SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Bella tersipu malu


__ADS_3

Kini tinggallah Ansel dan Bella terpaku di dalam ruangan kamar rumah sakit sambil sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Bella merasakan sangat sesak sampai tak bisa bernafas rasanya. Seluruh hatinya kini hanya dipenuhi dengan kata kata yang di ucapkan oleh Ansel saat di ruang ICU tadi.


"Bella..Aku mencintaimu." sepenggal kata-kata inilah yang terus terngiang-ngiang di kepala nya.


Bella agak sedikit ragu apa jangan-jangan dia tadi salah dengar. Karna Ansel tak mengatakan apa-apa lagi setelah itu.


"Apa yang kau lihat dibawah sana Bella?" Tanya Ansel ketika melihat Bella terus saja tertunduk menatap ke bawah. Padahal sedari tadi dia terus menunggu gadis itu menoleh kepadanya.


Bella mendongak lalu menggeleng pelan.


"Mendekatlah ke sampingku.." Pinta Ansel.


Bella pun menjalankan kursi rodanya ke dekat ansel dengan ragu-ragu.


Ansel mengangkat dagu Bella dan menatap wajah gadis itu lurus. Bella jadi kikuk dan tak mampu menatap balik wajah Ansel.


"Pak.." Bella akhirnya memberanikan diri membuka mulutnya.


"Hmm..?"


"Apa bapak serius dengan.." Bella ragu untuk melanjutkan pertanyaannya.


"Dengan apa?" Tanya Ansel pura-pura tak mengerti.


"Hmm.. itu.."


"Apa?" pncing Ansel sambil tak memalingkan pandangan matanya dari Bella.


"Apa bapak serius dengan ucapan bapak waktu di ICU?"Bella akhirnya memberanikan diri menatap balik manik mata Ansel.


Keduanya saling bertatapan, jantung Bella seketika seperti sedang berdisko di dalam sana pun sama halnya dengan Ansel, meskipun wajahnya terlihat sangat tenang namun di dalam dadanya sebenarnya dia tak bisa menahan perasaannya sendiri.


Ansel bangkit sambil memegangi dadanya yang masih terasa sangat sakit. Tapi rasa sakit itu seolah dilupakannya karna perasaan bahagianya pada Bella lebih mendominasi dirinya saat ini.


Ansel mendekatkan wajahnya ke hadapan Bella. Ibu jarinya perlahan menyapu bibir Bella dengan lembut. Bella refleks memejamkan kedua matanya. Ansel maju dan menyentuh sejengkal demi sejengkal bibir Bella yang begitu menggodanya.


Sampai akhirnya Bella berani membuka matanya dan kini dia bisa melihat dengan jelas sepasang mata indah milik pria itu kini tengah memagut dirinya dengan penuh perasaan.


Ansel tidak mengatakan apapun lagi tentang perasaannya tapi Bella mendapatkan lebih dari sekedar jawaban yang dia tanyakan tadi dari ciuman yang diberikan oleh ansel.


***


Malamnya Kevin menemui Sarah dikontrakkan nya, wajahnya terlihat sangat gelisah sejak pertama datang, Sarah mengambilkan segelas minum dan segera menyodorkannya ke hadapan Kevin.


"Minumlah dulu sayang, ada apa? kenapa kau terlihat sangat cemas?" Tanya Sarah sambil duduk di sebelah Kevin.


"Gawat Sar. Gawat!" Teriak Kevin sambil melotot.


"Iya gawat kenapa?" Tanya Sarah tak mengerti.


"Pak Ansel Sar.."


"Iya kenapa sih? Pak Ansel kenapa?"


"Pak Ansel udah siuman Sar!!!"

__ADS_1


Kontan mata Sarah langsung membulat sempurna.


"Bahaya! kita dalam masalah besar Sar!!!" Kevin mengetuk-ngetuk bibirnya sendiri dengan jari tangannya.


Kini Sarah jadi ikutan gelisah juga.


"Kamu tau dari siapa kalau Pak Ansel udah sadar?"


"Mertuaku yang bilang sendiri Sar. Aku benar-benar langsung hilang selera untuk ngapa-ngapain. Mana para preman sialan itu terus memeras ku dengan meminta sejumlah uang! sialan!" Kevin menggebrak meja di depannya dengan kesal.


"Turuti saja, dari pada mereka buka mulut bisa kacau semuanya..!!"


Kevin tak menyangka jika rencananya malah jadi kacau balau begini.


"Tapi uang yang mereka minta benar-benar tidak masuk akal nominalnya!" Geram Kevin sambil menghembuskan nafas kasar.


"Tapi kamu sudah dapat uangnya dari Citra kan?"


Kevin menghela nafas kesal.


"Iya aku sudah dapat. Aku harus menemukan cara lain untuk mengakhiri ini semua.." Dengus Kevin lirih sambil mengusek ngusek rambutnya sendiri.


Malam harinya dirumah sakit seorang suster masuk ke kamar perawatan Bella. Suster membantu membuka infusan ditangan Bella dengan hati-hati.


"Nona Bella sudah diperbolehkan pulang besok ya.." Ucap Suster sambil tersenyum ke arah Bella.


Bella mengangguk pelan.


"Terima kasih sus.."


Suster merapikan alat-alat medis dan segera bergegas keluar kamar Bella. Tak lama suster balik lagi ke kamar itu dengan membawa baju ganti.


Suster menyodorkan sebuah stelan piyama berwarna pink ke hadapan Bella. Bella melongo melihatnya.


Tapi Bella nurut saja. Dia pun segera berganti baju dengan pakaian itu, lalu tak lama Bella keluar kamarnya dan benar saja kata suster tadi Pak Zio terlihat sudah berdiri sambil bersandar di salah satu dinding sambil memain-mainkan kunci ditangannya.


"Eh Bella.." Ucap Zio kaget saat melihat Bella tiba-tiba sudah ada di hadapannya.


"Pak Zio sejak kapan disini?" Tanya Bella.


"Ayo Bella ikut saya ke kamar Ansel.." Ajak Zio sambil memberikan Bella isyarat untuk mengikutinya.


Bella pun mengikuti langkah kaki Zio dari belakang. Dia tak tahu Zio mau membawanya kemana.


Mereka melewati lorong panjang dan berhenti di lantai paling atas.


Zio menghentikan langkahnya tepat didepan sebuah kamar pasien VIV. Bella menelan ludahnya berat, dia ingat betul ini kan kamarnya pak Ansel. Zio menoleh ke belakang dan mempersilahkan Bela untuk masuk kedalam.


"Silahkan masuk Bell, Ansel udah nunggu kamu di dalem.."


Zio langsung membukakan pintu didepannya. Sesaat Bella hanya diam mematung ditempatnya. Tiba tiba Bella merasa sanga gugup. Jantungnya seperti biasa sedang senam disko didalam tubuhnya.


"Bella.. ayo masuk!" Zio menepuk pundak Bella sampai Bella tersentak kaget.


"Eh, iya Pak.."


Bella pun melangkah dengan langkah yang sangat pelan. Zio langsung menutup pintu saat Bella sudah masuk kedalam. Ruangan itu sangat gelap, yang terlihat sejauh mata memandang hanyalah cahaya rembulan yang mengintip dibalik kaca kamar.

__ADS_1


Jendela kamar di biarkan terbuka sehingga angin malam yang sejuk masuk dari sana mengibar-ngibarkan gorden transparan yang tergantung di sudut jendela.


Lengang dan sepi. Bella tak bisa melihat apapun dengan jelas.


Mata Bella langsung tertuju pada tempat tidur Ansel yang terlihat kosong. Kemana perginya pria itu? mata Bella menyapu sekeliling ruangan namun tak di temukan nya sosok itu


"Bella.." Bella mematung, waktu disekitarnya seolah berhenti saat itu juga. Sosok yang sedari tadi dia cari sejak masuk ke dalam kamar itu kini tengah memeluknya dari belakang.


Pria jangkung itu melingkarkan tangannya diperut Bella.


Hembusan nafas Ansel yang hangat menerpa di sela-sela telinganya. Membuat Bella semakin panas dingin tak karuan.


"Kenapa lama sekali?" Bisik Ansel sambil mengetatkan pelukannya membuat Bella sesak nafas saking gugupnya.


"Bapak.. Apa tidak apa-apa berdiri seperti ini? infusan ditangan bapak gimana?" Saking bingungnya mau berkata apa akhirnya hanya pertanyaan itu yang terlontar di mulutnya.


"Aku sudah tidak butuh infusan itu.. aku cuma butuh kamu, Bella.."


Ansel merengkuh bahu Bella dan membalikkan badan gadis itu hingga sekarang mereka saling berhadapan satu sama lain.


Bella mencoba mengatur nafasnya yang sudah tak karuan. Ansel terlihat sangat tampan dengan kaos hitam polos yang melekat di tubuh kekarnya.


"Apa bapak benar-benar sudah kuat berdiri begini?" Tanya Bella sambil menatap Ansel dengan cemas. Dia tiba-tiba ingat pada luka tembak yang ada di dada Ansel.


Ansel tak menjawab, dia malah menggendong tubuh Bella dan meletakkannya diatas ranjang.


"Aku sudah baik-baik saja Bella, yang jelas aku masih cukup kuat untuk mengangkat tubuhmu ini.." Ucap Ansel dengan wajah yang kini begitu dekat dengan Bella.


Meskipun suasana di dalam kamar terasa remang dan hanya ada cahaya bulan yang dibiarkan masuk melalui celah jendela namun tak menghalangi Ansel untuk menatap ke arah Bella.


Ansel bisa merasakan kegugupan Bella lewat nafasnya yang sedari tadi sangat tidak beraturan. Ansel mengelus pipi Bella dengan lembut.


"Bella.. Maafkan aku atas semua sikap ku selama ini kepadamu. Aku sudah salah paham dan dengan tololnya menyimpulkan sendiri tanpa mau mendengarkan penjelasan dari mu.."


Ansel menarik nafas berat.


"Aku tau aku tidak pantas dimaafkan Bella.."


"Tidak! bapak jangan berbicara seperti itu!" Bella buru-buru menutup mulut Ansel dengan tangannya.


"Aku sudah lama memaafkan semua kesalahpahaman itu. Kalau aku jadi bapak, aku mungkin akan melakukan hal yang sama.."


Bella sangat lega. Akhirnya kesalahpahaman diantara mereka kini telah terurai. Meskipun jujur saja semua yang dialaminya kemarin itu sangat berat.


Tapi Bella bukan tipe wanita pendendam. Dia berusaha mengerti posisi Ansel yang sangat menyayangi adiknya Citra, hingga dia tidak mau mendengarkan siapapun kecuali prasangka nya sendiri.


Ansel hanya diam, mengapa dia baru sadar kalau dia sangat beruntung bisa menikah dengan gadis sebaik Bella. Sejak kehadiran Bella hidupnya kembali lebih berwarna.


Hatinya yang sempat terluka karna cinta di masa lalunya kini telah sembuh total. Benar kata orang kalau obat terbaik patah hati itu adalah jatuh cinta lagi.


Ansel merebahkan dirinya disamping Bella. Ranjang itu memang tidak terlalu lebar sehingga agak sempit ketika Ansel juga menjatuhkan tubuhnya disana.


Bella hendak berdiri dan membiarkan Ansel tidur di kasur itu namun Ansel segera menarik tubuhnya dengan cepat.


Ansel meletakan kepala Bella dilengan nya sementara satu tangannya memeluk tubuh Bella dengan erat. Ansel menarik selimut untuk membungkus tubuh mereka berdua.


"Selamat tidur sayang.." Bisik Ansel sambil mengecup kening Bella dengan mesra.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2