
Esok paginya waktu menunjukkan pukul 8.30 wib
Bella baru keluar dari kamar mandinya dan hendak mengganti pakaiannya. Ansel sudah pergi ke kampus sejak jam 7 tadi, dia bahkan tak sempat melihat suaminya karna saat bangun Ansel sudah berangkat.
Bella mengeringkan pakaiannya menggunakan pengering rambut sambil berkaca di depan cermin, namun tiba-tiba Bella merasa sangat mual. Bella pun segera berlari ke dalam kamar mandi.
Huek huek huek..
Bella mengelap mulutnya menggunakan handuk, entah kenapa rasanya perutnya menjadi kram.
'apa gue masuk angin ya?' Tanyanya dalam hati.
Bella pun langsung keluar kamar mandi dan segera bersiap untuk pergi ke kampusnya.
Sesampainya di kampus Bella bertemu dengan Sarah di lorong.
"Sarah!" Panggil Bella seraya berlari menghampiri Sarah yang terlihat terburu buru.
"Eh, Bella. Apa kabar Bell?" Tanya Sarah, dia terlihat sangat gugup berhadapan dengan Bella. Bella malah kebingungan melihat sikapnya itu.
"Gue udah baik-baik aja Sar. Lo kok pucet sih Sar? lo sakit? kita ke ruang kesehatan yuk?" Ajak Bella yang mengira Sarah sedang sakit padahal sebenarnya Sarah hanya takut bertemu lagi dengan Bella setelah insiden penculikan itu.
"Gak kok Bell, gue gak sakit. Oh iya maaf ya gue belum sempet nemuin lo karna gue lagi banyak urusan, d gue ikut sedih ngedenger berita lo di culik kemaren Bell, tapi syukurlah lo udah gak apa-apa sekarang.." Ucap Sarah sambil melirik Bella sekilas.
"Iya, ini berkat Pak Ansel Sar. Kalau gak ada dia gue gak tau deh gimana nasib gue waktu itu.." Bella menarik nafas berat. Rasanya menakutkan setiap ingat kejadian itu.
"Ouh iya gue juga udah denger soal itu.. Em Bella, gue duluan ya, gue lagi ada urusan nih sama temen gue, sampe jumpa lagi ya." Sarah melambaikan tangannya dan terburu buru pergi meninggalkan Bella.
Bella mengerutkan kedua alisnya menatap Sarah dengan Bingung. 'kenapa anak itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari gue ya..' Batin Bella dalam hatinya.
Sementara itu Inyong dan Sasya sedang menunggu kedatangan Bella didalam kelasnya.
"Eh lo tau gak sih Sya, Inyong punya gosip terbaru, hot news pokoknya!" Seru Inyong dengan muka tegang.
"Hah berita apaan lagi? penting gak!?" Tanya Sasya sambil mengeluarkan laptop dari tasnya.
"Ya pentinglah Sya, bener bener penting!" Desisnya sambil setengah berbisik ditelinga Sasya.
Inyong baru saja mau membuka mulutnya lagi namun urung ketika matanya menangkap dua sosok pria yang baru saja datang dari arah pintu masuk kelas.
Toni dan Alaska langsung mengambil tempat duduk tepat di belakang Inyong dan Sasya.
"Ngapain lo nyong? pagi pagi udah ngegosip aja lo!" Ledek Toni sambil menaruh tasnya dibawah.
"Kenapa? ngiri ya lo? lo boleh ikutan kalau lo sekong!" Kata Inyong kecut. Toni menyeringai geli.
"Yah, mending gue sama lo aja deh, meskipun lo gendut tapi lo kan cewek tulen."
__ADS_1
"Kurang ajar lo!" Inyong menggeplak lengan Toni sambil melotot ke arahnya. Toni malah tertawa terbahak bahak.
Akhirnya Inyong fokus lagi kepada Sasya dan melanjutkan ucapannya.
"Dosen baru itu loh Sya.Ternyata Dia mengidap penyakit mematikan, yang Inyong denger penyakit Leukimia!"
Sasya mengangkat kedua alisnya. Inyong belum menyelesaikan ucapannya. Inyong menatap berkeliling dengan ekspresi muka yang sekarang jadi sangat serius.
"Jadi ternyata dulu tuh dia ninggalin Pak Ansel karna dia mau melakukan operasi besar di luar negri, dan sekarang dia malah tiba tiba balik lagi kesini mau nemuin Pak Ansel karna dia ngerasa bersalah udah ninggalin Pak Ansel dulu tanpa penjelasan apa-apa!"
Sasya langsung tersentak kaget. Sasya mematung, jelas itu bukan kabar baik.
Inyong memang bener-bener udah ngalahin Intel nya FBI. Bahkan gosip dosen aja dia sampai tahu ke akar-akarnya, luar biasa memang tak perlu diragukan lagi kehebatan Inyong dalam melacak gosip.
Sasya jadi teringat Bella. Kalau memang benar tujuan kepulangan Bu Diandra adalah untuk menemui Pak Ansel, maka itu akan menjadi ujian cinta bagi mereka berdua. Sasya jadi kasihan memikirkan Bella.
Alaska yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka jadi ikut terdiam. Dia tertarik pada pembicaraan Inyong dan Sasya saat mereka menyebut nama Dosennya Ansel. Alaska sebenarnya sangat penasaran tentang hubungan Bella dan Dosennya itu.
Dia merasa hubungan mereka lebih dari sebatas antara mahasiswi dan Dosen saja. Terlebih setelah kejadian saat kamping kemarin. Pak Ansel rela mengorbankan keselamatannya sendiri demi menyelamatkan Bella. Kalau bukan karna cinta mustahil rasanya.
Tak lama Bella datang dari arah pintu masuk. Mata elang Alaska mengekor sampai Bella berhenti di depannya dan duduk disebelah Sasya.
"Kenapa lo Bell? muka lo lesu banget sih?"
Sasya memperhatikan wajah Bella yang agak pucat.
Bella menggeleng pelan.
"Lo sakit Bell?" Alaska tiba-tiba bertanya dari belakang, wajahnya langsung menyembul disamping Bella untuk mengecek kondisi gadis itu.
"Gak Al, gue cuman agak lemes aja.."
Tak lama Dosen pun datang ke ruangan itu dan memulai pelajaran sampai selesai.
Sepanjang pelajaran Bella benar-benar tak fokus, perutnya kadang kram, kadang mual tapi pas dia ke kamar mandi tidak ada yang keluar sama sekali dari mulutnya.
Inyong dan Sasya pun jadi ikut khawatir melihatnya.
Akhirnya jam pelajaran pertama telah usai. Inyong dan Sasya mengajak Bella untuk beristirahat diruang kesehatan namun Bella menolaknya. Dia merasa hanya masuk angin biasa.
"Bella, ini gue bawain teh anget.." Sasya kembali dari kantin dengan membawa segelas teh hangat beserta roti ditangannya.
"Lo belum sarapan mungkin ya? nih gue bawain roti juga Bell, isi dulu geh perut lu, barangkali mag lu kambuh."
Bella menerima teh hangat dan roti yang di sodorkan oleh Sasya.
"Kayaknya sih, gue emang belum sarapan tadi pagi.."
__ADS_1
"Yaudah makan dulu rotinya, biar enakan perut lu Bell.."
Bella mengangguk dan kemudian memakan roti ditangannya. Namun tiba-tiba Bella memuntahkannya hingga Alaska yang duduk dibelakang Bella refleks menyodorkan sapu tangannya.
"Ini Bell pake ini!" Bella mengambil sapu tangan itu lalu kemudian mengelap mulutnya.
"Kok rasa rotinya aneh sih pait?"
Sasya mengangkat kedua alisnya.
"Masa sih Bell? coba gue periksa.."
Sasya mencomot sedikit roti yang Bella makan tadi.
"Ah, engga ah, ini rasanya enak Bell, gak ada pait paitnya, coba deh Al.."
Alaska kemudian ikut mencomot roti itu dan memakannya.
"Gak pait kok Bell, ini enak masih baru.."
Bella jadi bingung, belum pernah dia begini sebelumnya
Sementara itu di apartemen Zio.
Ansel ternyata ada di apartemen Zio untuk melanjutkan penyelidikan kasus penculikan Bella kemarin.
Ansel sengaja mampir ke tempat Zio karna salah satu pengawalnya berhasil melacak keberadaan salah satu preman yang waktu itu menembaknya.
"Mereka udah sampe batam sel, sekarang orang-orang kita sedang berusaha menutup semua akses dari dalam. Semoga secepatnya ada kabar baik dari mereka."
"Bagus, gue ingin mereka dalam keadaan hidup! karna gue butuh informasi penting dari mereka, gue pengen tau siapa dalang dari semua ini.." Ansel mengepalkan kedua lengannya kuat kuat, dia benar benar marah saat teringat kembali peristiwa naas itu.
"Apa lo curiga sama seseorang Sel?" Tanya Zio sambil menuangkan jus jeruk ke gelas milik Ansel.
"Iya, tapi gue gak punya bukti yang cukup. Apa Sasya udah ngirim rekaman dirumah Sarah?" Tanya Ansel.
Zio menggeleng. Dia memang belum meminta rekaman itu pada Sasya karna dia masih menyuruh Sasya untuk menyelidiki lebih jauh seberapa jauh hubungan antara Kevin dan Sarah.
"Belum Sel, gue akan ketemu Sasya nanti malam, gue bakal periksa semua bukti bukti perselingkuhan mereka."
Zio terdiam sejenak, dia melihat Ansel seperti sedang banyak pikiran.
"Apa rencana lo selanjutnya Sel?"
Ansel hanya diam. Dia menghela nafas berat.
"Dengan berat hati gue akan bongkar semuanya ke Citra. gue tau dia bakal sedih dan hancur banget, tapi gak ada jalan lain. Si brengsek itu memang gak pantes dapet adik gue Citra, dia harus menerima semua perbuatan dia ke Bella dan Citra, gue gak akan pernah lepasin dia, gak akan!" Wajah Ansel jadi benar-benar serius.
__ADS_1
Zio mengangguk setuju dengan keputusan Ansel. Pria brengsek seperti Kevin memang harus segera disingkirkan sejauh jauhnya dari kehidupan mereka.
bersambung