SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Perhatian kecil Ansel


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 11.00 wib di Kampus Brawijaya


Bella mencoba memusatkan pikirannya pada penjelasan Dosen didepan kelasnya. Namun sesekali pikirannya terbang memikirkan perkataan dari Pak Hamis tadi pagi. Kevin akan menjadi atasan ditempatnya bekerja jelas bukanlah kabar baik. Si brengsek itu, melihat wajahnya dirumah saja sudah membuat Bella ingin muntah apalagi ditambah harus bertemu ditempat kerja juga.


Diketuk-ketuk keningnya sendiri karna pikirannya terlalu pusing memikirkan nasibnya yang sangat apes akhir-akhir ini.


Mata pelajaran pertama telah usai, Bella, Inyong dan Sasya memutuskan untuk makan dulu di kantin sambil menunggu jam pelajaran berikutnya, sementara Sarah tidak ikut bersama mereka dia beralasan akan pulang karna ada urusan penting.


"Eh, Sya. Sebenernya lo pergi kemana waktu kemaren gak masuk kuliah, orang tua lo sampe nelponin kita berkali-kali, lo lagi gak ributkan sama mereka?" Bella menagih penjelasan Sasya karna tempo hari Sasya tidak masuk kuliah.


Inyong yang baru selesai memesan siomay pun langsung mengangguk dan ikut bertanya dengan tatapannya.


Sasya diam sejenak, dia ingin menceritakan ini dari kemarin tapi hatinya belum siap.


"Kenapa Sya? kok diem?"


"Sebenernya waktu malem itu gue.. gue minum alkohol.."


"Apa?" Kontan Bella dan Inyong sama-sama ternganga. Mereka tahu betul jika Sasya itu paling gak bisa minum begituan. Jangankan minum alkohol, minum soda kebanyakan aja dia bisa teler.


Walaupun Sasya dari kalangan orang berada tapi gadis itu terlalu polos bahkan gampang di bodohi, makanya sampai sekarang doi jomblo, Sasya trauma karna dulu dia pernah sekali dibohongi oleh mantan pacarnya.


Karna kepolosan gadis itu, Sasya dijadikan atm berjalan oleh sang mantan padahal Sasya mencintai mantannya itu dengan setulus hatinya.


"Kok bisa? jangan-jangan pak Zio yang udah ngasih lo minuman ya? waktu itu terakhir lo sama dia kan?" Tanya Bella sambil menyipitkan matanya.


"iya, emang benar gara-gara pak Zio, tapi bukan dia yang maksa gue minum, gue sendiri yang nekat waktu itu.."


"Nekat? maksud lo?" Inyong tak mengerti.


"Iya, gue yang udah maksa buat ngerebut botol Vodka dari tangan pak Zio.." Sasya sendiri takjub pada dirinya saat itu. Nekat juga gue!


"Vodka? Ck! buat apa sih Sya?"Bella berdecak heran. Karna setahu dia Vodka itu kadar alkoholnya lumayan tinggi.


"Ya karna gue sebel sama itu cowok! gue ngerasa dia nantangin gue buat minum, masa dia sejajarin minumannya sama soda gue!"


"Emang kalau orang nyejajarin minuman kaya gitu artinya dia nantangin gitu? emang lo denger langsung dari mulut dia kalau dia mau nantangin lo?"


"Engga sih!"


Sasya menyeringai paksa. Dia tahu malam itu memang murni kesalahannya. Karna terlalu gengsi dia malah membahayakan dirinya sendiri dengan nekat meminum sesuatu yang sama sekali tidak bersahabat dengan tubuhnya. Akibatnya waktu itu dirinya mabuk parah, untungnya saja ada Pak Zio.


"Terus lo mabok pastikan abis itu?" Inyong mulai menyelidiki.


"Iya.." Jawab Sasya singkat

__ADS_1


"Terus lo kemana abis itu?" Tanya inyong lagi tak sabar mendengar penjelasan Sasya.


Sasya mengibaskan tangannya menyuruh Bella dan Inyong mendekatkan mukanya untuk membisikkan sesuatu.


"Gue dibawa ke apartemennya pak Zio!" Bisik Sasya dengan intonasi sekecil mungkin agar tak ada yang bisa mendengar perkataanya.


"What?"


Bella dan Inyong kontan kaget dan berteriak berbarengan. Sasya langsung buru-buru menutup mulut kedua temannya sebelum semua menoleh ke arah mereka.


"St! jangan berisik ah kalian mah!"


"Sya, coba lo jelasin sejelas-jelasnya oke?" Bella dan Inyong kini menatapnya lebih serius.


"Gue dibawa ke apartemen dia karna gue mabok parah terus.." Sasya ragu melanjutkan ucapannya.


"Terus apa?!" Tanya Inyong tak sabar.


"Terus ya gue nginep disana, gak sengaja lo ya gak sengaja!"


"Ya iyalah lo gak sengaja, kalau lo sengaja itu namanya lo ada sesuatu sama Pak Zio!"


"Hah sama dia? ih ogah!" Sasya memasang wajah malas. Enak aja siapa juga yang mau punya hubungan dengan cowok yang suka tebar pesona ke semua cewek kaya Zio!


"Tapi lo gak di apa-apainkan sama dia?"


Bella dan Inyong langsung menghembuskan nafas lega mendengar jawaban Sasya.


"Tapi ngomong-ngomong dia ganteng ya.. Kenapa waktu itu Inyonghaseyong balik ya, harusnya Inyonghaseyong ikut mabok juga tuh, kan seru iyakan?" Ucap Inyong mulai ngaco.


"Kalau lo ikut mabok, Pak Zio kayaknya gak bakal bawa lo ke apartemen deh!" Goda Sasya yang gemas melihat wajah terkagum-kagumnya Inyong.


Walaupun jauh didalam lubuk hatinya Sasya mengiyakan ucapan inyong barusan. Pria itu memang sangat tampan tapi sayangnya dia playboy. Dan Sasya langsung mencoret Zio dari list lelaki idamannya. Ganteng kalau playboy buat apa? Makan ati yang ada!


"Terus Inyong dibawa kemana?"Tanya Inyong serius


"Ke penangkaran hewan laut!"


Inyong melotot mendengar candaan Sasya.


"Emangnya lu pikir Inyonghaseyong ini dugong!" Tukasnya memasang wajah masam. Mulutnya langsung bergerak maju beberapa senti ke depan. Inyong ngambek.


"Yaelah nyong gitu aja ngambek! becanda nyong becanda, ya udah maaf ya, gini deh lo makan deh tuh siomay sepuas lo!"


"Hah lo mau neraktir Inyong nih? serius?"

__ADS_1


"Ya enggaklah bayar sendiri, enak aja! orang gue cuman nyuruh makan sepuasnya doang.."


Sasya melirik gemas melihat ekspresi Inyong yang kesal kepadanya.


Inyong melipat kedua tangannya di dadanya. Bibirnya maju kembali beberapa senti, Inyong cemberut berat.


Bella menggeleng heran melihat Sasya yang hobi sekali menggoda Inyong.


"Dah lah Sya, ntar yang ada tuh anak ngambek beneran lagi!"


Sasya berhenti terkekeh lalu kemudian dirangkulnya Inyong dan Bella.


"Beneran ini mah serius. Gue yang traktir deh oke pesen sepuasnya!"


"Yeay!" Bella dan Inyong langsung bersorak girang.


Waktu menunjukkan pukul 14.00 wib.


Bella ,Sasya dan juga Inyong berjalan memasuki laboratorium, mata pelajaran kedua hari ini adalah mata pelajaran kimia. Bella sebenarnya malas masuk kelas itu kalau bukan karna mengejar nilai IPK, dia ogah harus berhadapan dengan suaminya sendiri yang menjadi Dosennya.


Masalahnya tuh orang pasti akan cari gara-gara atau cari-cari kesalahan Bella terus. Emang hobinya gitu selalu bikin Bella dalam masalah. Sehari aja tuh cowok gak ngeganggu dia kayanya hidup dia gak lengkap gitu.


"Cie elah laki lo ganteng banget sih Bell pake jas putih gitu. Mirip cowok-cowok di drakor tau gak! Kesannya cool gitu! beruntung banget lo Bell bisa jadi istrinya."


Bisik Inyong pelan sambil melirik Dosennya yang baru saja datang ke ruangan.


Haha! Bella tertawa miris. Gak tau aja si Inyong monster seperti apa laki-laki itu aslinya!


"Perhatikan penjelasan saya, dan mari kita mulai percobaan kimianya, pakai sarung tangan kalian, jangan sampai ada yang terluka!" Ucap Pak Ansel sambil memulai menerangkan dan mempraktekan percobaan kimianya di depan Kelas.


Seluruh mahasiswa langsung bergerak dan mulai menirukan apa yang diterangkan oleh Dosennya tadi.


Bella memperhatikan dengan seksama suhu cairan berwarna biru yang tengah dipanaskan di dalam erlenmeyer. Bella memegang ujung atas tempat pemanas cairan kimia itu.


Bella melihat ke papan di depan kelasnya dan hendak mencatat perubahan yang terjadi pada Cairan kimia yang sudah dia panaskan itu. Bella melepas sarung tangannya dan mulai sibuk dengan buku ditangannya. Sementara Ansel berkeliling ruangan melihat satu-persatu percobaan kimia yang dilakukan para mahasiswanya sudah sesuai standar atau belum.


Bella hendak melihat Volume didalam labu erlenmeyernya. Namun sayangnya dia lupa untuk kembali memakai sarung tangannya sehingga tangan Bella tekena panas kaca dari gelas labu itu. Bella terpekik Nyeri, telapak tangannya langsung berubah merah.


"Ah!" Bella setengah menjerit.


Ansel menoleh kaget ke arah sang suara. Matanya menyipit tajam. Buru-buru dihampirinya gadis itu. Ansel langsung menarik tangan Bella dan memeriksanya. Tangan Bella terasa panas, Bella gemetar dan meringis kesakitan. Ansel langsung menarik Bella ke arah kran air.


Di bukanya kran air dan dibiarkannya tangan Bella berada dibawa air yang mengalir. Beberapa menit lamanya. Setelah itu ditiup-tiupnya telapak tangan Bella. Jelas saja semua orang yang berada dalam ruangan langsung terkesima takjub.


Seumur-umur mereka kuliah disana baru kali ini melihat dosen killer nya ini perhatian pada mahasiswinya.

__ADS_1


"Ayo ke ruang kesehatan sekarang!" Ansel menggenggam pergelangan tangan Bella dan membawanya menuju ruang kesehatan.


bersambung..


__ADS_2