
Sore itu pukul 16.30 wib dikontrakkan rumah Sarah.
Sasya dan Inyong turun dari taksi didepan gang kontrakan rumah Sarah. Mereka berdua berjalan kaki menyusuri gang sempit untuk menuju rumah kontrakannya Sarah.
Sarah sudah menunggu kedua sahabatnya itu didalam rumah sambil menyiapkan gorengan di atas piring.
Tak lama terdengar ketukan pintu. Sarah pun buru-buru lari ke depan dan menghampiri Inyong dan Sasya.
"Hei, ayo masuk.." Ajak Sarah pada kedua sahabatnya.
"Sorry ya Sar, tadi telat nih soalnya macet ey!" Sasya dan Inyong langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu.
Sementara Sarah pergi ke dapur dan tak lama dia sudah kembali dengan sepiring gorengan ditangannya.
"Wih mantap!" Ucap Inyong dan tanpa basa basi lagi langsung mencomot bakwan dalam piring itu.
"Bella kok gak ikut kesini?" Tanya Sarah sambil menuangkan minum ke kedua gelas dihadapannya.
"Auh tuh anak katanya sih sakit. Tapi kacau juga ya Pak Ansel tuh!" Tukas Sasya sambil mengambil minum diatas meja.
"Kacau kenapa?" Tanya Sarah heran
"Iya kata si Bella masa dia seharian ini dikurung terus dikamar disuruh tiduran, kaya tawanan gitu! Pokoknya Pak Ansel tuh aneh banget sikapnya, terus Pak Ansel sampe bela-belain gak masuk juga kan.. wah Inyong sih curiga, Inyong sepertinya mencium bau-bau kasmaran!" Jawab Inyong enteng dengan mulut penuh dengan gorengan.
Sarah yang mendengar itu jadi terdiam sejenak, kedua tangannya mengepal sesaat. Sarah benar-benar tidak suka jika sampai Pak Ansel menyukai Bella. Beruntung sekali Bella!
Mengapa dia selalu mendapatkan cinta dari semua orang dengan begitu mudah? Sedangkan Sarah harus selalu berjuang keras agar dapat dicintai semua orang. Benar-benar tidak adil!
Sasya yang pura-pura asik mengobrol memperhatikan ekspresi ketidaksukaan Sarah.
Tiba-tiba hp Sarah berderit didalam kamar.
"Eh, gue angkat telpon dulu bentar ya!" Ucap Sarah sambil berlari ke arah kamarnya.
Sasya langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menaruh Cctv kecil yang sudah disiapkan Zio. Setelah memikirkan semuanya masak-masak, Semalam dia sudah memutuskan untuk menyetujui bergabung dengan Zio. Dia akan membantu Zio dan Ansel untuk membongkar perselingkuhan antara Sarah dan Kevin.
__ADS_1
Sasya pun meletakan Cctv itu dicelah-celah pas bunga karna menurutnya hanya di sanalah tempat yang tidak mungkin dicurigai oleh Sarah. Sasya menunggu celah saat Inyong sibuk menuangkan minumannya.
Setelah memastikan semuanya aman, Sasya pun langsung kembali duduk seperti biasa dan pura-pura ikut melanjutkan ngobrolnya dengan Inyong.
Tak lama Sarah datang dengan wajah yang berubah sumringah. Sasya tau pasti tadi telpon dari Kevin.
Setelah itu merekapun ngobrol sampai tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 19.00 wib.
Sarah dan Inyong pun pamit pulang kepada Sarah.
Inyong dan Sasya jalan ke depan gang untuk menunggu taksi.
Tak lama sebuah mobil berhenti tepat didepan mereka berdua.
"Sya, taksi gue udah dateng. Lo gak apa-apa sendirian disini? mau Inyong temenin gak sampe sopir lo jemput?" Tanya Inyong saat taksi online yang dipesannya datang duluan.
"Udah gak apa-apa, lagian masih rame disini, udah lo duluan kasian tuh mas nya!" Sasya menunjuk ke arah sang sopir taksi.
"Yaudah gue duluan ya Sya. Telpon inyong kalau lo udah nyampe rumah oke besti?"
Sasya mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
Beberapa menit berlalu Sasya terus melihat ke arah jalan dengan wajah cemas. Tak lama datang sebuah mobil BMW putih yang langsung berhenti di hadapannya. Sang pemilik mobil keluar dan langsung membukakan pintu penumpang untuk Sasya.
"Lama banget sih pak Zio!" Dengus Sasya saat dirinya sudah duduk didalam mobil.
Zio hanya menyeringai lebar sambil menyatukan kedua tangannya. Sasya memang telah janjian ketemu dengan sohibnya Ansel itu. Setelah dari rumah Sarah tadi, Zio menelpon ke hpnya dan menawarkan diri untuk menjemputnya karna Zio ingin mendengar langsung bagaimana kelanjutan dari rencana penjebakan mereka.
"Sorry ya Sya, macet banget tadi.. ini saya udah ngebut padahal."
Sasya hanya mendengus kesal. Zio melirik Sasya dan melihat kalau gadis itu lupa memakai sabuk pengamannya. Zio meminggirkan mobilnya lagi. Sasya langsung menoleh.
"Kok berhenti disini!" Tanya Sasya galak sambil melihat ke arah luar. Suasana jalan terlihat lengang dari para pengendara.
Zio mendekat dan tangannya mulai bergerak mengulur ke arah Sasya. Refleks Sasya menggeplak lengan Zio dengan sangat keras hingga membuat pria itu spontan kaget.
__ADS_1
PLAK!
"Aw sakit Sya! kamu ngapain?"
"Pak Zio yang ngapain sih? mau macem-macem ya? awas ntar saya geplak lebih keras dari itu!" Sasya membulatkan matanya dengan tampang galak sambil bertolak pinggang. Mirip ibu tiri yang lagi ngedumel.
Zio malah tertawa geli dan kembali membungkukkan badannya ke arah Sasya sementara tangannya kembali mengulur ke pojok kiri Sasya. Sasya bisa merasaka wangi parfum Zio yang begitu manis. Jantung Sasya berdegup sangat kencang.
"Pak!" Sasya hampir saja mau melayangkan tangannya lagi namun Zio langsung mencegatnya. Zio langsung menarik sabuk dan dengan cepat memakaikannya di dada Sasya. Wajah Sasya memerah karna malu, dia baru sadar kalau dari tadi Zio hanya sedang berusaha membantunya memakai sabuk pengaman.
Sasya memalingkan wajahnya ke arah lain dan tak berani menatap mata pria disampingnya. Bodoh! Dasar gue bisa bodoh banget sih! norak gue! kenapa gue bisa dia mikir macem-macem tadi! dasar bodoh! rutuk Sasya pada dirinya sendiri.
"Lumayan juga geplakkan kamu ya Sya. Keliatannya tangan kamu lemah lembut. Hmm saya gak boleh meremehkan kekuatan kamu nih.." Ucap Zio sambil mengelus-elus tangannya yang sempat kena geplakan tadi.
"Maaf ya pak, maaf banget. Suer deh saya kira bapak mau macem-macem sama saya. Maaf saya minta maaf sekali lagi."
Zio tertawa pelan. Gemas sekali dia xmelihat ekspresi gadis disampingnya yang tiba-tiba saja berubah memelas, padahal tadi dia berani sekali seperti wonder woman.
"Kenapa bapak malah ketawa?"
"Gak apa-apa sya, ouh iya gimana tadi? kamu udah berhasil naro cctv dirumah Sarah?"
"Udah pak, mudah-mudahan sih gak ketahuan.. cuman.." Sasya terlihat agak ragu melanjutkan kalimatnya.
"Cuman apa?" Tanya Zio.
"Kalau mereka sudah ketahuan apa Sarah bakal dalam masalah besar pak?"
"Kamu ragu Sya melanjutkan rencana kita ini?" Zio menangkap wajah sedih Sasya.
Sasya hanya menunduk diam. Sungguh dia sangat dilema karna Bella dan Sarah adalah dua sahabat baiknya. Dia sebenarnya tidak tega kalau harus menjebak Sarah. Tapi perbuatan sahabatnya itu memang tidak bisa dibenarkan.
Zio menarik nafas berat. Ditepuknya perlahan pundak Sasya.
"Sya, saya paham posisi kamu, tapi kamu juga gak mungkinkan membiarkan Bella sampai gak tahu kebenaran soal Sarah yang ternyata sudah berani bermain belakang dengan Kevin dibelakangnya. Itu gak adil Sya buat Bella. Apalagi sekarang bukan cuman Bella korban mereka, kamu tahukan Citra adiknya Ansel sedang hamil. Bagaimana perasaan kamu seandainya jadi dia? saya yakin kamu jauh lebih mengerti karna kalian sesama perempuan dan saya percaya Sya kamu orang yang baik, kamu pasti akan memihak pada kebenaran."
__ADS_1
Sontak Sasya termenung mendengar perkataan pria disampingnya itu. Sasya tak menyangka ternyata si playboy ini jauh lebih bijak dari perkiraannya.
bersambung.