SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Kevin mulai cemas


__ADS_3

Siang itu Kevin melamun didepan balkon kamarnya. Dia gusar sekali menunggu kabar soal kakak iparnya Ansel, setiap malam tidurnya jadi tidak nyenyak memikirkan nasibnya besok jika sampai pria itu bangun dari komanya. Kevin berdoa semoga Pria itu tidak akan pernah membuka matanya lagi.


Karna jika kakak iparnya itu siuman dia pasti akan mencari tahu siapa yang sudah menculik Bella kemarin.


"Sayang, aku bawakan teh buat kamu.." Citra menghampiri Kevin yang sedang asik melamun lalu menepuk pundaknya.


Kevin menoleh kaget.


"Kamu lagi ngelamunin apa sih?" Tanya Citra merasa bingung karna sikap Kevin yang uring-uringan akhir-akhir ini.


"Eh, engga kok sayang, gak ngelamunin apa-apa.." Kevin merangkul Citra dan memeluk gadis itu dari belakang.


"Gimana kabar anak ayah?" Kevin mengelus-ngelus perut Citra dengan gemas. Citra tersenyum geli karenanya.


"Sayang, aku mau tanya deh sama kamu, sebenernya kakak sama kak Bella kemana sih? kok mereka belum balik aja? emang mereka lagi ada urusan apa di bogor?"


Citra menoleh kebelakang dan menatap Kevin dengan wajah penasaran.


Kevin diam sesaat, dia lalu mengelus pipi Citra dengan mesra.


"Aku juga kurang tau sayang, mungkin mereka lagi ngurusin bisnis ayah disana, kamu bisa tanya langsung kakakmu kalau mereka udah balik kesini." Kevin terpaksa berbohong karna mertuanya telah meminta tolong padanya untuk merahasiakan keadaan sebenarnya dari Bella dan Ansel.


Tuan Hamis khawatir kalau Citra nanti akan stres dan itu tidak akan baik bagi kehamilannya.


Citra merasa tidak puas dengan jawaban Kevin itu. Karna tumben sekali kakaknya itu tidak memberitahukan dirinya terlebih dahulu, itu bukan kebiasaan kakaknya, ditambah lagi dia tidak bisa dihubungi sama sekali begitupun juga dengan Bella.


Sorenya Kevin menemui Sarah di rumah kontrakannya. Sarah menyambut kedatangan Kevin dengan wajah bahagia.


Sarah langsung membukakan pintu dan menyuruh Kevin masuk ke dalam kamar.


"Sayang, dari kemarin aku hubungin kamu kok gak dibales-bales?" Tanya Sarah sambil duduk dipinggir ranjang.


Kevin menghampiri Sarah dan langsung merebahkan dirinya di atas kasur.


"Aku khawatir Sayang kalau sampai perbuatan kita kemaren terbongkar, ku dengar dari ayah mertuaku kalau Pak Ansel sudah melewati masa kritisnya.."


Ucapan Kevin menyiratkan kecemasan yang amat dalam.


Sarah menggigit bibir bawahnya, dia jadi ikut cemas juga mendengarnya.


"Tapi kamu sudah menyuruh para orang-orang suruhan mu kemarin untuk pergi dari kota inikan sayang?"


"Iya, aku bahkan menyuruh mereka untuk pindah ke luar kota atau kalau perlu aku akan kirim mereka keluar negri!"


"Iya sayang, aku setuju, suruh mereka juga jangan menetap lama di satu daerah karna pasti mereka saat ini sedang dicari oleh orang-orang suruhannya Pak Hamis!"


"Makanya itu Sar, aku benar-benar cemas dibuatnya.. Sialan memang! kenapa juga Ansel berhasil selamat kemarin, seharusnya dia mati saja!" Ucap Kevin geram sambil mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


Sarah mendekati Kevin dan ikut berbaring disebelah laki-laki itu.


"Sayang, kamu gak usah cemas. Aku yakin mereka gak akan gampang menangkap orang-orang suruhan mu itu.. lagi pula mereka sudah jauh dari sini." Sarah memeluk Kevin dengan manja.


"Aku punya satu rencana bagus sayang.."


Kevin menoleh dan menatap Sarah.


"Kau punya satu senjata lagi untuk bisa tetap aman dari semua tuduhan ini.."


"Senjata apa?" Tanya Kevin penasaran. Sarah langsung tersenyum penuh kelicikan.


"Bukankah Citra sangat menyayangimu Kev? buat dia ada di pihak kita maka aku yakin kamu pasti akan selamat dari semua kecurigaan! Citra akan membelamu nanti bahkan disaat semua orang menyudutkan mu"


Kevin terdiam sesaat. Sarah benar, Citra memang salah satu hal yang paling berharga bagi keluarga Wijaya. Apapun akan mereka lakukan untuk kebahagiaan Citra. Terutama Ansel, dia sangat menyayangi adiknya itu.


"Kamu benar sayang! pintar sekali memang pacarku ini.." Seketika wajahnya berubah menjadi sedikit lega. Di dekatinya Sarah dengan penuh hawa nafsu. Tiba-tiba saja dia ingin bercinta dengan Sarah.


Di pagutnya bibir Sarah dengan bernafsu. Sarah membalas pagutan itu dengan membuka mulutnya agar lidah mereka bisa dengan bebas bertemu.


"Aku mencintaimu Kev.." Ucap Sarah disela-sela nafasnya yang mulai terdengar ngos-ngosan.


Kevin langsung menurunkan wajahnya ke bawah leher Sarah, disusurinya setiap jenjang tubuh gadis itu. Rasanya dia ingin melepaskan semua stresnya akhir-akhir ini karna terlalu banyak masalah yang datang kemarin.


Kevin langsung membuka kemeja dan celananya begitu pula dengan Sarah. Wanita itu kini sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel di badannya.


Setelah puas bermain disana Kevin langsung mendekatkan miliknya ke milik Sarah, mereka saling berpandangan sesaat lalu tak lama Sarah merasakan sesuatu tengah membelah dirinya dengan paksa. Sarah mencengkram lengan Kevin dengan kuat.


"Ah, sayang, sakit.." Ucap sarah setengah berteriak. Namun Kevin malah sengaja mempercepat irama pergerakannya sehingga membuat Sarah seperti berada di atas awan.


Sesekali Kevin memagut bibir Sarah dengan nafas yang mulai memburu. Hampir setengah jam mereka berdua bergulat bersama dalam ranjang yang sudah mulai terlihat tak karuan.


Kini Sarah telah berpindah posisi diatas Kevin, Kevin mencengkram pinggang Sarah dengan kuat. Dia merasakan sepertinya dia akan sampai di puncak permainan.


Kevin langsung membanting tubuh Sarah dan merekapun segera berpindah posisi kembali, Kini Kevin merasa lebih leluasa untuk melakukan irama itu saat dia berada di posisi atas. Dengan sekali hentakan kuat Kevin berteriak ditelinga Sarah saat dia merasakan kalau benihnya kini telah menyembur di dalam mahkota Sarah.


"Ah, Sarah aku sudah sampai!" Ucap Kevin sambil membelai mesra kepala Sarah.


Merekapun akhirnya terkulai lemas di atas ranjang dengan posisi berpelukan.


***


Sementara itu dirumah sakit, Bella duduk ditemani oleh Sasya sambil memandang keluar jendela kamar.


"Sya, aku ingin melihat kondisi Pak Ansel.." Bella beralih menatap Sasya. Sasya berpikir sejenak lalu kemudian mengangguk pelan.


"Yaudah aku anterin kesana ya, tapi kamu harus janji, kamu gak boleh sampai kepikiran ya?"

__ADS_1


Bella mengangguk setuju.


"Yaudah tunggu disini, aku mau ambil kursi roda dulu ya.." Sasya pun langsung bergegas keluar ruangan. Tak lama dia sudah kembali dengan sebuah kursi roda ditangannya.


Sasya langsung membantu memapah tubuh Bella dan memindahkannya ke atas kursi roda.


Mereka pun segera keluar ruangan dan berjalan menuju lorong ruang ICU.


Sesampainya diruang ICU Bella melihat Zio sedang duduk didepan ruangan sambil menyenderkan kepalanya.


"Bella!" Zio kaget saat melihat Bella dan Sasya sudah ada di hadapannya.


"Kenapa kamu kesini?" Tanya Zio.


"Apa aku tidak boleh melihat Pak Ansel?" Tanya Bella sambil mencoba berdiri untuk melihat Ansel dari kaca ruangan.


"Bukan begitu Bella, aku hanya khawatir dengan keadaanmu.. " Zio langsung membantu Bella untuk berdiri sementara Sasya memegangi infusan Bella.


"Aku lebih khawatir pada keadaan Pak Ansel.." Bella perlahan mendekat ke arah kaca ICU. Bella tersentak ketika melihat tubuh didepannya yang sedang terbaring kaku dengan banyak alat medis menempel di sekujur tubuhnya.


Seketika air matanya meluruh jatuh, Bella tak mampu menahan tangisnya untuk tidak pecah.


"Aku ingin masuk kesana pak!" Bella memohon kepada Zio. Dia ingin sekali menghampiri Pak Ansel walau hanya beberapa saat saja.


"Baiklah Bella, aku akan meminta kepada dokter agar kau bisa masuk kedalam, tunggu disini sebentar.."


Zio pun segera pergi dan beberapa saat kemudian dia kembali bersama dengan seorang suster yang terlihat membawa sebuah baju berwarna hijau.


"Bella, kau boleh masuk, tapi kau harus memakai alat APD dulu ya.."


Bella langsung mengangguk cepat. Susterpun membantu Bella memakai masker dan baju untuk bisa mauk ke dalam ruang ICU.


Suster langsung mengantarkan Bella masuk kedalam sana. Bella kini sudah ada disamping ranjang Pak Ansel.


Air mata Bella terus mengalir tanpa henti, di sekujur tubuh Pak Ansel terlihat banyak bekas luka terutama di dadanya. Bella ingat betul Pak Ansel sudah tertembak dibagian itu.


Perlahan Bella meraih tangan Pak Ansel dan menggenggamnya.


"Pak.. maafkan aku, gara-gara menyelamatkanku bapak jadi begini.." Bella terisak dengan suara tertahan.


"kumohon bukalah matamu.. aku.. aku.." Bella menahan kata-katanya.


"Aku tidak ingin kehilanganmu pak.." Bella tertunduk sambil menangis tersedu-sedu.


Namun tangis Bella terhenti ketika dia merasakan jari jemari Pak Ansel bergerak didalam genggaman tangannya. Bella mendongak kaget dan memastikan apakah yang dirasakannya itu benar.


Ternyata memang Ansel sedang mencoba menggerakkan tangannya. Susterpun ikut kaget melihatnya, dia segera pergi keluar untuk memanggil Dokter.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2