
Bella sedang duduk termenung didepan meja belajarnya, pandangannya lurus menatap kalender yang sedari tadi sudah dia lingkari dengan pulpen merahnya.
"Telat seminggu!" Ucapnya gusar.
Dikeluarkannya tespek dari dalam tasnya. Dia menatap ragu tespek itu. Ini adalah hal baru dalam hidupnya. Haruskah dia mengikuti saran Inyong dan Sasya untuk memastikan apakah dia hamil atau tidak?
Tok tok tok
Tiba tiba lamunannya terhenti saat terdengar pintu kamarnya diketuk. Bella pun buru buru memasukkan kembali tespek itu ke dalam tasnya dan bergegas membuka pintu.
"Cit? ada apa?" Tanya Bella ketika melihat Citra tengah berdiri dihadapannya.
"Kak Bella sibuk gak?" Tanya Citra sambil tersenyum.
"Engga sih Cit, kenapa?"
"Aku pengen makan nasgor, tapi nasgornya buatan ka Bella.." Cita menjentikkan kedua jari telunjuknya didepan dadanya mirip anak kecil yang sedang merajuk minta makan pada ibunya.
"Kamu lagi ngidam Cit?"
"Hmm.. kurasa iya kak.."Jawab Citra berbohong. Sebenarnya dia sedang merencanakan sesuatu untuk Bella.
"Yaudah kalau gitu kakak bikinin ya, kamu tunggu aja dikamar ntar kakak panggil kalau udah siap." Bella yang polos menuruti permintaan Citra tanpa curiga sedikitpun.
"Engga kak, kau maunya ikut bantu di dapur.." Citra mengapit lengan Bella dan menyenderkan kepalanya di bahu Bella, dia bersikap sangat manis padahal hatinya menyimpan dendam yang sangat membara untuk Bella.
"Yaudah hayu kita masak, tapi kamu jangan cape cape ya bantuin nya."
Citra mengangguk antusias, akhirnya merekapun bergegas ke dapur untuk memasak makanan yang dipesan oleh Citra.
Citra melirik ke arah jam dinding, harusnya kak Ansel sudah pulang jam segini, dia ingin memastikannya lebih dulu, akhirnya Citra pura pura mau mengambil hp ke kamarnya.
"Aku ke atas sebentar ya kak mau ngambil hp.."
"Iya Cit, hati hati naik tangganya.."Pesan Bella sambil melihat ke arah Citra sesaat lalu dia kembali sibuk memasak.
Citra pun naik ke atas dan melihat Ansel baru saja masuk ke kamarnya.
'ok, ini waktu yang pas buat menjalankan rencananya'
Citra pun kembali ke dapur dan melihat Bella sedang sibuk memasak nasgor untuknya.
__ADS_1
Bella tak melihat kedatangan Citra karna dia membelakanginya, Citra memanfaatkan kesempatan itu untuk menumpahkan minyak ke lantai di belakang Bella.
"Wah, wanginya aja udah bikin aku ngiler nih kak Bell!" Ucap Citra seraya menghampiri Bella.
Namun dengan sangat lihat Citra tiba tiba saja terjatuh, Citra pura pura terpeleset sendiri sambil memegangi kaki meja yang ada didekatnya agar dia bisa menahan badannya sendiri, dia jelas saja tidak ingin melukai kandungannya karna ini hanya untuk pura pura saja.
BRUG
Citra sukses menciptakan drama terpeleset itu.
Bella menoleh kaget ke belakang, dan sedetik kemudian langsung berteriak histeris saat dia melihat Citra sudah ada dibawah dengan posisi setengah duduk sambil memegangi perutnya.
"CITRA! ASTAGA TOLONG!" Bella berteriak sambil menghampiri Citra dengan wajah panik.
"Cit ya ampun kamu gak apa-apa?" Tanya Bella.
Citra tentu saja pura pura meringis kesakitan padahal dia tak terluka sedikitpun.
Semua keluarga langsung datang menghampiri mereka dengan langkah yang tergesa-gesa saat mendengar Bella meminta tolong.
Ansel yang melihat posisi Citra di bawah lantai langsung panik.
"Astaga Citra kenapa?" Tanya Ansel panik, dia lalu jongkok dan memeriksa Citra, terlihat cipratan minyak disekitar tubuh adiknya itu.
"BELLA! KAMU BISA LEBIH HATI-HATIKAN? CITRA LAGI HAMIL BELL! KALAU DIA KENAPA NAPA GIMANA?!" Ansel tanpa sadar membentak Bella dengan keras.
Bella tercengang mendengar Ansel berteriak kepadanya, padahal jelas jelas seingat dia, dia tidak pernah menjatuhkan minyak di lantai seperti yang dituduhkan Citra barusan.
"KAMU MAU CITRA CELAKA?" Ansel menatap Bella dengan tajam, dia tampak emosi melihat Citra terus meringis memegangi perutnya.
Bella menahan tangis mendengar Ansel berteriak begitu keras kepadanya. Tapi dia berusaha sabar dan tidak menjawab.
Citra tersenyum sangat puas dalam hatinya, benar kata Kevin, kak Ansel akan selalu membelanya dalam keadaan apapun.
"Sel, udah mending bawa Citra ke kamar sekarang, mamah bakal panggil dokter buat kesini meriksa kondisi Citra.." Ucap Nyonya Tania.
Bi Iyam dan Bi Sri kaget dan saling berpandangan satu sama lain melihat Nyonya Tania malah sepertinya berusaha membuat Ansel tidak memarahi Bella, padahal sebelumnya mereka tahu jika Nyonya Tania itu sangat membenci menantunya Bella.
Apa gara-gara insiden waktu Nyonya Tania diselamatkan kemarin itu jadi hatinya sedikit melunak pada Bella?
"Bi.. Bersihkan minyaknya jangan sampai nanti ada yang terpeleset lagi!" Perintah Tuan Hamis yang dibalas anggukan oleh pembantunya itu.
__ADS_1
Akhirnya Ansel membopong tubuh adiknya ke atas kamar.
Tak lama dokter datang dan memeriksa kondisi Citra.
"Bagaimana kondisinya dok?" Tanya Ansel sambil menatap Citra dengan cemas.
Dokter pun berdiri dan menghampiri semua keluarga yang ada didalam kamar.
"Tenang saja, nona Citra dan bayinya baik baik saja pak, lain kali nona Citra harus lebih hati hati ya, jangan sampai hal seperti ini terulang kembali." Dokterpun menyerahkan secarik kertas ke tangan Ansel.
"Saya resep kan beberapa Vitamin untuk menguatkan kandungan nona Citra, tolong ditebus ya dan segera diminumkan.."
"Baik dok, terima kasih."
Dokterpun diantar keluar oleh Bi Iyam. Seluruh keluarga akhirnya kembali kebawah untuk makan malam, sementara Citra dijaga oleh Kevin dikamarnya.
"Bagus sayang, akting kamu bagus banget.." Kevin mengacungkan satu jempolnya.
Citra tersenyum bahagia. Dia tak menyangka jika kakaknya akan bereaksi begitu keras pada Bella hanya karna hal sepele seperti ini.
"Aku cuman pengen ngembaliin kak Ansel pada cinta sejatinya kak Diandra.." Ucap Citra sambil mengelus perutnya sendiri.
Sementara itu di dalam kamar, Bella sedang menangis terisak karna merasakan sakit hati gara gara Ansel membentaknya tadi.
Bella memang tak merasa menumpahkan minyak di atas lantai, tapi Ansel mana percaya karna yang ada di dapur saat itu hanya dia dan Citra, dan kalau pun benar Bella tak sadar sudah menumpahkan minyak itu harusnya reaksi Ansel tidak separah itukan? kenapa Ansel sama sekali tidak memikirkan perasaannya?
Sementara itu dimeja makan suasana menjadi sangat sepi karna yang ada disana hanya Tuan Hamis, Nyonya Tania dan Ansel.
"Sel, minta maaflah pada Bella dan bujuk dia untuk makan, kasihan dia nanti malah sakit lagi." Ucap Nyonya Tania.
Pak Hamis mengerutkan keningnya. Dia merasa sangat senang sekaligus heran melihat istrinya tiba tiba jadi sangat perhatian dan membela Bella.
Namun Ansel tak menjawab, dia terus makan tanpa menghiraukan kata kata ibunya. Dia masih sangat kesal pada Bella karna keteledorannya tadi.
Setelah selesai makan malam, Ansel akhirnya naik ke atas kamarnya. Dia melihat Bella sedang duduk diatas ranjang, matanya terlihat sembab, Ansel ingin menghampiri Bella tapi urung ketika dia kembali ingat kejadian tadi.
"Turun dan makanlah sebelum tidur." Ucap Ansel akhirnya tanpa menatap Bella. Ansel langsung merebahkan dirinya di kasur dan tidur dengan membelakangi Bella. Bella merasa Ansel masih marah kepadanya.
Bella membuka katup mulutnya, rasanya sesak sekali saat Ansel mengacuhkannya seperti ini. Bella kembali menangis tanpa suara, dia berusaha sabar menerima semuanya.
Akhirnya malam itu Bella tidur tanpa makan malam karna selera makannya sudah hilang sejak kejadian tadi. Padahal perutnya terasa lapar dan kram cuman karna suasana hatinya sedang tidak baik Bella pun akhirnya mengabaikan kesehatannya sendiri.
__ADS_1
bersambung..