SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Ketulusan Ansel


__ADS_3

Sebelum lanjut ke ceritanya jangan lupa vote dan sajennya ya 😁


Ansel menatap Bella tepat di manik matanya membuat gadis itu terpaku seperti patung.


Ini kali pertama Ansel menyentuhnya lagi setelah beberapa minggu ini terjadi terjadi salah paham hingga akhirnya membentangkan jarak diantara mereka.


"Bella.. aku mencintaimu dan juga bayi kita.." Ansel mencium perut Bella dengan lembut. Bella tersenyum sambil mengelus kepala Ansel yang kini tengah menempel di perutnya.


Betapa bahagianya Ansel bisa merasakan perasaan ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia akan menjadi seorang ayah.


Rasa bahagianya tidak bisa diungkapkan dengan kata kata.


Bella sedikit menyesal karna waktu itu tidak sempat memberitahu langsung kepada Ansel soal kehamilannya. Tapi yang lalu biarlah berlalu, yang terpenting kini mereka sudah kembali bersatu, Bella merasa hidupnya telah lengkap kembali.


Ansel mengelus pipi Bella dengan sangat lembut, di dekatkan wajahnya, Jantung Bella seakan berlomba dengan nafasnya, kini nafas mereka saling beradu menjadi satu.


Tangan kekar Ansel lalu turun perlahan ke bawah melingkar manis di pinggang Bella. Dia menekan pinggang Bella hingga gadis itu kini benar benar hanya terhalang baju saja dengannya.


"Bella.. apa kamu sudah memaafkan ku?" Tanya Ansel.


Bella menarik napas sejenak lalu kemudian mengangguk pelan.


"Iya.." Jawabnya singkat.


"Iya apa?"


"Iya, aku sudah memaafkan mu.."


Ansel tersenyum lalu merapat kan badannya dengan badan Bella, diangkatnya dagu Bella lalu kemudian dikecupnya dengan mesra kening gadis itu.



Mata mereka saling beradu pandang untuk sesaat. Kerinduan yang mendalam sudah sampai pada puncaknya. Bella bisa merasakan kehangatan di setiap sentuhan Ansel.


Ansel tak bisa lagi menahan dirinya, perlahan dise sap nya bibir ranum milik Bella dengan lembut sambil satu tangannya berada dibelakang kepala Bella.


Terjadi ci uman yang begitu panas sampai sampai Bella tak sadar sudah membuka mulutnya untuk dilahap habis oleh suaminya itu.


Ansel mengangkat tubuh Bella ke atas tubuh nya tanpa melepaskan tautan bibir nya yang masih menempel dengan bibir Bella.


Bella menahan nafasnya ketika Ansel perlahan menanggalkan dasternya.


"Pak.. ini diruang Tv!" Ucap Bella malu sambil melihat ke arah pintu masuk. Dia takut kalau ada yang mengintip mereka dari luar rumah.


Ansel malah tertawa mendengarnya.


"Bella, pintu dan jendela sudah terkunci rapatkan? kau tidak perlu khawatir, lagi pula kita disini hanya berdua saja, aku tidak bisa menunggu lagi Bella.." Ucap Ansel sambil kembali melahap bibir Bella dengan brutal.


"Tapi.." Bella hendak membuka mulutnya namun Ansel sudah lebih dulu membekapnya dengan sebuah ci uman panas.


Tak terasa Bella mendesah saat tangan Ansel mulai turun dan mengelus mahkotanya dengan lembut.


Ansel mengangkat tubuh Bella lagi, kali ini untuk menanggalkan celananya sendiri. Bella benar benar gugup sampai tak sadar menggigit bibir bawahnya sendiri.


Ansel hanya tersenyum lalu kembali meneruskan permainan mereka.

__ADS_1


Dibukanya kaitan braa milik Bella, kemudian ditariknya kunciran rambut Bella hingga rambut Bella yang panjang terurai dengan bebas ke bawah pundaknya.


Bella terlihat sangat cantik dimata Ansel.


Kepala Ansel perlahan mulai turun ke dada Bella. Bella tersentak ketika Ansel mulai menyesap lembut gundukan kembar miliknya.


Bella benar benar sudah mulai terpancing karna sentuhan Ansel membuatnya benar benar merasa seperti di awan.


Ansel memindahkan posisi Bella dan merebahkannya diatas sofa panjang. Tangannya mulai melu cuti daster yang masih dikenakan oleh Bella lalu perlahan dia mulai bergerilya disana.


Bella tanpa sadar mencengkram rambut Ansel ketika merasakan lidah Ansel mulai menerobos masuk ke dalam mahkota miliknya.


Ansel membuka kaki Bella untuk memulai permainan intinya. Nafas Bella sudah benar benar tere ngah. Ansel menggosok perlahan ujung senjata miliknya di bibir bawah Bella untuk membuat sensasi tak terlupakan.


Dan kemudian satu hentakan keras berhasil membuat Bella memejamkan mata menahan sakit sekaligus nikmat di bagian intinya.


"Argh."


Ansel mencium dan menggigit le her Bella sambil memajukan & mundurkan miliknya. Tubuh mulus Bella bergetar dibawah kukungan tubuh kekar suaminya.


Mata mereka saling beradu pandang, pergerakan Ansel semakin cepat diiringi pekikan Bella yang mulai semakin intens.


"Sakit.." Bella benar benar merasa seperti di koyak, Ansel dengan brutal tak memberikannya jeda untuk sekedar bernafas panjang.


Beberapa kali Ansel meng erang merasakan kenikmatan luar biasa karna Bella menjepit miliknya dengan erat dibawah sana.


Dik ecup nya kembali bibir manis Bella. Sekarang Bella telah menjadi candu untuknya.


Ansel memegang pinggang Bella dengan erat lalu mulai mempercepat ritme permainan.


Keduanya sama sama sedang di buai oleh rasa cinta yang begitu dalam. Sesekali Ansel mengelus kepala Bella dengan sangat lembut.


"Bella.. aku mencintaimu.." Ucapnya lagi di sela sela pergerakannya. Keringat sudah mulai membanjiri sekujur tubuh mereka.


Tanpa terasa setengah jam telah mereka lewati dengan pergulatan hebat di atas sofa, hingga akhirnya Ansel sudah mulai merasakan miliknya berdenyut hebat dan akhirnya dia melepaskan benih cinta kedalam rahim Bella.


"Bella sayang aku telah sampai..." Ansel meng erang panjang sambil memagut bibir Bella dengan sedikit mengigit nya. Bella merasakan semburan kehangatan yang membuatnya terpejam sambil memeluk erat tubuh Ansel yang kini ambruk disebelahnya.


Ansel kemudian bangkit lalu menggendong tubuh Bella yang masih po los untuk dipindahkan ke atas ranjang padahal nafasnya masih terdengar ngosng osan.


"Pak, kakimu bukankah masih sakit?" Tanya Bella dengan wajah cemas.


Ansel menggeleng sambil tersenyum.


"Tidak sayang, aku sudah sangat sembuh sekarang.."


Bella menggelengkan kepalanya, dia benar benar tak habis pikir padahal tadi jalannya saja masih pincang.


"Bapak pasti hanya pura pura, turunkan aku pak! aku bisa jalan sendiri.." Bella mencoba meronta namun Ansel malah memperketat pelukannya.


"Kau adalah obat paling mujarab Bella, aku sudah bilang aku telah sembuh sekarang."


Ansel meletakkan Bella dengan sangat hati hati ke atas ranjang, lalu dia menarik selimut dan membungkus tubuh mereka berdua.


Ansel berbaring di belakang tubuh Bella, dia mengelus perut Bella dan berbisik ditelinganya.

__ADS_1


"Kau tau Bella, rasanya seperti mimpi kau akan memberikanku seorang anak, aku sangat bahagia sampai sampai aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata kata, terima kasih sayang.."


Bella tersenyum sambil menggenggam tangan kekar Ansel yang kini telah melilit tubuhnya.



"Aku juga bahagia sekali pak karna kini didalam rahimku sedang tumbuh buah hati kita, aku berdoa semoga dia sehat selalu sampai nanti kita bertemu dengan dirinya, aku sangat tak sabar.." Suara Bella terdengar bergetar, dia benar benar merasa terharu sekali.


Akhirnya dia bisa membagi perasaan bahagianya itu dengan suaminya Ansel.


Ansel mencium bahu Bella dengan lembut.


"Anak kita pasti sangat bangga memiliki ibu hebat sepertimu Bella.."


"Pak.. bagaimana kondisi Citra?" Ketika membahas soal kehamilan Bella tiba tiba teringat adiknya yang baru keguguran itu.


Ansel diam sesaat sambil menarik napas panjang.


"Kurasa dia sudah baik baik saja sekarang karna pengaruh buruk dihidup nya sudah tidak ada.."


"Maksud bapak?" Bella menoleh dengan wajah bingung.


"Kevin sudah dijebloskan ke dalam penjara Bella.."


"HAH?" Bella tercengang, lalu kemudian teringat pada sahabatnya Sarah.


"Lalu bagaimana dengan Sarah?"


"Dia sedang hamil Bella, maka dari itu aku memutuskan untuk menjaminnya karna aku tidak ingin membuat bayinya ikut dihukum untuk menanggung dosa orang tuanya, itu tidak adil.."


Bella hampir saja menjerit kaget namun kata katanya tertahan didalam tenggorokannya.


"Sarah hamil?" Bella menggeleng tak percaya.


"Iya, dia hamil anaknya Kevin.."Suara Ansel terdengar lirih.


Bella merasa kasihan pada Sarah, sejahat apapun wanita itu tetap saja mereka pernah bersahabat baik, mengadu nasib berdua di ibu kota jakarta yang sangat kejam, kenangan saat di kontrakan, semua itu tak bisa Bella singkirkan begitu saja.


"Aku harap, Sarah segera memperbaiki dirinya untuk bayinya, aku ingin sekali dia bisa menemukan laki laki yang tepat untuk dirinya.."


Ansel hanya diam, meski sudah disakiti berkali kali ternyata Bella masih peduli pada kondisi Sarah, Ansel sangat kagum pada ketulusan hati istrinya itu.


"Bella.. besok kita ke dokter ya, kita cek kandungan kamu.."


Bella mengangguk pelan.


"Dengar, aku sangat mencintaimu Bella.." Bella berdecak heran, sudah berapa kali Ansel mengatakan itu malam ini. Apa suaminya ini sedang kesambet ya?


Ansel memperketat pelukannya lalu mencium kepala Bella.


"Ayo tidur, besok masih banyak pertarungan seperti ini, kau harus fit untuk melayaniku.."


"HAH?" Bella kaget mendengar ucapan Ansel.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2