
Sementara itu di perkemahan Sasya mondar mandir tak karuan didepan gerbang hutan menunggu kepulangan Bella, Inyong dan yang lainnya. Perasaannya benar-benar tak enak, dia seolah-olah bisa merasakan kalau sesuatu yang buruk sedang terjadi didalam hutan sana.
"Ya ampun kalian kemana sih, please jaga mereka Tuhan.." Ucap Sasya pelan.
Sementara di tendanya Kevin, Sarah juga terlihat sedikit khawatir. Bagaimanapun Bella sahabatnya. Apa yang sudah terjadi pada gadis itu sekarang?
"Kev, apa Bella baik-baik saja?" Bisik Sarah pelan agar tak ada yang bisa mendengarnya.
"Tenang, dia akan baik-baik saja.." Jawab Kevin santai.
Kevin tersenyum puas sambil meminum segelas kopi hangat ditangannya. Dia sedang membayangkan keadaan Ansel sekarang, pasti pria itu sudah tiada ditangan para preman suruhannya. Mampus kau! Sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa menghalanginya mendapatkan Bella! Gumam Kevin dalam hatinya.
Tak lama sebuah mobil BMW putih berhenti didepan perkemahan. Seorang pria terlihat turun dari mobil dan langsung masuk ke area perkemahan.
Zio terlihat menghampiri panitia dan menanyakan tentang keadaan Bella dan Ansel. Wajah Zio seketika berubah jadi panik saat mengetahui kalau mereka ternyata belum kembali sampai saat ini.
Zio segera meminta beberapa orang panitia untuk ikut dengannya ke dalam hutan cemara.
Sasya yang berdiri didepan gerbang kaget ketika melihat Zio datang ke arahnya bersama dengan beberapa orang panitia. Mereka terlihat melangkah dengan terburu-buru.
"Bapak sejak kapan disini?" Tanya Sasya sambil menghampiri Zio.
"Aku baru sampai Sya. Aku mau ke dalam hutan mencari Ansel dan rombongan Bella yang hilang." Ucap Zio lalu dia kembali melangkah ke dalam hutan didepannya.
"Saya ikut pak!" Ucap Sasya sambil menarik satu tangan Zio. Zio langsung menoleh ke belakang.
"Kamu tunggu disini aja Sya! ini bahaya buat perempuan!" Zio mencoba melepaskan tangan Sasya namun gadis itu malah bersikukuh dengan keras.
"Engga pokoknya saya mau ikut!" Ucap Sasya tegas.
"Kenapa kamu keras kepala banget sih!" Bentak Zio.
"Terserah pokoknya saya ikut, saya gak tenang kalau Bella, inyong dan yang lainnya belum ketemu!" Sasya langsung mengambil langkah didepan Zio dan para panita, akhirnya Zio mengalah dan membiarkan Sasya untuk ikut rombongannya mencari Ansel dan yang lainnya.
__ADS_1
Sementara itu didalam hutan, Bella terus menyusuri jalan walaupun dia tidak tahu kemana langkah kakinya akan membawanya nanti, dia hanya berharap segera menemukan jalan pulang atau ada keajaiban yakni bisa ditemukan oleh teman-temannya yang lain.
Bella tertatih dan berusaha sekuat tenaga memapah tubuh Ansel, beberapa kali mereka terjatuh namun Bella terus berusaha keras dan tidak mau menyerah pada keadaan.
"Bella, aku sudah tidak kuat berjalan lagi.." Bisik Ansel pelan.
Bella menoleh dan menghentikan langkahnya sesaat. Dia melihat pria disampingnya sudah sangat pucat dengan nafas yang terdengar berat.
"Kita istirahat dulu ya pak.." Bella langsung membantu menyenderkan tubuh Ansel disebuah pohon besar.
Ansel memegangi dadanya yang tertembak, dia merasakan sakit yang luar biasa disana. Tubuhnya mulai kehilangan tenaga karna sedari tadi darah terus mengalir deras dari luka tembak itu, kemeja putihnya pun kini sudah berubah menjadi warna merah gelap.
Bella terus menangis melihat keadaan Ansel yang semakin memprihatinkan, dia khawatir sekali kalau sesuatu terjadi pada pria itu. Ansel sangat membutuhkan pertolongan saat ini, Bella bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa membalut luka Ansel dan berharap pendarahannya berhenti.
Bella berdiri dan mencoba melihat kesekitarnya, dia berharap bisa menemukan sumber air disana untuk Ansel.
"Pak, tunggu disini ya, saya mau memeriksa sekeliling dulu.."
"Kamu mau kemana Bella?"
Jawab Bella sambil mulai melangkah pergi. Bella langsung menyusuri sekitarnya dengan menandai setiap jalan yang dilaluinya dengan menaruh ranting kering dijalan setapak agar nanti ketika dia kembali dia tidak tersesat.
Namun pencariannya berakhir sia sia karna disekitar situ ternyata tidak ada sumber mata air. Nafas Bella sudah terengah-engah, tenaganya mulai terkuras habis, seluruh tubuhnya terasa sangat capek namun dia sudah tak peduli lagi, dipikirannya saat ini hanyalah keselamatan Ansel, dia harus segera mencari pertolongan untuk Ansel.
Waktu semakin malam dan suasana dihutan benar-benar sudah sangat menyeramkan, Bella pun kembali ke tempat Ansel tanpa membawa apa-apa.
Bella melihat Ansel sudah memejamkan matanya sambil terus memegangi luka di dadanya.
Bella memelankan suara kakinya agar tak membangunkan Ansel.
Bella terisak tanpa suara melihat keadaan Ansel yang kian memilukan, wajahnya sudah pucat pasi.
seandainya dia bisa menukar dirinya untuk posisi Ansel sekarang, Bella ikhlas kalau saja waktu itu dia yang kena tembakan dan bukan Ansel, karna jujur saja Bella tak sanggup melihat pria ini terluka. Bella merasa hancur melihat keadaan Ansel sekarang.
__ADS_1
"Bella.." Ucap Ansel dengan suara yang sangat pelan.
Bella langsung mendekat dan memegang tangan Ansel. Bella kaget karna tangan Ansel begitu dingin.
"Pak, bapak kedinginan ya?" Tanya Bella panik, Bella melihat sebuah pohon dengan daun besar disampingnya, Bella langsung bergerak cepat dan memetik beberapa daun untuk dijadikannya selimut.
Bella kembali dan langsung menyelimuti daun itu ke tubuhnya Ansel. Ansel hanya diam dengan nafas yang mulai terdengar sangat lemah.
Bella terus menangis sambil mengusap-ngusap telapak tangan Ansel agar pria itu merasakan hangat di telapak tangannya.
"Bapak harus bertahan, saya yakin sebentar lagi akan ada yang menemukan kita pak, saya mohon katakan sesuatu.." Ucap Bella sambil menangis sesenggukan, namun Ansel tetap diam tak bergeming.
Bella menempelkan kepalanya di dada Ansel dan mencoba memeriksa detak jantungnya. Jantung Ansel masih berdetak meskipun terdengar sangat lambat.
"Pak, bapak harus bertahan, memangnya bapak tidak ingin ribut dengan saya lagi? pak..pak! Bapak tidak mau melihat Citra sedih kan? bapak harus kuat karna sebentar lagi bapak akan jadi seorang paman kan? bertahanlah setidaknya untuk adikmu Citra yang sangat kau sayangi itu pak!" Bella terus mengajak Ansel bicara padahal dia tahu Ansel sudah tidak sadarkan diri.
"Pak, bapak mau tau tidak? saya benci sekali pada bapak! karna bapak selalu salah paham sama saya! tapi akhir-akhir ini ada perasaan aneh yang terus mengganggu saya!" Ucap Bella lagi.
"Bapak mau tahu tidak?" Tanya Bella sambil menepuk-nepuk pipi Ansel namun pria itu tetap tidak bergerak juga.
"Pak, saya.. sepertinya saya sudah mulai menyayangi bapak! hiks..!" Bella tertunduk, air matanya mengalir deras dikedua pipinya. Dia benar-benar tidak sanggup jika sampai Ansel tiada.
Bella bahkan tak sadar kalau dia baru saja mengungkapkan perasaannya pada pria itu. Pria yang selama ini sudah membuat hari-harinya jadi sangat mengerikan namun disisi lain pria ini juga selalu datang menyelamatkannya disaat dia sedang dalam masalah besar. Pria ini yang tanpa sadar mulai mengisi tempat kosong dihatinya.
Bella mengangkat kepalanya saat merasakan kepalanya dielus dengan pelan. Ansel menatapnya lurus tanpa berkata apa-apa.
Mata Ansel mulai terpejam kembali namun Bella buru-buru memeluknya dengan cepat.
"Pak, bertahanlah, saya mohon!" Ucap Bella dengan tangis yang kian pecah.
bersambung..
Gimana makin seru gak?
__ADS_1
Vote dan jangan lupa follow author semangat upnya :)