
Malam itu Zio memutuskan untuk janjian ketemuan dengan Sasya. Zio ingin menjemput gadis itu dirumahnya namun Sasya menolak.
Akhirnya Zio memutuskan menunggu di tempat mereka janjian, yaitu sebuah Kafe dengan nuansa yang sangat Luxurious.
Zio melihat jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul 21.00 wib.
Dia melihat ke arah pintu dan matanya langsung memancarkan kelegaan saat seseorang yang sedari tadi ditunggunya sedang terlihat berjalan ke arahnya.
"Pak, maaf ya saya telat.."
Sasya setengah berlari menghampiri meja yang sudah dipesan khusus oleh Zio.
"No problem Sya. Saya justru khawatir kamu kenapa napa dijalan." Zio menatap Sasya yang terlihat ngos-ngosan.
"Kenapa kamu lari Sya?"
"Tadi, di depan saya ngeliat badut pak!"
"Terus?" Zio menatap tak mengerti.
"Saya phobia badut! apalagi yang wajahnya kaya orang itu, saya takut.." Sasya mendekatkan wajahnya dan berbisik di telingan Zio.
Zio terkekeh mendengarnya.
"Ada-ada aja kamu Sya.."
"Ouh iya, saya lupa mau ngasih ini ke bapak.."
Sasya merogoh tasnya dan memberikan flashdisk ke tangan Zio.
"Semua filenya sudah saya copy dan salin ke flashdisk ini pak, file aslinya masih saya simpen buat jaga-jaga." Sasya berkata lirih, dia tidak ingin perkataannya dan Zio di dengar oleh siapapun.
Zio mengangguk dan langsung menyimpannya di dalam saku bajunya.
"Terima kasih banyak Sya."
"Sudah ku bilang jangan berterima kasih pak, aku melakukannya karna sudah kewajiban ku sebagai sahabatnya Bella."
Sasya melihat sekeliling dan kagum dengan interior kafe yang begitu mewah itu.
"Apa bapak sering kesini sebelumnya?"
"Tidak, memang kenapa Sya? apa kau tidak suka dengan tempatnya?"
Sasya menggeleng cepat.
"Tidak, aku sangat suka tempatnya begitu nyaman. Tapi kalau bapak mau ngajak makan di warung pecel lele aku bakal lebih seneng.."
Zio mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi.
"Kau suka makan pecel lele? serius?" Zio menatap tak percaya.
Dia tahu latar belakang keluarga Sasya adalah anak dari salah satu petinggi di negri ini, namun ternyata Sasya itu beda dari kebanyakan wanita kaum elit yang pernah dia kenal. Dia begitu sederhana dan tak neko neko.
"Iya, suka banget, aku sampe punya langganan kang pecel di sekitaran sini.." Ucap Sasya yang terlihat antusias.
"Yaudah tunggu apalagi, ayo kita makan pecel lele kalau gitu!" Zio berdiri dan mengulurkan satu tangannya.
Sasya menatapnya kaget.
"Serius?"
Zio mengangguk sambil tersenyum.
Sasya hendak menyambut uluran tangan itu namun ragu. Zio menatapnya dan meyakinkan Sasya agar menyambut uluran tangannya itu.
"Kemarilah!" Pinta Zio akhirnya menarik lengan Sasya yang sudah terulur setengah ke arahnya dengan tak sabar.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun pergi dari kafe itu menuju emperan dipinggir kota jakarta.
Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka pun sampai di tempat yang di maksud oleh Sasya.
Zio melihat spanduk khas warung pecel lele pada umumnya kini sudah ada di hadapannya.
"Ayo turun, disini langganan aku dari SMA loh pak!" ajak Sasya sambil mencoba membuka sabuk pengamannya. Sasya pun langsung membuka pintu mobil dan turun mendekati warung pecel itu.
Zio hanya geleng geleng kepala melihatnya. Dia tidak tahu jika menyenangkan hati Sasya ternyata segampang ini. Hanya dengan mengajaknya makan di warung pecel.
Zio ikut turun dan melihat Sasya sedang memesan pada seorang bapak penjaga warung disana.
Sasya pun kemudian menghampiri Zio dan menarik tangannya untuk memilih tempat duduk emperan di dekat pantai. Angin sepoi-sepoi sesekali menerpa ke arah mereka.
"Pak, apa yang akan bapak lakukan selanjutnya dengan rekaman Kevin dan Sarah?" Tanya Sasya sambil menatap Zio serius.
"Aku akan menyerahkan ini pada Ansel, dialah yang punya rencana selanjutnya."
Sasya terdiam sesaat, sekelebat bayangan sahabatnya Sarah lewat dalam pikirannnya.
"Apa yang kau pikirkan Sya?"
Sasya menggeleng sambil tersenyum getir
"Aku hanya tak menyangka jika aku yang akan membongkar kejahatan sahabatku sendiri.. Sungguh aneh rasanya pak, bertahun tahun kami bersama sebagai teman berbagi segala cerita, tapi pada akhirnya hubungan persahabatan kami akan berakhir saat Sarah tau kalau akulah yang sudah membongkar rahasia terbesarnya dengan Kevin."
Zio memegang lengan Sasya, Sasya langsung menoleh kaget. Dia buru buru menarik tangannya karna merasa jantungnya jadi tiba tiba berdegup sangat kencang.
"Maaf Sya, tapi yang kamu lakukan ini sudah benar, justru karna kamu sahabatnya kamu pasti ingin dia bisa tua dimana kesalahannya kan?"
Sasya menarik nafas dalam.
"Ngomong-ngomong apa kamu sudah punya pacar?"
Sasya mengerutkan kedua alisnya mendengar pertanyaan dari Zio.
"Kurasa itu bukan urusan bapak!" Jawab Sasya sambil memalingkan wajahnya.
'huh apa apaan dia tiba tiba menanyakan hal seprivasi itu kepadaku! aku tau dia pasti mau merayuku seperti dia merayu wanita yang sering berada di sekelilingnya'
Batin Sasya dalam hatinya.
Saat mereka asyik mengobrol tiba-tiba datang seorang badut dengan kepala yang sangat besar.
Sasya yang tak sengaja menoleh ke arah sang badut langsung terkejut. Badut itu terlihat makin mendekat sambil menggoyang goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Tubuh Sasya tiba tiba saja membeku tanpa suara. Zio yang ingat perkataan Sasya saat di kafe tadi langsung dengan sigap memeluk gadis itu dan membenamkan wajahnya di dada bidangnya.
Zio merasakan tubuh Sasya benar benar gemetar, Zio langsung mempererat pelukannya. Sasya mendekap tubuh Zio dengan kepala tertunduk, tangannya mencengkram baju Zio dengan sangat kuat.
"Sya, tenang ya badutnya udah gak ada.." Zio mengelus punggung Sasya. Dia tak menyangka jika reaksi Sasya melihat badut akan seekstrim itu.
Sasya mengangkat kepalanya perlahan. Dia melirik takut ke arah jalan dan memang benar kata Zio badut itu sudah hilang dari sana.
Sasya menarik nafas lega namun dia tak sadar jika dia masih dalam pelukan pria itu.
Zio memperhatikan wajah Sasya yang kini sangat dekat dengannya. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan rambut hitam ikal yang terurai.
Sasya menoleh dan baru menyadari jika sekarang wajahnya dengan wajah Zio hanya tinggal beberapa senti saja. Hembusan nafas Zio dan nafasnya kini beradu jadi satu.
Jantung Sasya kembali berdegup cepat di dalam tubuhnya, begitu juga dengan Zio. Dia merasakan sesuatu yang sudah lama sekali tidak dia rasakan. Dia begitu gugup meskipun raut wajahnya tetap menunjukkan ketenangan.
Mereka saling terdiam beberapa saat. Rasanya Zio benar benar tak tahan ingin menyentuh wajah Sasya. Namun dia tahu gadis itu pasti tidak akan menyukai tindakannya.
Diluar dugaan Zio saat dirinya hendak melepaskan pelukannya Sasya malah dengan cepat mencium pipi kanannya.
^^^Cup^^^
__ADS_1
Hah? Zio menoleh kaget, mulutnya ternganga tak percaya. Sasya sendiripun terlihat sangat syok dengan apa yang baru saja dilakukannya.
'astaga bodoh banget sih lo Sya! ngapain sih lo?' Sasya mengutuk dirinya sendiri.
Sasya menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia benar benar malu, bisa bisanya dia mencium laki laki ini. Sasya benar benar refleks dan tak menyadari tindakannya sendiri. Rasanya dia ingin hilang saja dari sana saat ini juga!
"Sya.." Zio menyentuh lengan Sasya dan mencoba membuka wajahnya yang sedang coba ditutupinya.
Sasya menggeleng cepat.
"Maafkan saya pak, saya benar benar refleks!"
Zio tertawa pelan.
"Ayolah Sya, itu bukan pertama kali bagi kita."
Hah? Sasya langsung menoleh ke arah Zio. Menatapnya dengan tatapan kebingungan.
"Maksud bapak?"
Zio menatap Sasya lurus. Sudah waktunya dia minta maaf atas insiden saat Sasya mabuk dulu, saat dirinya tak sengaja mencium bibir gadis itu.
Zio pun menjelaskan semuanya dan Sasya langsung terbelalak tak percaya.
"Maaf Sya, saya waktu itu tidak bisa menahan diri saya.."
"Bapak keterlaluan! bapak tau gak itu ciuman pertama saya!" Dengus Sasya sambil menatap Zio dengan emosi. Sasya pun langsung berdiri dan pergi dari tempat itu.
Zio langsung buru buru mengejarnya. Namun sebelum pergi dia meninggalkan beberapa lembar uang diatas mejanya.
"Tunggu Sya! saya bisa jelaskan!" Zio bisa dengan mudah mengejar langkah gadis itu.
"Saya gak mau denger apapun lagi dari bapak!" Kilahnya sambil terus berjalan melewati Zio.
Zio terpaksa harus menggendong tubuh Sasya dan membawanya kembali ke dalam mobil.
"Lepaaas!!" Sasya meronta sambil memukul mukul dada Zio.
Tapi Zio tak bergeming sedikitpun.
"Dengar Sya. Ini sudah malam! saya tidak akan membiarkan kamu balik kerumah seorang diri!" Zio langsung menutup pintu mobil setelah memakaikan sabuk pengaman ke tubuh Sasya.
Sasya terlihat sangat emosi. Dia tak menyangka jika waktu itu Zio tega menciumnya dalam keadaan mabuk.
"Bapak keterlaluan! bapak pasti mengira saya gampangan seperti wanita wanita yang sering ada disamping bapak kan!"
Zio menggeleng.
"Tidak Sya. Saya tidak berpikir.."
"Saya tahu bapak pikir saya ini pasti murahan kan? iya kan?" Sasya sampai menunjuk ke arah Zio saking geramnya.
Zio jadi kesal sendiri melihat Sasya yang terus nyerocos tanpa memberikannya kesempatan untuk menjelaskan.
"CUKUP!" Zio tanpa sadar mengeraskan suaranya yang membuat Sasya jadi bisu seketika.
Kedua lengan Zio terulur ke depan memegangi bahu Sasya agar wanita itu diam.
"Sya.. saya tidak pernah berpikir seperti itu, dimata saya kamu spesial. Saya.."
Zio menahan kalimatnya. Dia menatap Sasya lekat-lekat. Sementara keningnya kini telah dibanjiri oleh keringat.
"Sya.. saya menyukaimu."
Deg! Sasya merasa waktu berhenti berputar saat itu juga.
bersambung.
__ADS_1