SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Kejam tapi perhatian itulah Ansel


__ADS_3

Ansel menarik Bella ke ruang kesehatan dengan langkah cepat. Saat melewati ruangan para Dosen semua mata yang tak sengaja melihat pemandangan langka itu langsung berhamburan keluar. Ada Dosen Selvi disana menatap kepergiaan keduanya dengan tatapan tidak suka. Siapa sebenarnya mahasiswi itu? Ini kali kedua dia melihat pria idamannya itu begitu perhatian pada gadis itu. Selvi pun bertekad untuk mencari tahu.


Para mahasiswi yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka pun sampai melongo tak percaya. Kejadian itu jelas saja langsung menggemparkan seisi kampus. Akhirnya banyak yang mengambil kesimpulan sendiri 'Mungkin Bella ceweknya kali' atau 'Pasti Bella ada main sama Dosen Killer itu'.


"Pak, biar saya obatin sendiri! bapak gak liat dari tadi orang kasak kusuk begitu? yang ada rahasia kita bisa ketahuan tau gak!" Pinta Bella sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Pak Ansel. Tapi pria itu tak bergeming.


"Diam bodoh! duduk saja disini! kamu selalu saja merepotkan saya!" Perintah Ansel saat mereka telah sampai diruang kesehatan sambil menekan kedua bahu Bella agar dia mau duduk diatas kursi.


Bella melotot tajam saat mendengar ucapan suaminya. Dia hendak memaki Pak Ansel namun urung saat melihat ada seorang dokter wanita yang menghampirinya.


Pak Ansel terlihat berbicara pada wanita itu, lalu kemudian dia pergi dari ruang kesehatan tanpa berkata apa-apa lagi.


"Laki-laki itu memang sangat menyebalkan!" Dengus Bella kesal.


"Saya olesi salep luka bakar ya biar kulit kamu gak terlalu merah lagi dan bisa meredam rasa sakitnya juga." Dokter wanita yang berusia kira-kira 30 tahunan itu dengan hati-hati mengobati tangan Bella, sesekali diliriknya wajah Bella yang menahan perih.


"Kamu mahasiswinya Pak Ansel?" Tanya Dokter wanita itu sambil mengambil beberapa obat dari dalam lemari.


Bella mengangguk.


Dokter Renata kembali menghampiri Bella dan duduk didepannya.


"Kenalin saya Renata.. Saya temannya Pak Ansel.." Dokter itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum ke arah Bella.


"Saya Bella bu.."


Bella menerima uluran tangan itu dan membalas senyum dari Sang Dokter.


"Bella, saya sangat kaget sekali loh!" Ucap Dokter renata sambil mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Maksud ibu?" Tanya Bella tak mengerti.


"Iya selama bertahun-tahun saya berteman dengan Ansel dan selama saya jadi Dokter dikampus ini, saya belum pernah melihat dia mempedulikan orang lain.." Ucap Dokter Renata yang membuat Bella langsung mengernyitkan dahinya.


"Ibu teman sekolahnya Psikopat itu?"


Dokter Renata menoleh kaget.


"Eh, maksud saya Pak Ansel."


Bella menutup mulutnya saat sadar dia sudah salah menyebut nama Pak Ansel dengan julukan yang dia beri sendiri. Memang Psikopat adalah julukan yang paling pantas untuk pria itu.


Dokter Renata diam sejenak tak lama dia tersenyum geli juga.


"Kayaknya kalian sangat akrab ya? Ansel itu sebenarnya sangat baik loh Bell, cuman semenjak kejadian itu.." Dokter Renata tak langsung melanjutkan kalimatnya.


"Kejadian apa?" Tanya Bella penasaran. Matanya menatap Dokter wanita itu lekat-lekat.


"Dulu waktu kami kuliah, Ansel itu kepribadiannya sangat hangat loh Bell gak kaya sekarang, sekarang dia dikenal dingin, jutek dan kejam ya atau apa tuh kalian suka sebut bahasa bekennya dia Dosen apa geh tuh?"


"Killer?" Tebak Bella yang dijawab anggukan oleh Dokter Renata.


"Ya itulah pokoknya julukan dia sekarang, dulu dia malah yang paling baik dan asik banget diantara temen-temen sekampus Bell"


Bella tak percaya, masa sih seorang Ansel dulunya seperti itu? Mustahil ah! tapi Bella terus mendengarkan cerita dari Dokter Renata


"Dulu dia punya pacar, pacar dia kebetulan sahabat baik saya namanya Diandra. Ansel dan Diandra sudah menjadi ikon pasangan paling romantis dikampus saat itu. Dimana pun ada Diandra disitu pasti ada Ansel. Mereka tak pernah bisa dipisahkan satu sama lain sampai suatu kejadian.."


Dokter Renata diam sejenak, dia nampak berat melanjutkan kata-katanya. Bella mendengarkan dengan seksama.

__ADS_1


"Diandra pergi begitu saja ke luar negri meninggalkan Ansel disini sendirian tepat di semester akhir kita. Saya masih ingat betapa paniknya Ansel waktu itu. Dia sampai mengelilingi kampus 5 kali untuk mencari keberadaan Diandra, karna dia pikir Diandra sedang mengerjainya saja.."


Bella tertegun, mulutnya ternganga syok mendengar cerita yang begitu menyedihkan itu.


"Lalu bu setelah itu?" Tanya Bella akhirnya karna dia merasa masih ada kelanjutan dari cerita itu.


"Ansel galau berat Bell. Saya pun berusaha membantunya dengan menghubungi Diandra tapi nihil, semua kontak Diandra tiba-tiba tidak bisa dihubungi.."


Bella bisa membayangkan perasaan Pak Ansel saat itu pasti sangat hancur. Seseorang yang dia cintai tiba-tiba menghilang dari hidupnya.


"Apa semenjak itu sikapnya berubah?"


"Iya Bell, semenjak itu dia jadi tertutup, dia jadi manusia paling egois, dia bahkan tidak peduli pada perasaan orang lain, dia kecewa pada Diandra dan keadaan.. Makanya saya senang sekali melihat dia begitu peduli padamu tadi, ternyata hati nurani Ansel masih berfungsi.." Dokter renata tersenyum dan menepuk pundak Bella.


Bella tertegun mendengar perkataan Dokter Renata. Jauh didalam lubuk hati Bella, Bella memang merasa jika Pak Ansel itu sebenarnya orang yang sangat baik.


Buktinya waktu dia dijebak dihotel dulu pria itu yang menyelamatkannya, juga saat dia di kejar-kejar oleh para preman malam itu saat dia hendak pulang ke rumah dan belum lagi kejadian-kejadian kecil saat Bella sedang terluka seperti hari ini, tanpa Bella sadari dan tanpa Bella bisa pungkiri memang pria itulah yang selalu jadi penyelamatnya.


Meski Pak Ansel tak pernah menunjukan ekspresi bersahabatnya selama ini tapi tindakannya justru berbanding terbalik dengan setiap ucapan kejam yang keluar dari mulutnya.


Bella jadi merasa sedikit kasihan pada pria itu sekarang, perlahan cara pandangnya pada laki-laki itu sedikit berubah. Mungkin benar kata Dokter Renata, Ansel itu sebenarnya baik tapi dia hanya sedang menyembunyikan kebaikannya saja karna kecewa pada masalalunya.


"Bell, ini salep untuk kamu oleskan dirumah ya, dan ini ada pilnya juga untuk meredakan sakit, cepet sembuh ya dan hati-hati lain kali oke?" Ucap Dokter renata sambil menyerahkan sebuah plastik putih berisi obat dan salep kepada Bella.


"Terima kasih ya bu.." Bella tersenyum lalu pergi untuk kembali ke kelas kimianya Pak Ansel.


Saat jalan disepanjang lorong kelas Bella terus memikirkan cerita dari Dokter Renata. Ternyata dulu Pak Ansel bisa bucin juga! Hah! Bella ternganga tak percaya!


Kalau dia bisa keliling 5 kali dikampus ini hanya untuk mencari seorang wanita berarti memang wanita itu sangat berharga untuknya. Berarti dia memang sangat mencintai gadis itu. Bella menghembuskan nafas berat. Bella penasaran apa sekarang Pak Ansel masih mencintai wanita yang bernama Diandra itu?

__ADS_1


bersambung


__ADS_2