia sangat takutkan dulu ternyata kejadian sekarang. Kevin selingkuh lagi bahkan lebih parah dibanding saat menyelingkuhi dirinya, Citra diselingkuhi saat sedang hamil. Kevin memang benar-benar brengsek!
Bella mulai mengatur emosinya, Bellapun berdiri dan mengepalkan kedua tangannya di depan dadanya, kali ini dia tidak akan diam saja.
"Bell, lo mau kemana?" Sasya menahan Bella ketika dia melihat Bella hendak pergi dengan wajah penuh emosi.
"Gue mau labrak Sarah sama Kevin!" Jawab Bella.
"Engga jangan sekarang! gegabah Bell! lagian mereka gak bakalan ngaku juga!"
"Terus gue harus diem aja gitu? Citra bakal jadi korban mereka Sya! gue gak akan biarin Kevin ngehancurin perasaan Citra lagi!" Bella hendak pergi namun Inyong dan Sasya masih mencoba menahannya.
"Bell! please denger! kita semua lagi nyusun rencana buat bongkar semuanya kehadapan keluarga pak Hamis, Kalau lo bongkar sekarang yang ada usaha kita selama ini nyelidikin kejahatan mereka bakal sia sia! Gue, Inyong Zio dan pak Ansel bakal ada di pihak lo! kita semua harus bersatu buat ngungkap kebenarannya kan? " Sasya membentak Bella karna gadis itu tampak tak terkendali emosinya.
Nafas Bella memburu, perasaannya benar benar hancur.
"Bell.. lo percaya sama kita semua kan?" Sasya akhirnya melunakkan suaranya. Dia tahu Bella saat ini sedang tidak stabil emosinya.
Bella hanya diam, dalam hati dia setuju pada ucapan Sasya barusan. Percuma saja kalau melabrak mereka sekarang, memang harus pakai cara cantik untuk membongkar semua kejahatan mereka agar mereka tidak bisa mengelak.
Inyong dan Sasya akhirnya memeluk Bella dengan erat.
Saat jam pelajaran, Bella benar benar tak fokus, berkali kali dia kena teguran Dosen karna kedapatan sedang melamun. Sasya dan Inyong jadi merasa tak tega melihat kondisi Bella yang seperti orang linglung.
Akhirnya jam pelajaran pun telah usai. Bella pulang kerumahnya dengan perasaan yang begitu campur aduk, kesal, sedih, marah! dia ingin sekali memaki dan menyumpahi Kevin dengan mulutnya.
"Eh, gak apa-apa kok Cit, kakak ke kamar dulu ya.."
Citra hanya diam, dia memperhatikan Bella yang sedang naik tangga sampai gadis itu menghilang dibalik pintu kamarnya.
"Wanita bermuka dua! sok manis! saya sudah tau semua kebusukan kamu! saya gak akan biarin kakak saya Ansel sampai dipermainkan oleh kamu, lihat saja apa yang bakal saya perbuat.."
Citra tersenyum kecut sambil meneguk segelas susu ditangannya.
Waktu berlalu dan jam menunjukkan pukul 19.00 wib. Ansel yang baru saja pulang dari kampus langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Bella turun ke bawah lebih dulu karna ingin membantu bi Iyam di dapur.
Di dapur ternyata sudah ada Nyonya Tania, dia terlihat sedang memasak sesuatu di atas panci.
"Mah sedang apa? Bella bantu ya?" Bella menyapa Nyonya Tania dengan ragu.
Nyonya Tania menoleh, dia hanya menatap Bella dengan sinis tanpa menjawab.
Namun Bella tetap berinisiatif membantu mertuanya itu, Bella penasaran apa yang sedang dimasak oleh ibu mertuanya. Karna jarang sekali dia melihat Nyonya Tania di dapur.
"Nyonya lagi masak sop iga non buat pak Hamis.." Bi Iyam berbisik di dekat Bella sambil mengaduk panci yang berisikan sop iga. Bella mengangguk pelan.
__ADS_1
Saat mereka tengah sibuk memasak tiba tiba ada insiden yang tak disengaja yaitu nyonya Tania menyenggol panci yang sedang di aduknya hingga semua isinya jatuh dan hampir saja menimpah ke badannya kalau saja Bella tidak buru buru menarik lengan ibu mertuanya itu.
"Mah, awas!" Bella menarik pergelangan tangan nyonya Tania dengan sigap.
PRANG
Seluruh isi panci itu pun terjatuh ke bawah dan berserakan dimana mana, cipratannya mengenai kaki Bella sampai Bella meringis pelan menahan panas di telapak kakinya.
"AW!"
Nyonya Tania tampak sangat kaget. Dia menatap sop iga yang kini telah berserakan di atas lantai dengan mulut ternganga.
"Mamah gak apa-apa kan?" Bella menatap nyonya Tania yang masih terlihat syok, kalau saja tadi Bella terlambat menariknya mungkin air panas itu akan tumpah dan membakar sekujur tubuhnya.
Ansel dan yang lainnya langsung turun ke dapur karna mendengar kegaduhan disana.
"Ada apa?" Tanya Ansel sambil menatap ke lantai yang kini sudah dipenuhi genangan air yang berasal dari sop iga yang di masak oleh nyonya Tania tadi.
Ansel memperhatikan asap masih mengepul dari genangan air itu. Dia melihat kaki Bella yang terciprat, Ansel langsung menghampirinya.
"Bella, kaki kamu!" Ansel langsung menangkap ekspresi kesakitan dari wajah Bella.
Tanpa pikir panjang lagi Ansel segera menggendong tubuh istrinya.
"Ansel obati kakinya, Bella sudah menyelamatkan mamah tadi. Hampir saja sop panas itu menimpah mamah.." Nyonya Tania akhirnya membuka mulutnya.
Ansel terlihat khawatir, diapun langsung membawa Bella keluar dari dapur, saat dia hendak menaiki tangga menuju kamarnya, tiba-tiba langkah kakinya terhenti ketika melihat pintu utama telah terbuka, di mulut pintu terlihat Diandra sedang berdiri sambil menatap ke arahnya.
Ansel dan Bella tampak kaget melihat kedatangan Diandra yang tak di duga itu.
"Ansel.." Diandra tampak sangat marah melihat Ansel sedang menggendong mahasiswi brawijaya yang pernah dia temui di lorong dulu. Sebuket bunga mawar putih yang tergenggam ditangannya pun jatuh begitu saja ke lantai
Sebenarnya apa hubungan Ansel dan dia? kenapa mahasiswi itu ada dirumah Ansel? seketika banyak pertanyaan muncul di kepala Diandra.
Citra yang melihat kedatangan Diandra tampak sangat senang dan antusias.
"Ka Diandra? ah kangen deh udah lama gak ketemu! kak Ansel bukannya disuruh masuk ka Diandra nya! " Citra berjalan menghampiri Diandra lalu memeluknya dengan erat.
"Lama gak ketemu kak? apa kabar?" Citra melepas pelukannya sambil tersenyum.
"Baik Cit. Maaf ya Cit kakak mau langsung pamit aja, kakak lupa ada janji penting malem ini, permisi.." Diandra tersenyum sekilas ke arah Citra. Dia lalu pergi begitu saja meninggalkan rumah keluarga Hamis Wijaya.
"Pak.. Aku akan obati kakiku sendiri.." Ucap Bella lirih. Namun Ansel malah mempererat pelukannya.
"Tidak! aku yang akan mengobati lukamu." Ansel kemudian naik dan tak memperdulikan lagi kejadian barusan.
Sementara itu dari atas kamar Citra, Kevin tersenyum puas melihat rencananya sudah mulai berjalan dengan lancar.
__ADS_1
bersambung..