
Sasya merasa seolah waktu berhenti saat itu juga. Dia tak menyangka jika seorang pria dewasa yang selama ini dianggapnya playboy akan mengatakan perasaannya.
Sekujur tubuh Sasya membeku.
"Pak.. jangan becanda ya! gak lucu sama sekali!" Ucap Sasya tiba-tiba masih dengan nada yang terdengar kesal. Dia langsung memundurkan tubuhnya hingga menempel diujung kaca mobil.
Zio menatapnya lekat-lekat. Kini wajahnya terlihat benar benar serius.
"Apa wajahku sedang terlihat bercanda Sya?" Dengus Zio dengan suara berat.
Apa Sasya tak bisa melihat kesungguhan dari ucapannya ini? padahal dia sudah mati matian menahan kegugupan yang luar biasa menyelimutinya saat ini.
Sasya menelan ludah berat. Sepertinya pria ini memang serius dengan kata kata yang diucapkannya.
"Aku.. menyukaimu Sya. Aku tidak bisa berbohong lagi soal perasaanku padamu."
Sasya tak bisa berkutik. Lagi, sekali lagi Zio mengatakan perasaannya. Sungguh kali ini barulah Sasya sadar jika Zio memang tidak sedang becanda.
"Aku tau bapak mengatakan ini pada semua wanita yang bapak temui!" Tandas Sasya mencoba memalingkan wajahnya. Sejujurnya bukan kalimat itu yang ingin dia keluarkan dari mulutnya.
Zio menarik nafas panjang. Lagi lagi berusaha menyabarkan hati. Ternyata tidak mudah membuat Sasya percaya pada ucapannya. Apa tampangnya memang seperti playboy taman lawang ya?
"Aku harus apa supaya kamu percaya Sya?" Tanya Zio yang mulai putus asa.
Sejujurnya Sasya juga merasakan perasaan yang sama pada pria dewasa dihadapannya ini. Tapi Sasya terlalu gengsi untuk mengakuinya terlebih dia juga masih belum yakin jika Zio ini tidak sedang mempermainkannya.
Sasya memutar bola matanya. Karna tidak sabar Zio pun langsung mengambil tindakan sendiri. Dia ingin menyingkirkan keraguan Sasya pada dirinya.
"Sya.. pegangan!" Seiring dengan ucapan itu Zio menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh membelah kemacetan ibu kota di malam hari.
Mobil Zio melenggak-lenggok tanpa aba aba. Sasya sampe syok dan memegangi sabuk pengamannya dengan erat.
"Bapak gila ya! bapak mau ngajak saya mati konyol?" Teriak Sasya sambil sesekali memejamkan kedua matanya karna merasa takut untuk melihat jalanan di depannya. Dia merasa dirinya seperti terbang karna Zio mengemudikan mobil benar-benar cepat seperti angin yang melesat.
Zio tak perduli bahkan dengan segala umpatan yang terlontar dari mulut Sasya, dia malah makin mempercepat laju kendaraannya. Dia ingin secepatnya membuktikan kepada Sasya jika dia bukanlah playboy seperti dugaannya.
CIIT
Mobil Zio berhenti tepat didepan sebuah Mall besar. Sasya menatap Zio heran.
"Ngapain kita kesini?"
__ADS_1
Zio tak menjawab, dia malah langsung membuka pintu mobil dan membawa Sasya masuk ke dalam.
Ternyata Zio menekan lift menuju kafe Flower yang letaknya ada dilantai paling atas.
Sasya semakin bingung namun dia tetap mengikuti langkah kaki Zio. Merekapun langsung menuju ke dalam kafe setelah pintu lift terbuka.
Zio menggenggam telapak tangan Sasya dengan erat. Matanya menyapu seisi ruangan. Dia melihat para wanita yang sering mengelilinginya sedang sibuk mengobrol di salah satu bangku.
"Ayo, kita buktikan ucapan saya serius atau tidak!" Zio menarik tubuh Sasya mendekati para wanita itu.
"Eh ada Zio? udah lama kamu gak kesini, sini duduk dong sama kita.." Salah satu wanita yang bernama eva bangkit dan menghampiri Zio dengan wajah yang sumringah.
Kebanyakan para wanita itu adalah para pengunjung setianya klub Flower. Mereka sangat mengenal betul Zio karna pria itu memang cukup populer disana. Zio menatap Sasya yang kini tengah menatapnya dengan wajah yang sangat bingung.
"Guys kenalin ini Sasya.." Zio merangkul bahu Sasya dengan erat. Sasya menelan ludah ketika menyadari suasana telah berubah seketika.
Para wanita itu kini menatap Sasya dengan wajah yang terlihat tidak ramah.
"Siapa dia Zio? kok pake dikenalin segala ke kita? kayaknya masih anak kuliahan, adek sepupu lo Zio?" Meri si gadis blasteran indo amerika itu menatap Sasya dengan tatapan sinis.
"Bukan, dia ini cewek yang gue sayang!"
Sasya tak menyangka jika Zio akan nekat mengatakan perasaannya di depan semua orang terutama para wanita yang selama ini dia anggap sebagai gadis gadisnya Zio.
"Oke, guys. Silahkan lanjutkan party nya, gue cabut dulu ya." Dengan kegilaannya Zio meninggalkan para wanita itu begitu saja. Wajah mereka kini pasti sudah diliputi kemarahan yang luar biasa.
Zio yang selama ini dikenal tidak bisa menetap pada satu hati mendadak membawa satu gadis kehadapan mereka dan lebih mencengangkannya dia menyatakan kalau dia menyukai gadis itu.
Zio menarik kembali Sasya dan memasukkannya ke dalam mobil. Sasya masih tidak bisa mencerna keadaan, dia terlalu syok.
"Sekarang apakah kamu sudah percaya Sya pada perasaan saya?" Zio menatap Sasya lurus. Sasya mati kutu! kini tak ada lagi alasan yang bisa dia lontarkan untuk tak percaya pada Zio.
Sasya menggigit bibir bawahnya, dia benar benar gugup, haruskah dia mengakui jika dia juga menyukai Zio. Tapi gengsi dong kan tadi habis ngata-ngatain dia!
Zio tak tahan melihat Sasya menggigit bibirnya, kegiatan itu benar benar membuatnya terangsang untuk menyentuh bibir gadis itu.
Zio tak sabar lagi, akhirnya dia memegang pipi Sasya, nafas gadis itu terlihat naik turun.
"Jangan gugup Sya, aku tidak akan menyentuh bibirmu lagi jika kau tidak mengijinkannya."
Sasya memberanikan diri menatap mata Zio. Laki laki itu terlihat tulus.
__ADS_1
"Aku.. aku.." Sasya terbata bata.
Ada rasa yang sedang bergejolak di dalam dadanya. Rasanya dia ingin sekali mengatakan jika dia malah ingin sekali Zio menyentuhnya saat ini.
Zio melihat Sasya lagi lagi menggigit bibir bawahnya, Zio tak tahan lagi, akhirnya dia memajukan wajahnya ke hadapan wajah Sasya.
Disentuhnya bibir Sasya menggunakan ibu jarinya dengan lembut. Sasya menutup matanya. Dia seolah memberikan isyarat pada Zio bahwa dia siap menerima apa yang akan dilakukan Zio selanjutnya.
Zio menyentuh bibirnya perlahan, mengeksplore ke dalam mulut Sasya. Dia bermain dengan lidah gadis itu dengan sangat hati-hati. Sasya terengah-engah. Ini ciuman keduanya dan dia baru kali ini merasakan sensasi yang aneh pada tubuhnya.
Tanpa sadar Sasya mencengkram sabuk pengamannya.
"Bukalah matamu Sya.." Ucap Zio lembut saat dia melepaskan bibirnya sesaat dari bibir ranum milik Sasya.
Sasya menurut, dia membuka matanya dan menatap Zio dengan wajah yang sudah mirip kepiting rebus.
Sasya terlihat semakin cantik saat sedang tersimpul malu seperti ini. Zio kembali memagut bibirnya dan kali ini mereka saling berpandangan.
Zio merasa gairah ke lelakiannya sudah mulai bangun. Zio buru buru melepaskan ciuman itu, dia tak ingin dirinya kebablasan meskipun hati kecilnya sangat menginginkan lebih.
"Maafkan aku Sya.."
Sasya hanya menggeleng pelan. Pak Zio tak salah karna dia juga menikmati ciuman itu.
"Jadi, kita jadian nih?" Tanya Zio kemudian.
Sasya memalingkan wajahnya karna merasa sangat malu.
"Iya." jawab Sasya singkat.
"Apa? aku gak denger Sya!"
"Iyaaaa!" Ucap Sasya lagi. Dia benar benar malu sampai ke ubun-ubun.
"Apa kau juga memiliki perasaan itu kepadaku Sya? aku tidak ingin kau menerimaku hanya karna merasa kasihan." Zio menarik bahu Sasya agar gadis itu mau menatapnya.
"Tidak, aku.. aku juga menyukai bapak." Ucapnya terbata.
Zio lega sekali mendengarnya. Di peluknya Sasya dan di elus nya dengan lembut pucuk kepala gadis itu. Sasya mengulurkan tangannya dan menyambut pelukan itu dengan senyum yang tersirat bahagia.
bersambung
__ADS_1