
Hai sebelum lanjut ke ceritanya jangan lupa vote dan follow author ya biar aku semangat rajin update setiap hari ^^
Sarah dan Kevin benar-benar sudah dimabuk kepayang. Tak dipedulikannya tempat dan kondisi di dalam klub yang sangat ramai saat itu.
"Sayang, aku sangat merindukanmu." Kevin membelai rambut Sarah dengan mesra.
Saat Kevin hendak mendekatkan wajahnya ke wajah Sarah tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.
Tok Tok Tok
Kevin dan Sarah langsung menoleh berbarengan ke arah pintu.
"Siapa?" Teriak Kevin.
"Saya Tari pak, saya mau menyerahkan laporan bulanan, boleh saya masuk?" Tanya Tari salah seorang pegawai di Klub Flower, diluar ruangan dia sudah berdiri dengan membawa map berwarna biru ditangannya.
"Kamu simpen dulu berkasnya, nanti biar saya ambil kebawah!" Kevin melangkah mendekati pintu.
"Baik pak.." Jawab Tari sambil berbalik dan bergegas pergi.
Kevin menunggu beberapa saat, saat dia sudah yakin jika Tari telah turun ke bawah Kevin langsung membuka kunci pintu dan mengintip dibalik celah pintu yang dibiarkannya sedikit terbuka.
Hening, sepi tak ada siapapun didepan ruangannya. Kevin tersenyum, dia menghela nafas lega. Dia kembali mengunci pintu dan menoleh ke arah sarah yang terlihat sangat panik dan gelisah.
"Gimana?" Tanya Sarah sambil mendekat ke arah Kevin.
"Udah aman, kamu tenang aja!" Kevin langsung memeluk tubuh sarah dari belakang dan mencium tengkuk leher gadis itu. Namun kali ini Sarah langsung menghindari sentuhan Kevin. Gadis itu berbalik dan menatapnya lurus-lurus.
"Sayang, aku harus keluar sekarang, aku takut ketahuan, lagi pula nanti takutnya Sasya dan Inyong akan curiga kalau aku terlalu lama disini!"
Kevin terpaksa menahan keinginannya untuk mendapatkan kehangatan dari Sarah. Sarah memang benar, terlalu beresiko jika sampai ada yang curiga pada mereka jika terlalu lama berada di dalam ruangan.
Kevin pun menyuruh Sarah untuk turun duluan.
"Aku bakal main kerumah besok malam.." Kevin memeluk Sarah sebelum gadis itu pergi.
"Janji?" Tanya Sarah.
"Iya tentu sayang, tunggu aku besok dirumah ya." Ucap Kevin genit sambil mencubit hidung Sarah. Sarah tersenyum bahagia mendengarnya.
Kevin mencium kening Sarah dengan lembut. Sarah mengangguk lalu kemudian pergi meninggalkan ruangan Kevin untuk bergegas bergabung bersama teman-temannya lagi.
Sarah keluar dari ruangan pegawai, ternyata Bella telah bergabung di mejanya tadi.
"Eh, Sarah. Gue pikir lo gak jadi dateng.." Bella terkejut melihat kedatangan Sarah.
"Gue dateng kok Bell,gue tadi abis ngambil buku catatan gue dulu di Kevin.." Sarah berusaha sekuat mungkin menyembunyikan kegugupannya.
Bella menautkan kedua alisnya.
"Kevin? lo abis ketemu sama dia?" Tanya Bella sambil menatap Sarah.
"Iya Bell, tadi tuh anak gabung disini, cuman sebentar doang langsung cabut! emang tuh anak gak ada malu banget, rasanya pengen gue bejek-bejek tau!" Sasya yang menjawab karna melihat Sarah yang diam saja.
"Ouh gitu, yaudah sini Sar duduk! ngapain berdiri terus disitu!" Ajak Bella sambil menarik lengan Sarah.
mereka bertiga pun larut dalam obrolan ringan ditengah-tengah suasana klub malam yang semakin malam semakin tambah meriah.
"Eh gaes lihat itu bukannya pak Zio sama.."
__ADS_1
Tiba-tiba inyong menunjuk meja yang tak jauh dari tempat mereka berkumpul, dia menyipitkan matanya untuk memastikan sosok yang sedang menemani Zio. Bella menoleh ke arah Inyong menunjuk dan mulutnya langsung ternganga.
"Pak Ansel!" Dengus Bella sambil menatap tak percaya. Ngapain dia disini? tumben amat.
"Sejak kapan mereka disini?" Tanya Sasya yang juga kaget melihat Zio dan Ansel, padahal mereka sudah sejak tadi duduk disana namun tak menyadari kehadiran dua orang itu.
Sarah pun ikut menoleh ke belakang. Mereka melihat Zio dan Pak Ansel sedang asyik mengobrol ditemani beberapa wanita yang mengelilingi Zio, sementara Ansel terlihat menjaga jarak dan duduk diujung bangku.
Zio yang menangkap moment bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh sekelompok cewek didepannya langsung melambai dengan tampang yang menurut penglihatan Sasya sangat menyebalkan! sok manis! sok ganteng banget!
Namun lain lagi kalau dimata Inyong senyumnya Zio itu teduh dan menghanyutkan. Pokoknya manis banget titik gak pake koma!
"Hai!" Zio melambai dan langsung dibalas lambaian juga oleh Inyong dengan semangat.
"Ya ampun itu cowok ganteng banget!" Inyong heboh sendiri.
"Meleleh Inyong liatnya!" Inyong benar-benar antusias sendiri melihat Zio seperti baru melihat idol korea saja.
"Biasa aja gak ganteng-ganteng amat, lo liat noh nyong cewek-cewek disebelahnya itu, ih lo mau apa sama kaya mereka dikasih harapan palsu sama Pak Zio!" Dengus Sasya ketus.
"Yee, kenapa lo yang sewot sih Sya! terserah Inyong dong mau naksir sama siapa, mau naksir pak Zio kek, mau naksir siapa kek yang penting Inyong gak naksir laki orang ya!" Seru Inyong yang merasa terganggu dengan protesnya Sasya.
Bella tertawa geli melihat reaksi Sasya dan Inyong. Sementara Sarah merasa sedikit terganggu dengan ucapan inyong barusan.
"Lagian lo norak banget. Dikampus juga banyak yang lebih bening dari pada dia!" Sasya protes karna merasa Inyong terlalu berlebihan.
"Bodo wee! dikampus mah beda lagi urusannya!" Tukas Inyong tak mau kalah.
Tak lama datang seorang laki-laki dihadapan meja Bella. Laki-laki terlihat seumuran dengan mereka. Wajahnya tampan dan sedikit brewokan, tubuhnya yang kekar membuat kaum hawa manapun akan dengan gampang memujinya.
"Maaf, boleh gue ikut gabung disini?" Tanya laki-laki itu sopan.
"Boleh dong boleh, duduk aja silahkan.."
Ucap Inyong sambil cengar cengir.
Sasya langsung menyikut lengan Inyong.
"Yang konsisten dong nyong! gampang banget pindah hatinya!" Ejek Sasya yang dibalas dengan peletan lidah oleh sohibnya itu.
"Namanya juga usaha Sya!" Sarah ikut terkekeh melihat kelakuan mereka.
Laki-laki itu langsung duduk di samping Bella. Bella pindah dan sedikit menjaga jarak agar tak terlalu dekat.
"Kenalin nama gue Alaska.." Alaska memperkenalkan dirinya dengan menatap semua perempuan dihadapannya satu persatu.
Sasya, Sarah, Inyong dan Bella saling bergantian menyebutkan nama mereka masing-masing. Ternyata Alaska adalah pelanggan setia di klub malam Flower. Dia sering memperhatikan Bella saat gadis itu sedang bermain DJ.
"Gue fans lo Bell.." Ucap Alaska to the point membuat semua wanita itu membulatkan matanya.
Bella langsung menoleh kaget mendengar perkataan Alaska. Gila nih cowok jujur banget!
"Lo udah punya pacar?"
Pertanyaan Alaska yang lagi-lagi tanpa basa basi itu membuat semua orang di meja itu ternganga. Bella hampir saja memuntahkan minuman yang hendak ditelannya.
Sasya, Inyong dan Sarah saling berpandangan. Mereka ingin membuka mulut namun bingung karna Bella sudah menyuruh mereka untuk tidak memberitahukan soal statusnya sebagai istri dari seorang Ansel Wijaya.
Jadi yang paling aman adalah membiarkan Bella sendiri yang menjawab pertanyaan dari Alaska itu.
__ADS_1
Bella membisu tidak tahu harus menjawab apa.
"Sorry ya sorry gue salah pertanyaan kayaknya ya? gak usah lo jawab Bell kalau lo gak mau jawab. No problem!" Alaska tertawa pelan saat menyadari tampang tegang dari semua orang dihadapannya.
"Gak apa-apa kok.." Bella berusaha nyengir kuda begitu juga dengan teman-temannya.
Lama-lama mereka semua larut dalam obrolan yang seru. Bella harus mengakui kalau Alaska ini sangat asyik dan cukup menyenangkan anaknya.
Saking asiknya mengobrol Bella sampai tak menyadari kalau sedari tadi ada sepasang mata menatap ke arahnya dengan tatapan yang tajam.
Jam menunjukkan pukul 00.30 dini hari.
Sarah, Inyong dan Sasya telah pulang lebih dulu dengan menggunakan taksi. Sementara Bella harus menunggu DJ katty sebentar sebelum pulang.
Tak lama DJ katty muncul dihadapannya.
"Kak, aku pulang duluan ya.." Ucap Bella sambil mengalungkan tas dipundaknya.
"Sip Bell, hati-hati ya!" DJ katty tersenyum lalu dia langsung naik ke atas panggung untuk melanjutkan pekerjaannya.
Bella langsung bergegas keluar Mall dan berdiri tak jauh dari gerbang utama pintu masuk Mall.
"Hei Bell!" tiba-tiba Alaska menepuk bahu Bella dari belakang.
Bella menoleh kaget dan hampir saja memukul Alaska dengan tasnya karna dia pikir Alaska adalah orang jahat.
"Alaska!" Bella melotot kaget.
"Sorry Bell gue ngagetin lo ya?"
"Iya, gue pikir lo babon!" Bella tiba-tiba ingat kawanan preman yang mengejarnya kemarin.
"Hah babon?" Alaska garuk-garuk kepala tak mengerti.
"iya, udah lupain aja!" Pinta Bella.
"Hmm, lo lagi nungguin siapa? gue anter aja ya? boleh?" Lagi lagi Alaska sangat berterus terang.
Bella menggeleng pelan.
"Gak usah ngerepotin. Lagian gue udah mesen taksi online kok bentar lagi juga nyampe."
"Udah yuk ikut gue aja ya!"
Alaska hendak memegang tangan Bella namun tiba-tiba dengan secepat kilat seseorang langsung menarik lengan Bella dan membawa tubuh Bella ke sisinya.
Bella menoleh kaget saat melihat seseorang itu ternyata Ansel suaminya. Ansel menatap mata Alaska tepat di manik matanya.
Alaska terdiam saat melihat tangan Bella tengah digenggam erat oleh pria dihadapannya. Dia tak berkata apa-apa tapi Ansel bisa membaca dengan jelas jika Alaska tidak suka dengan kehadirannya.
"Siapa pria ini Bella?" Tanya Alaska kemudian.
Bella menggigit bibir bawahnya. Dia bingung harus menjawab apa. Kalau dia jujur jelas Ansel akan marah karna laki-laki itu sendiri yang memintanya untuk merahasiakan hubungan mereka. Tapi kalau dia tidak jujur belum tentu juga Bella selamat. Bella jadi bingung sendiri.
"Dia ini milik saya!"
Ucap Ansel tegas tanpa ekspresi apapun.
Di tariknya lengan Bella menuju tempat parkiran meninggalkan Alaska yang kini tengah menatap kepergian mereka dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
bersambung..