SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Rasa yang tak di sadari hadir


__ADS_3

Inyong melongo kaget saat melihat penampakkan pria tampan yang baru saja dibicarakannya tadi kini sudah tersaji tepat disebelahnya. Pria itu punya hidung yang sangat mancung dan kulit sekitar rahang yang ditumbuhi berewok yang tak beraturan membuatnya terkesan sangat macho dan gagah.


Inyong sampai tak bisa berhenti menatapnya. Sementara Sasya dan Bella saling berpandangan geli melihat tingkah Inyong.


"Awas gawat nih kayaknya ada yang kesetrum!" Ucap Bella sambil melemparkan padangan ke Inyong.


"Hah kesetrum apa?"Tanya Alaska tak mengerti.


"Kesetrum getar-getar asmara, ya kan nyong?" Sasya mentoel lengan Inyong.


Inyong baru ngeh saat Alaskan langsung menoleh kepada Inyong sambil mengibas ngibaskan tangannya karna melihat gadis tambun itu terus saja terpaku disampingnya. Menatapnya tanpa berkedip dengan mulut terbuka lebar.


"Hai nyong, kok ngelamun sih?" Alaska menatap Inyong heran.


"Hmm.. gak apa-apa kok tadi kaget aja ngeliat yang bening!"


Inyong kembali memindahkan sesendok batagor ke mulutnya. Kali ini suapannya begitu anggun beda dengan tadi saat Alaska belum ada didekatnya, begitu brutal dan rakus.


Alaska menyeringai lebar mendengar ucapan Inyong.


"Jadi lo anak baru yang heboh dibicarain dari tadi?"


Bella menatap Alaska sambil menyeruput es jeruknya yang tinggal setengah.


"Dibicarain? dibicarain gimana?" Alaska mengerutkan kedua alisnya.


"Iya dari tadi ada yang heboh banget! katanya ada murid pindahan baru yang kece banget terus apa lagi ya Bell?" Sasya pura-pura mencoba mengingat ingat ucapan Inyong tadi.


"Ouh yang kata Inyong tadi? kalau gak salah katanya tuh anak ganteng.."


"Iya katanya ada murid baru tuh ganteng banget terus apa lagi geh Bella tadi Inyong bilang apa?" Muka Sasya terlihat sangat menyebalkan dimata Inyong. Dasar si Sasya bikin tengsin aja!


"Apaan sih lo!" Inyong langsung memotong ucapan Sasya karna merasa sangat malu.


Alaska malah tertawa mendengarnya.


"Biasa aja lagi. Gue gak ada niat buat bikin heboh kampus ini. Gue emang udah lama niat pindah kesini.." Alaska menatap Bella. Matanya seolah menyiratkan kebahagiaan bisa melihat dan akhirnya bisa satu kampus juga dengan gadis yang telah lama diidolakannya.


"Bell, boleh anterin gue ke ruangan rektor? gue belum terlalu hapal nih letak ruangan disini!" Pinta Alaska


"Ouh iya boleh aja sih, tapi.." Bella melirik Inyong yang langsung menoleh dan mengangguk mempersilahkan. Bella merasa tidak enak karna Inyong lah yang sedari tadi heboh membicarakan pria dihadapannya ini.

__ADS_1


"Udah sana anterin Bell!" Ucap Inyong.


"Yuadah gue nganter dia keruang rektor dulu ya, ntar gue balik lagi kesini."


Alaska langsung berdiri di ikuti oleh Bella disampingnya.


Sepanjang lorong kampus saat melewati setiap fakultas semua mata seolah tertuju pada mereka berdua. Bella tak menyangka jika Alaska cukup terkenal untuk ukuran anak baru di kampusnya.


Beberapa kali para senior dan juga teman-teman sejawat Bella memanggilnya dengan akrab. Sepertinya Alaska memang punya banyak teman disini. Bella tak heran sih karna dari sikapnya yang sangat humble pasti tidak akan sulit baginya untuk menjalin hubungan pertemanan dengan yang lain.


"Lo ternyata ngetop juga ya disini?" Bella merasa heran karna belum juga sehari disni tapi banyak sekali yang menyapa Alaska dengan akrab.


"Ah, lo bisa aja Bell, engga kok gue gak sengetop itu! Buktinya elo gak kenalkan sama gue?" Alaska tertawa pelan.


"Yah iyalah gue mah gak bakal kenal, kan kita juga baru banget kenalnya!"


"Iya, yah. Coba kita udah kenal dari dulu Bell, sayang sekali ya baru bisa kenalan sekarang.." Ucap Alaska yang membuat Bella mengerutkan kedua alisnya.


"Maksud lo Al?" Tanya Bella tak mengerti.


"Gak! bukan apa-apa!"


Bella menoleh kaget begitupun dengan Alaska.


"Pak Ansel!" Bella tercekat seketika. Saat mendapati Pak Ansel sudah berdiri tegap dibelakangnya. Menatapnya dengan sorot mata tajam. sesaat Hening! tak ada yang bersuara diantara mereka bertiga. Bella menatap ngeri saat menyadari Ansel dan Alaska saling berpandangan satu sama lain.


Mereka seolah sedang saling serang dengan tatapan masing-masing. Ansel mengepalkan kelima jarinya begitu pula dengan Alaska.


Dia menurunkan pandangannya dan melihat dengan tatapan tidak suka saat pergelangan tangan Bella digenggam oleh pria dihadapannya.


"Sebenarnya bapak siapa? selalu saja menarik tangan Bella dengan paksa?" Alaska berdecak sambil menatap Ansel dengan wajah tidak suka.


Dua kali dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Dua kali juga pria dihadapannya ini selalu saja mengganggu kebersamaannya dengan Bella! Sebenarnya siapa pria ini? benar-benar Sialan! Pengganggu!


"Kau mahasiswa baru? apa kau mau ke ruang rektor? aku akan menyuruh stafku untuk mengantarkan mu kesana agar kau tidak tersesat!"


Alaska terperangah saat melihat Bella ditarik oleh Ansel masuk kedalam ruangan Dosennya. Dia hendak menyusul namun Bella menoleh dan mengisyaratkannya untuk tetap ditempatnya. Bella terlihat ketakutan. Akhirnya dia hanya bisa menatap dengan pasrah kepergian Bella.


Alaska langsung memukul dinding disebelahnya dengan keras.


"SIALAN!"

__ADS_1


KLEK


Ansel mengunci pintu ruangan Dosennya dan langsung menatap Bella dengan tajam.


"Siapa dia Bella? kau kenal dia? bukankah dia yang waktu itu hendak mengantarkan mu pulang kerumah?" Ansel setengah berteriak karna merasa ada perasaan sesak dan tidak suka ketika melihat Bella berjalan dan tertawa bersama dengan pria lain.


Ansel tidak mengerti perasaan itu. Yang Ansel tau dia benar-benar ingin marah sekarang.


Bella tampak pias dan ketakutan. Bella mundur ke pojok dan memeluk tali tasnya kuat-kuat.


Ansel menatap tangan Bella yang terlihat bergetar. Seketika dia meluruh dan menyadari bahwa dia baru saja membentak Bella tanpa alasan yang jelas.


Memangnya kenapa jika gadis itu berjalan dengan laki-laki lain? apa urusannya dengan dia? Bukankah dia tidak pernah menyukai Bella? lalu perasaan macam apa ini? dadanya terasa panas dan bergejolak saat melihat gadis ini tertawa riang disamping pria lain.


Ansel melangkah mendekati Bella, namun Bella terus mundur dan akhirnya menabrak rak kaca dibelakangnya dengan keras sampai-sampai tumpukan box file yang terletak diatas lamari itu hendak jatuh dan menimpa kepalanya.


Ansel mendongak dan buru-buru melindungi Bella dengan tubuhnya sendiri saat menyadari gadis itu dalam bahaya. Ansel mendekap tubuh Bella dan menenggelamkan kepala Bella di dadanya agar gadis itu terlindungi sepenuhnya. Jantung Bella lagi lagi berdegup cepat saat mencium wangi parfum maskulin milik suaminya itu.


BRUGH !!!


Terdengar beberapa kali benturan yang cukup keras antara punggung Ansel dan box file yang mulai berjatuhan dengan cepat ke lantai. Kertas-kertas yang berada didalam box file pun ikut tercecer berserakan di atas lantai. Bella terperangah dan refleks memeluk Ansel dengan erat.


Setelah yakin tak ada lagi box file yang akan jatuh, Ansel melepaskan pelukannya.


"Kau tidak terluka Bella?" Ansel menatap Bella dengan cemas.


Bella menggeleng cepat sambil menatap mata Ansel dengan khawatir.


"Harusnya saya yang bertanya begitu!" Bella menyadari kalau tadi laki-laki itu baru saja melindunginya dari bahaya.


"Saya mau lihat punggung bapak pasti terluka!" Bella tampak panik dan hendak membuka punggung baju Pak Ansel. Namun laki-laki mencegahnya.


"Bella, aku tidak apa-apa! kau tidak usah khawatir. Kembalilah ke kelas mu.." Ansel menangkap kepanikan di wajah Bella. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan ketika dia sedang panik.


"Tidak! aku akan mengobati bapak dulu baru aku pergi!"


Bella memaksa untuk membuka punggung baju Ansel namun laki-laki itu menghentikannya dan segera menangkap kedua tangan Bella dengan mudah.


"Bella, dengarkan aku! pergilah sekarang! Atau aku tidak akan tahan melihatmu.." Ansel mendekatkan wajahnya. Rasanya dia ingin sekali mencium gadis itu. Namun ditahannya kuat-kuat karna dia sadar saat ini dia sedang berada di area kampus.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2