SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Munculnya rasa itu


__ADS_3

Hai para readers sebelum lanjut ke ceritanya jangan lupa follow dan vote author dulu ya biar author semangat updatenya, terima kasih.


Setelah dari tempat makan Ansel langsung bergegas ke rumah sakit untuk menjemput pulang adiknya Citra.


Ansel terlihat sedang mengurusi beberapa administrasi. Setelah itu dia langsung menuju kamar dirawatnya Citra.


Klek


Pintu kamar terbuka. Ansel melihat Kevin sedang duduk disamping ranjang adiknya sambil memegangi dan mencium tangan Citra. Cih! Ansel berdecak emosi. Ingin sekali rasanya dia langsung mendaratkan satu pukulan keras diwajah si brengsek itu. Tapi Ansel menahannya karna dia tidak ingin membuat keributan dirumah sakit.


Ansel memutuskan untuk pura-pura tidak tahu soal hubungan antara Kevin dan Sarah. Meskipun dalam hatinya dia ingin sekali membongkar kebusukan pria itu. Dia ingin mendapatkan bukti terlebih dulu tentang perselingkuhan mereka berdua.


Karna Citra pasti tidak akan percaya jika dia mengatakan yang sebenarnya tanpa membawa bukti-bukti yang kongkrit. Ansel tahu betul Citra begitu mencintai Kevin. Dia juga tidak ingin membuat kehamilan Citra dalam bahaya karna memikirkan masalah ini. Jadi lebih baik untuk saat ini Ansel tidak mengatakannya lebih dulu.


"kakak.." Citra tersenyum melihat kedatangan Ansel.


"Bagaimana kondisimu Cit? apa sudah lebih baik?"


Citra mengangguk. Dia berusaha duduk dan Kevin dengan sigap membantu memegangi tangannya.


"Papah dan mamah pulang nanti malam Cit, mereka masih dalam perjalanan dari kanada."


"It's okey ka, aku ngerti kok! lagi pula ada kakak dan Kevin disini kan!" Ucapnya dengan sedih.


"Jangan sedih sayang, kan ada aku disini!" Kevin memeluk Citra dan mencium pipinya dengan mesra.


Ansel merasa jijik sekali dengan sikap Kevin yang munafik itu.


"Kak, kapan aku boleh pulang? aku udah gak betah disini. Aku pengen makan pizza kak!"


"Kau mau pizza Cit? baiklah kalau begitu nanti pulang dari sini kita beli Pizza ya?"


"Asik! thank you kak, oiya kak Bella kuliah ya?"


"Iya dia kuliah. Kakak mau keluar dulu ya manggil dokter untuk memeriksa kamu supaya kita bisa cepet pulang, oke?"


"Hmm iya kak." Cita mengangguk dengan wajah sumringah. Akhirnya dia akan pulang. Suasana dirumah sakit ini sangat membosankan baginya.


Setelah Dokter memeriksa dan keadaan Citra sudah dianggap stabil, Dokter pun memperbolehkan Citra pulang dengan catatan Citra harus banyak istirahat dan lebih hati-hati lagi dalam menjaga kandungannya.


Sesampainya dirumah, Citra langsung dibopong masuk kedalam kamarnya oleh Kevin untuk beristirahat disana.


Sementara Ansel duduk di balkon kamarnya atasnya sambil menyeruput segelas teh jahe kesukaannya.

__ADS_1


Matanya menerawang tajam menatap langit padahal tidak ada apa-apa disana.


Ansel terus memikirkan bagaimana caranya dia mengumpulkan bukti-bukti tentang perselingkuhan adik iparnya yang brengsek itu.


Ansel merogoh ponsel di dalam saku celananya dan menekan nomor Zio dengan cepat.


"Hallo men, kenapa?" Tanya Zio di sebrang telpon.


"Zi, gue butuh sedikit bantuan lo nih!" Jawab Ansel sambil tersenyum penuh makna.


Malamnya dikediaman rumah keluarga Wijaya, waktu menunjukkan pukul 19.35 wib.


Bella baru saja pulang karna tadi dia ada kelas sore dan mampir sebentar di kontrakan Sarah untuk mengambil barangnya yang tertinggal disana.


Bella masuk kedalam kamar, dia melihat kamarnya kosong, sepi. Tak ada Ansel disana. Syukurlah! Bella tersenyum lega.


Bella menaruh tasnya dimeja belajar. Diambilnya handuk dan dia segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Bella menaggalkan semua pakaian yang menempel di badan nya hingga kini tubuhnya telah polos sempurna. Bella menyalakan kran shower dan mulai menikmati rintik air yang mengalir dari atas kepalanya. Adem, seger! Rasa capek di badannya seketika hilang.


"Tidak sopan masuk tanpa permisi lebih dulu!"


"HAH?" Bella menoleh kaget. Dan mencoba membuka tirai bathup yang memang sedari tadi tertutup disampingnya .


Suaminya ternyata sedang berendam disana dengan dada telanjang dan mata menatap tajam ke arahnya.


Bella langsung dengan sigap menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. Sial! Ngapain dia disni! Bella melangkah cepat ke arah pintu kamar mandi untuk mengambil handuknya, tapi karna pergerakannya yang terlalu terbirit birit itu akibatnya kaki Bella terpleset karna lantai yang masih basah. Hampir saja dia jatuh ke belakang kalau Ansel tidak buru-buru menangkap tubuhnya dengan sigap.


Mata mereka saling bertatapan sesaat. Jantung Bella berdegup lebih kencang. Ansel mendekatkan bibirnya dan tak tahan untuk tidak mencium gadis didepannya.


Bella mencoba melepaskan dirinya namun akibat pemberontakannya itu mereka berdua malah jatuh ke lantai. Bella terduduk diatas pangkuan Ansel.


Nafas mereka saling bertemu satu sama lain. Bella langsung berdiri dan memegangi dadanya yang berirama sangat kencang. Bella buru-buru memakai handuknya dan hendak membuka gagang kunci tapi Ansel malah menahannya.


"Pak! maaf saya benar-benar tidak tahu ada bapak disini! silahkan bapak mandi duluan saja! biar saya yang keluar!" Bella mencoba menyingkirkan tangan Ansel yang bertengger kuat di handle pintu.


Ansel tak menghiraukan ocehan Bella. Di peluknya Bella dari belakang. Wangi sabun yang menempel ditubuh pria tampan itu kini langsung menyatu dengan udara disekitar Bella.


"Kenapa kita tidak mandi bareng? bukankah kau tadi yang datang sendiri kesini saat saya tengah berendam di dalam bathup !" Bisik Ansel melingkarkan tangannya diperut Bella.


Ansel meraih kaitan handuk yang terikat diatas dada Bella dan melemparkannya ke bawah.


Bella menggeleng kuat.

__ADS_1


"Tidak, Bapak mau apa?"


Ansel tak menjawab. Ditatapnya mata Bella tepat di manik matanya.


Dibopongnya Bella dengan perlahan diturunkannya tubuh gadis itu ke dalam Bathup kamar mandinya yang cukup luas.


Busa-busa halus menyelimuti mereka berdua. Bella tak bisa mencerna keadaan karna kegugupannya. Saat menyadari Ansel kini sudah ada dihadapannya.


Pria itu mendekatkan wajahnya dan memagut bibir Bella dengan lembut. Bella sampai tersentak ketika dia menyadari bahwa sentuhan Ansel kali ini sangatlah berbeda dari biasanya.


"Lepas pak!"


Karna Bella yang tidak juga mau diam terpaksa Ansel mengukung tubuh Bella dibawahnya. Cipratan air disekitar mereka menjadi sakit bisu perlawanan itu.


"Buka mulutmu Bella.." Bisik Ansel.


Bella menggeleng sehingga Ansel harus sedikit menggigit bibir bawah Bella agar gadis itu mau membukakan jalan baginya untuk melahap seluruh isi mulutnya.


Ansel membuka kaki Bella walau gadis itu masih berusaha berontak kepadanya. Bella memukul mukul dada Ansel dengan sekuat tenaga walaupun itu tak akan berhasil sama sekali.


Pria itu terlalu kuat baginya pun dengan tatapan mata Ansel yang seolah olah telah menelan seluruh keberaniannya.


Ansel mencium leher Bella dengan kuat sampai meninggalkan jejak merah disana.


Ansel perlahan memasukkan senjatanya sampai Bella tersentak dan tanpa sadar mencengkram lengannya yang kekar.


"Ah! Sakit!" Bella memejamkan matanya, cipratan air mengiringi setiap hentakan yang diberikan oleh pria itu kepadanya.


Ansel meregang beberapa kali dan memeluk Bella dengan erat saat merasakan hangatnya tubuh gadis itu ditengah-tengah dinginnya air yang menggenangi mereka berdua.


"Pak, perih.." Bella sudah tak melakukan perlawanan. Hanya cengkraman tangannya yang mulai sedikit melunak saat beberapa kali menyadari Ansel memeluknya dengan sangat erat ketika dia merintih kesakitan, seolah laki-laki itu ingin membuatnya tetap merasa nyaman.


Ansel semakin kencang memompa pahanya sampai Bella merintih terus menerus.


"Ah, Bella!" Ansel memagut mulut Bella dan saat Bella merasakan milik Ansel mulai menyesakkan miliknya dia tahu bahwa laki-laki itu akan segera sampai pada puncaknya.


"Aarghhh!" Satu hentakan keras yang membuat milik Ansel menancap jauh ke dalam kehangatan dibawah sana. Ansel telah sukses mencapai klimaksnya. Ansel memeluk Bella dengan erat.


Bella meringis perih dalam pelukan Ansel. Nafas mereka yang tersengal menjadi saksi betapa brutalnya permainan kali ini.


Bella masih terduduk lesu didalam pelukan pria itu. Bella merasakan kehangatan dalam sentuhan Ansel kali ini walaupun pria itu tetap sama seperti kemarin, tak mengatakan apa-apa bahkan ucapannya selalu terkesan dingin dan memaksa.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2