SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Bella menenangkan hatinya


__ADS_3

Bella terlihat sedang berdiri sambil mengamati bangunan rumah bergaya kuno khas bali didepannya, dari subuh tadi dia sudah sampai di salah satu desa yang terletak di Banjar Singaraja Buleleng provinsi Bali bernama desa Munduk.


Sudah sejak lama Bella ingin ke desa ini bahkan dia pernah mengatakannya pada Ansel kalau dia ingin berbulan madu ke desa ini, namun impian tinggallah impian, dia harus menelan pil pahit karna sekarang hubungannya dengan Ansel sedang berada di ujung tanduk.


Bella sengaja memilih desa Munduk untuk pelariannya karna desa munduk adalah tempat yang paling tepat untuknya menenangkan hati dan pikirannya dari masalah rumah tangganya yang sudah terlalu kompleks, di Desa Munduk ini terkenal akan pemandangan alamnya yang masih sangat asri.


Sejauh mata memandang masih banyak sekali pepohonan yang terhampar, suasana sejuk pegunungan yang belum banyak terjangkau oleh polusi pun membuat Bella langsung betah saat menginjakkan kakinya disana.


"Masuklah nak.." Suara seorang pria paruh baya yang tak sengaja bertemu dengannya di pesawat waktu itu tiba tiba mengagetkannya.


Bella telah menceritakan semuanya kepada pria yang seusia dengan ayahnya itu, tentang dirinya yang sedang hamil muda dan tentang suaminya yang tidak percaya kepadanya.


"Iya, pak. Terima kasih.." Jawab Bella sambil melangkah masuk ke dalam bangunan rumah itu.


Saat masuk Bella sudah disambut oleh halaman dengan banyak sekali tanaman hias yang berjejer mengelilingi pintu masuk.


'Indah sekali' Gumamnya dalam hati.


Tak lama seorang wanita paruh baya menyambut kedatangannya dengan senyum ramah yang tersungging di bibirnya.


"Loh bapak sudah pulang?"


Wanita itu terlihat mencium tangan pria paruh baya itu, sepertinya mereka suami istri.


"Iya bu, ouh iya bu ini bapak ada tamu ayo bapak kenalkan.."


Wanita itu bergegas mendekat ke arah Bella sambil tersenyum ramah.


"Ini loh bu namanya Bella, dia lagi nyari penginapan disini, kebetulan bapak ketemu dia di pesawat, apa dia bisa tinggal di Villa belakang kita?"


"Maaf bu, kenalkan nama saya Bella.." Ucap Bella seraya mencium punggung tangan ibu itu dengan sopan.


"Nama ibu Laras, senang ketemu sama kamu Bella, kamu sepertinya seumuran dengan anak ibu deh.." Ibu itu terlihat bahagia melihat Bella datang kerumahnya. Suami istri itu ternyata sudah lama tinggal hanya berdua saja.


Anak lelaki satu satunya mereka merantau ke Jakarta sudah lebih dari dua tahun.


"Oh iya bapak juga belum sempat memperkenalkan diri, nama bapak Hendri ndo.."

__ADS_1


Bella mengangguk sambil mengamati rumah yang sangat tertata rapi itu.


Pak Hendri dan bu Laras terlihat mengobrol sebentar, Bella sepertinya bisa mendengar kalau Pak Hendri sedang menceritakan kronologi yang dialaminya pada bu Laras, dia sedang hamil muda dan saat ini sedang tidak punya tempat tujuan untuk bernaung.


Mimik Ibu Laras mendadak berubah prihatin, ditatapnya Bella sambil mengelus punggungnya.


"Bella, kalau kamu mau, kamu bisa memakai Villa belakang rumah kami, untuk harga sewa kamu tenang aja, kita bisa bicarakan itu nanti.."


"Terima kasih banyak bu.." Bella bahagia karna sudah dipertemukan dengan orang orang baik seperti mereka.


Akhirnya ibu Laras mengantarkan Bella ke Villa nya yang terletak tepat dibelakang rumahnya. Ternyata Villa itu cukup besar bahkan ada sebuah kolam renang dibelakang bangunan yang menghadap langsung ke pegunungan. Bella takjub. Keindahan alam desa Munduk memang tidak perlu diragukan lagi.


Dirumah kediaman Hamis Wijaya


Sudah sejam lebih Ansel mondar mandir di kamarnya, berkali kali dia menelpon semua kenalan Bella dan menanyakan apakah istrinya ada bersama mereka, namun nihil.


Bella seperti di telan bumi, gadis yang dia kenal sangat menjaga absen kuliahnya itu bahkan bisa dengan gampangnya meninggalkan kuliahnya, itu artinya Bella pergi karna memang sudah sangat kecewa pada dirinya.


Satu satunya harapan adalah mencari Bella kerumah orang tuanya karna hanya satu tempat itu yang belum Ansel datangi.


Akhirnya Ansel memutuskan untuk menggunakan motornya saja. Ansel pun mencoba mencari kunci motornya di dalam laci meja, namun seketika perhatiannya tertuju pada kotak panjang kecil berwarna putih yang dibalut pita berwarna merah, tergeletak diantara tumpukan aksesoris milik Bella yang ada di dalam laci itu.


Ansel mengangkat kotak kecil itu dan memperhatikannya dengan satu alis yang terangkat.


"Apaan nih?" Tanya nya bingung.


Akhirnya karna rasa penasaran Ansel pun membuka kotak itu. Saat kotak itu terbuka mata Ansel langsung membulat sempurna kemudian Ansel mematung terkesima.


Test pack dengan dua garis merah, Ansel mengangkat Test Pack itu keluar dengan tangan yang bergetar. Jantungnya tiba tiba berdegup sangat kencang.


Lalu sebuah tulisan didalam Test Pack itu menjawab semua kebingungannya.


Pak selamat ya :), sebentar lagi kita akan menjadi orang tua, i love you. Bella.


Ansel langsung ambruk dan terduduk di atas kasurnya. Wajahnya terlihat sangat syok sekaligus bahagia.


"Jadi Bella sedang hamil?" Tanpa Sadar matanya mulai berkaca kaca, haru sekaligus sedih bercampur jadi satu.

__ADS_1


Dia jadi teringat saat itu Bella meminta kesempatan untuk bicara sesuatu yang penting namun dia malah lebih memilih pergi dengan terburu buru karna hendak menemui Diandra yang sedang kritis waktu itu.


Jadi saat itu Bella hendak menyampaikan soal kehamilannya ini.


Ansel mengusap wajahnya dengan kasar.


Kini penyesalan didalam hatinya bertambah besar.


Bella pasti sangat sedih saat dia kemarin membentaknya apalagi kondisinya tengah hamil muda.


Ansel memukul mukul kepalanya sendiri dengan keras.


"TO LOL! LO EMANG TO LOL ANSEL!" Ucapnya geram pada dirinya sendiri.


"Bella kamu dimana Bell?" Ansel menatap nanar Tespek itu, rasanya dia ingin sekali memeluk gadis itu dengan erat dan mengatakan kalau dia sangat bahagia atas kehamilannya.


Namun nasi sudah menjadi bubur, Bella sudah pergi meninggalkannya karna kesalahannya sendiri.


Ansel lalu berdiri dan memandang foto pernikahannya dengan Bella dengan wajah serius. Tidak ada gunanya meratapi nasib, sekarang yang harus dia lakukan adalah menemukan Bella dan meminta maaf kepadanya.


"Bella, aku akan menemukanmu! aku janji!" Ucap Ansel sambil bergegas keluar kamar dengan langkah cepat.


"Kakak mau kemana?" Citra yang baru keluar dari kamarnya heran melihat Ansel berjalan begitu terburu buru.


Ansel berhenti dan menoleh.


"Aku mau mencari Bella Cit. Bella sedang hamil, aku tidak bisa membiarkannya sendirian diluar sana.."


Setelah mengucapkan itu Ansel langsung pergi meninggalkan Citra yang terbengong bengong ditempatnya.


"Kak Bella hamil?" Citra tampak Syok dan bahagia namun sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi sedih, dia sangat menyesal atas perlakuannya akhir akhir ini pada Bella. Terlebih lagi dia juga yang sudah ambil andil atas kepergian Bella dari rumah.


Dengan gampangnya dia menuduh kakak iparnya itu. Dia sudah kehilangan segalanya sekarang, yang tertinggal hanyalah penyesalan, cinta butanya pada Kevin sudah membuat hidupnya hancur. Citra ambruk dilantai sambil menangis sejadi jadinya dengan memeluk kedua lututnya dengan erat.


Citra berharap kak Ansel segera menemukan Bella dan membawanya kembali kerumah, setidaknya satu penyesalan di dadanya akan lenyap dan dia berjanji akan memperbaiki hubungan kakaknya itu.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2