SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Bella akhirnya luluh


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan jam 11 malam tepat.


Sudah sejam lebih Ansel belum juga kembali dari mencari kue serabi untuk Bella yang sedang ngidam. Bella menunggu di ruang tamu dengan wajah cemas.


"Kok belum balik aja sih!" Bella berdecak tak sabar sambil mengintip dibalik gorden namun sosok yang ditunggunya itu tak juga terlihat tanda tanda kemunculannya.


Bella pun langsung lari ke kamarnya untuk mengambil ponsel namun langkahnya terhenti ketika dia melihat ponsel Ansel tergeletak di atas meja ruang tv. Niatnya untuk menelpon suaminya itu pun urung.


"Mana bisa gue ngehubungin kalau ponselnya ditinggalin dirumah, duh Pak Ansel kemana sih? bikin khawatir aja! mana ini udah malem, diluar juga udah sepi banget.." Bella benar benar cemas sekarang.


Sekeras apapun dia berusaha menunjukkan jika dia tak peduli dengan Ansel namun itu hanya luarnya saja. Hatinya tentu saja kebalikannya.


Tok tok tok


Wajah Bella yang panik mendadak sumringah ketika mendengar pintu depan diketuk.


'Syukurlah, itu pasti Pak Ansel' Bella langsung ngibrit ke arah ruang tamu dan segera membuka kunci pintu dengan tergopoh gopoh.


Namun wajah bahagianya tadi mendadak kembali muram. Ternyata bukan Ansel melainkan Alaska yang kini tengah berdiri dihadapannya, memandangnya dengan wajah bingung.


"Al, ada apa?"


Tanya Bella.


Bella memajukan wajahnya dan celingukan untuk melihat ke arah luar, dia masih berharap Ansel kembali saat itu.


Alaska mengikuti arah pergerakan mata Bella.


"Lo nungguin Pak Ansel ya?"


"Iya, kok lu tau?"


Bella kali ini menatap Alaska dengan bingung.


"Bell sebenernya.."


Alaska seperti ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Di tatapnya Bella yang malah terlihat tak sabar menunggu dia bicara.


"Apa sih Al? kenapa?"


"Bell, tadi pas gue lagi diluar gue ngeliat ada orang kecelakaan di ujung jalan, ternyata.." Lagi lagi Alaska menggantung kalimatnya.


"Apaan sih! siapa yang kecelakaan!" Bella mulai terlihat jengkel dan semakin tak sabar.


Namun Alaska malah menunduk sambil memegang pundak Bella. Bella malah jadinya curiga dengan sikap Alaska yang menurutnya aneh.


"Siapa yang kecelakaan Al? jawab!"


Digoyangkan nya bahu Alaska kuat kuat. Dia mulai merasa tidak enak melihat raut wajah alaska yang seolah olah merasa iba kepadanya.


"Pak Ansel Bell, Pak Ansel kecelakaan, ada tabrakan antara motor dan mobil diujung jalan.." Suara Alaska terdengar seperti tersendat.


Bella tercengang, tubuhnya mendadak kaku, kakinya pun tiba tiba lemas, hampir saja dia jatuh kalau Alaska tidak segera menangkap tubuhnya dengan cepat.

__ADS_1


"Bell, tenangin diri dulu.. ayo duduk!" Alaska mencoba membantu Bella untuk masuk ke dalam ruang tamu namun Bella langsung menggeleng keras.


"Engga! gue harus nemuin Pak Ansel! Pak Ansel dimana sekarang? gue mau nyamperin dia!"


"Dia udah dibawa ke puskesmas tadi Bell, ini udah malem, besok aja kita kesana ya?" Bujuk Alaska, dia tak tega melihat kondisi Bella yang tengah hamil muda harus keluar rumah malam malam begini.


"Engga! gue gak bisa nunggu sampe besok! kelamaan! gue mau ketemu Pak Ansel sekarang!" Bella tetap bersikukuh. Akhirnya Alaska mengalah dan mau mengikuti keinginan gadis itu.


Saat Alaska hendak menjalankan jeep nya tiba tiba terlihat mobil ambulance yang mendekat ke arah mereka.


Bella menyipitkan matanya, seorang petugas puskesmas turun dari dalam mobil dan berlari ke arah belakang, dia terlihat membuka pintu penumpang.


Bella kaget melihat petugas itu tengah menurunkan seorang pria yang tak lain adalah suaminya Pak Ansel. Pak Ansel berjalan dengan sedikit pincang, kaki kanannya diperban dan banyak luka memar di sekujur tubuhnya.


Tanpa menunggu lagi Bella pun buru buru keluar dari jeep Alaska dan berlari ke arah Ansel.


Ansel menoleh kaget ketika Bella berlari ke arahnya dengan satu kaki telanjang karna sendalnya tertinggal didalam mobil jeep nya Alaska.


Bruugghh


Bella memeluk Ansel dengan sangat erat. Nafasnya naik turun. Perasaannya bercampur aduk, dia sangat senang karna syukurlah Ansel ternyata masih selamat namun sekaligus sedih melihat kondisi suaminya saat ini yang cukup parah.


"Bapak baik baik saja kan? kenapa bisa sampai kecelakaan? kenapa langsung pulang? kenapa tidak menginap dulu di puskesmas? kan bapak bisa.."


"Bella stop!" Ansel menutup bibir Bella dengan satu jari telunjuknya karna gadis itu terus nyerocos tanpa henti.


Bella terpaku, ujung matanya seperti hendak mengeluarkan butiran air mata, namun masih coba dia tahan sekuat tenaga.


"Bella, aku sudah tidak apa apa, kau tidak perlu khawatir. Ini hanya luka ringan, lagi pula aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di Villa dalam kondisi hamil muda, aku tidak akan tenang.." Ucap Ansel lembut sambil mengelus kepala Bella.


"Bella tenangkan dirimu.." Ansel membalas pelukan Bella dan mengelus punggungnya.


Alaska keluar dari jeep dan menghampiri mereka, sementara petugas ambulance pamit untuk pergi setelah Ansel mengucapkan terima kasih karna sudah mengantarnya sampai ke depan Villa.


Alaska menatap kedua sejoli dihadapannya sambil menggaruk garuk kepalanya. Dia merasa canggung takut mengganggu mereka.


Namun Ansel menghentikan langkahnya saat dia hendak berbalik.


"Al, terima kasih karna kau sudah membawaku ke puskesmas tadi.."


Alaska menoleh dan melihat Pak Ansel sedang tersenyum ke arahnya.


Alaska mengangguk sambil membalas senyuman itu dengan wajah yang kikuk.


"Jadi Al yang udah nolongin bapak?" Bella mendongakkan wajahnya menatap Pak Ansel.


"Iya Bell, tadi Al yang udah bawa saya ke puskesmas pake jeepnya, tadi pas jalan menikung karna kabut yang lumayan tebal saya gak ngeliat kalau ada mobil di depan, dan ya langsung terjadi kecelakaan, tapi untungnya saya masih bisa membanting stir ke arah berlawanan.."


"Lalu bagaimana dengan pemilik mobil itu?"


"Dia juga gak apa apa Bell, hanya sedikit memar dipelipisnya, ternyata yang mengemudi seorang bapak bapak yang sudah lansia, harusnya dia tidak menyetir di malam yang jarak pandangnya terbatas seperti sekarang, membahayakan dirinya dan juga orang lain, aku tadi udah menyuruh warga untuk mengantarnya pulang kerumah.." Alaska membantu menjelaskan kronologinya.


Setelah lega mengetahui bahwa semuanya baik baik saja Bella pun langsung membantu memapah tubuh Ansel ke dalam Villa dibantu oleh Alaska. Setelah mereka masuk, Alaska pun pamit karna hari memang sudah sangat larut.

__ADS_1


Ansel bersender diatas sofa, Bella pergi ke dapur untuk mengambilkannya minuman hangat.


Tak lama Bella pun kembali dan menyodorkan segelas teh hangat ke hadapan Ansel.


"Bella, maafkan aku, aku tidak bisa membawa kue serabi yang kamu inginkan.." Sepasang mata Ansel menatap Bella dalam.


Bella tercengang, dia tak mengira Ansel malah masih memikirkan soal kue itu.


"Aku sudah tidak ingin makan kue serabi pak.." Bella membalas tatapan Ansel. Dia sudah lupa untuk bersikap acuh pada Ansel.


"Apa kaki bapak terluka parah?" Bella menatap cemas kaki Ansel yang terlihat dibalut oleh perban elastis berwarna coklat. Bella malah memegangi kaki Ansel yang terluka sehingga Ansel memekik keras.


"AKKHHH!!"


Bella kaget melihat Ansel menjerit kesakitan.


"Ya ampun maaf pak, aku gak sengaja.."Bella merasa bersalah.


Namun Ansel malah tertawa tiba tiba.


"Kok bapak malah ketawa?!" Tanya Bella bingung.


"Lihat wajahmu Bella, kau begitu menggemaskan saat kau sedang cemas.." Ansel masih tertawa sambil merapatkan badannya ke depan Bella.


"Bapak bohong ya? bapak gak sakit ya?" Bella sengaja memukul kaki Ansel dengan kencang karna merasa sudah di tipu. Namun kali ini Ansel benar benar mengaduh kesakitan.


"AW!!!" Ansel mengelus kakinya yang terasa nyut nyutan.


"Syukur! itu balasan karna bapak suka ngejailin saya!" Dengus Bella kesal.


Ansel merengkuh bahu Bella dan membenamkan wajah gadis itu ke dalam dadanya. Kali ini Bella tidak menolak pelukan itu, meski dengan wajah yang ditekuk namun dia hanya diam membiarkan pria itu memeluknya.


"Maafkan aku Bella.. Aku benar benar minta maaf, untuk semua kesalahanku padamu, dan untuk semua rasa sakit yang kamu terima kemarin kemarin, aku benar benar minta maaf.."


Ansel mengangkat wajah Bella dan menatap jauh ke dalam mata gadis itu.


Jantung Bella mulai berdegup sangat cepat. Wajahnya memerah. Ansel begitu tampan dengan balutan kaos hitam polosnya. Mata coklatnya yang begitu indah menatap Bella dengan sangat intens.



Selama beberapa minggu ini laki laki itu sudah berusaha keras menunjukkan penyesalannya karna sudah berbuat seenaknya pada Bella.


Mungkin ini sudah waktunya dia memaafkan suaminya itu.


Ansel mendekatkan wajahnya, kini nafasnya telah bertemu dengan nafas Bella dan menjadi satu. Ansel mengusap lembut bibir Bella dengan ibu jarinya.


"Bella.. aku rindu sekali dengan bibir manis ini.."


Ansel benar benar sudah tak tahan untuk tak menyentuh gadisnya itu.


bersambung..


**Thor kasih bonus Visualnya Bella yang udah bikin pak Dosen klepek klepek 😁

__ADS_1


yuk tungguin bab selanjutnya menuju honeymoon reader 😁, jangan lupa vote nya ya 👍**



__ADS_2