
Bella memalingkan wajahnya ke arah jendela tanpa berkata apapun.
"Bella.." Ucap Ansel sambil mencoba meraih tangan Bella lagi, namun Bella tetap menepisnya, dia bahkan membalikkan badannya ke arah lain memunggungi suaminya itu.
Ansel hanya menghela napas panjang sambil tersenyum.
'Tidak apa, mungkin dia masih marah, yang penting aku sudah menemukannya dan dia sudah ada di hadapanku sekarang, itu sudah lebih dari cukup..' Ansel berkata dalam hatinya.
Dia dengan sabar menunggui Bella selama di puskesmas.
Sorenya Bella sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Ansel mencoba membujuk Bella agar mau ditemani olehnya kembali ke penginapannya.
"Bella, aku akan mengantarmu, kau katakan saja kau menginap dimana.."
Bella terdiam, bagaimana kalau dia katakan dia tinggal di Villa milik keluarga Alaska, pasti pria ini akan salah paham lagi padanya seperti yang sudah sudah. Tapi masa bodo! sekarang dia tidak peduli lagi.
"Aku tinggal di sebuah Villa di dekat perkebunan kopi, kebetulan Villa itu milik keluarga Alaska.." Jawab Bella terus terang.
Ansel tercengang, namun kemudian dia tersenyum lembut.
"Alaska teman sekampus mu itu? baiklah, ayo.. biar saya antar kan kamu untuk beristirahat disana.." Ucap Ansel lembut.
Kali ini Bella yang tercengang. Tumben! kenapa dia tidak salah paham apalagi marah? Bella merasa aneh dengan sikap suaminya itu.
"Kenapa melamun? ayo kita ke Vila itu, aku sudah menyewa mobil milik warga sini, hmm.. bolehkah aku menggendong mu?" Ansel menatap Bella dengan penuh kasih sayang.
Bella hanya diam, dia kesal sekali. Kenapa Ansel malah bersikap manis padanya. Harusnya dia jadi Ansel yang biasanya saja, yang ngeselin dan selalu mau menang sendiri karna dengan begitu Bella punya alasan untuk bertengkar dan memarahi pria dihadapannya ini.
Akhirnya mau tak mau Bella pun terpaksa mengalah dan menerima ajakan Ansel karna dia tidak punya pilihan lain.
Sepanjang perjalanan menuju Villa Ansel berusaha mengajak Bella bicara namun gadis itu memilih untuk tetap mengacuhkannya, seolah Ansel adalah mahluk kasat mata.
Dua puluh menit berlalu, setelah melewati jalanan yang lumayan berliku akhirnya merekapun sampai di sebuah bangunan Villa bergaya khas Bali.
Ansel turun dan langsung membukakan pintu mobil untuk Bella. Ansel hendak mencoba membantu memapah tubuh Bella namun Bella menolaknya
"Aku bisa jalan sendiri!" Ucap Bella ketus.
Namun Ansel seolah tuli, dia tetap memapah Bella meski gadis itu meronta. Bella melotot ke arah Ansel tapi dibalas dengan seulas senyum manis oleh pria itu.
"Eh, Bella! Kemana aja? ibu cariin kamu Bell! ya ampun ibu khawatir banget kamu nyasar! kamu gak apa apakan?" Ibu Laras membuka pintu dan kaget melihat Bella sudah kembali, sejak pagi tadi dia sudah berkeliling mencari Bella karna gadis itu tiba tiba saja menghilang dari Villanya, dia takut terjadi apa apa pada Bella. Apalagi Bella masih baru dikampung ini dan dia tidak mengenal kawasan disini.
"Aku gak apa apa kok bu.." Jawab Bella sambil mencoba melepaskan tangan Ansel yang bertengger dipinggangnya.
__ADS_1
Bu Laras menatap Ansel saat menyadari pemuda itu sangat dekat dengan Bella.
"Permisi bu, kenalkan, saya suaminya Bella.. Nama saya Ansel Wijaya."
Bu Laras tersikap tak percaya, dia kaget, namun Ansel malah mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan bu Laras dengan sopan.
"Oh, jadi ini suaminya Bella, syukurlah kamu kesini pasti mau jemput Bella ya? ayo kita masuk dulu kalau gitu.." Ibu Laras merentangkan pintu gerbangnya dan mempersilahkan Ansel untuk masuk namun Bella buru buru menggeleng sambil berpindah posisi disebelah Ibu Laras.
"Dia gak mau mampir bu, Pak Ansel pasti lagi sibuk kan? iya kan?" Ucap Bella sambil memasang wajah judes pada Ansel.
Ansel menahan tawa, lucu rasanya melihat ekspresi Bella yang seperti itu.
"Engga, aku lagi gak sibuk Bell.. justru aku lagi santaaai banget.." Seru Ansel tak mau menyerah.
Bella memasang wajah garang namun Ansel pura pura tak melihatnya.
"Ish, kan bapak lagi ada urusan tadi, udah bapak pergi aja sana!" Bella malah terang terangan mengusir kali ini.
Ansel hanya tertawa geli.
"Bu, saya boleh masuk ke dalem kan?" Ansel malah meminta ijin sang pemilik Villa dengan nada santun.
Bu Laras mengangguk lalu menatap Bella yang kelihatan cemberut berat.
"Bella, bagaimanapun dia suamimu, kalau dia minta maaf, maafkanlah ndo, tidak baik loh marahan lama lama apalagi dia udah jauh jauh kesini, dia pasti sangat mengkhawatirkan kamu dan bayimu Bella.." Ucap Ibu Laras saat mereka ada di dapur.
Bella terdiam sesaat. Pikirannya saat ini sedang bercabang, di satu sisi dia sebenarnya juga sudah tak tahan dengan situasi ini tapi disisi lain harga dirinya tak mengijinkan Bella untuk berbaik hati memaafkan pria itu semudah ini.
Kemarin dia sudah membuatnya sakit hati dengan menuduhnya melakukan sesuatu yang sangat jahat pada Citra. Bahkan dia menyuruh Bella tidak muncul lagi dihadapannya untuk sementara waktu ini.
Enak saja kalau sekarang dia datang tiba tiba dan Bella harus memaafkannya? oh No! nanti nanti dulu deh!
Bella menggelengkan kepalanya. Ingat! dia harus bertekad untuk membuat Ansel benar benar menyesal dulu baru dia akan memaafkannya!
"Nih.." Bella menyodorkan segelas es jeruk ke hadapan Ansel.
Ansel menerimanya dengan senyum lembut lalu meneguk isi gelasnya sampai habis.
Bella melongo melihatnya, sepertinya dia lupa kalau Ansel baru saja menyelamatkannya tadi pagi, pasti pria ini belum makan apapun sama sepertinya.
"Apa bapak lapar?" Tanya Bella akhirnya, masih dengan tampang sok cuek.
Ansel mengangguk pelan. Wajahnya terlihat benar benar lesu tak bertenaga.
__ADS_1
"Saya gak masak, tapi ada telor sih di kulkas.."
"Boleh, telor ceplok juga udah enak banget pake nasi anget.."
"Saya gak bilang saya mau masakin bapak! saya cuman ngasih tau ada telor ceplok di kulkas!" Desis Bella pura pura galak.
Ansel hanya menggeleng sambil nyengir kalem.
"Yaudah, saya bikinin telor ceplok buat kamu juga ya? kamu juga pasti belum makan kan? tunggu disini ya.."
Tanpa menunggu jawaban dari Bella Ansel pun langsung bergegas ke arah dapur.
Kedua bola mata Bella mengikuti kepergian Ansel dengan mulut ternganga. Luar biasa! seorang Ansel Wijaya, Dosen Killer yang terkenal sangat angkuh itu kini akan memasak telor ceplok untuknya, rekor!
Mengingat dirumah saja segala keperluannya dilayani oleh para pembantunya namun kini dia dengan suka rela menawarkan diri memasak untuk istrinya Bella. Bella tampak sedikit puas melihatnya.
Bella sedikit tersentuh. Tanpa sadar wajahnya menyunggingkan sepercik senyuman dibibir nya.
lima menit berlalu Ansel pun kembali dengan membawa sepiring nasi ditangannya.
Bella hampir saja terkekeh ketika melihat lauk diatas nasi itu sama sekali tidak mirip dengan telor ceplok karna bentuknya sudah tak beraturan ditambah telor itu sudah menghitam alias gosong!
"Bella, maafkan aku, tapi kayanya apinya terlalu gede tadi.. Sebenarnya aku ingin menyuapi mu tapi lauknya.." Ansel tampak muram menatap lauk di atas nasinya yang tidak layak dimakan itu.
Namun tiba tiba pembicaraan mereka terhenti. Alaska datang dari arah pintu masuk dan kaget melihat Dosennya kini tengah duduk dihadapannya.
"Pak Ansel!" Seru Alaska tak percaya.
Bella deg degan, dia melirik Pak Ansel dengan ragu, perasaannya tiba tiba tak enak, dia takut Ansel akan langsung marah dan menuduhnya lagi.
"Hai Alaska! apa kabar?" Ansel berdiri sambil mengulurkan tangannya kehadapan Alaska tak lupa melemparkan sebuah senyuman juga ke arahnya.
Alaska menyambut uluran tangan itu sambil membalas senyum Dosennya dengan kikuk.
Bella mengembuskan nafas kasar, sungguh diluar dugaan! Pak Ansel bahkan tidak marah sama sekali.
"Pak Ansel disini?"
"Iya Alaska, ini Villa kamu ya? terima kasih ya sudah mengijinkan Bella istirahat disini.. saya sangat berhutang budi kepadamu.." Ucap Ansel sungguh sungguh, tak ada sedikitpun nada kemarahan dalam ucapannya.
Alaska mengangguk terbata. Masih syok melihat Ansel dengan sikapnya yang sangat berbeda jauh dari yang dia kenal dulu. Dulu dia sangat sombong bahkan terkesan semena mena. Tapi lihat hari ini wajah Dosennya itu terlihat seperti pria baik baik.
bersambung..
__ADS_1
nih ya yang pada mau bayangin visualnya Bella sama Pak Dosen kurang lebih begini 😁