
Ansel baru sampai di ruang Dosennya. Matanya langsung tertuju ke atas meja kerjanya, disana terlihat sebuah kotak makan sudah bertengger dengan manis, kotak makan itu berwarna biru navy dibungkus dengan plastik transparan.
Ansel menarik nafas kesal.
"Punya siapa ini? pasti ulahnya bu Selvi!" Ansel langsung meletakan tas kerjanya dan dengan terburu buru pergi ke ruang dosen dimana bu Selvi berada.
^^^Brak^^^
Ansel menggebrak pintu dengan kencang. Semua mata langsung tertuju pada seraut wajah tampan yang kini tengah berdiri di mulut pintu.
Mata elang Ansel langsung tertuju pada meja kerja milik bu Selvi. Diandra yang saat itu ada disana langsung berdiri saat menyadari kehadiran Ansel.
Ansel terlihat menahan marah sambil memegangi kotak makan yang dia berikan.
"Pasti ulah bu Selvi lagi kan?" Ucap Ansel sebari menghampiri bu Selvi. Bu Selvi berdiri dan menurunkan kacamatanya untuk melihat benda yang pak Ansel sedang sodorkan ke arahnya.
"Pasti bu Selvi yang udah naro bekal ini di tempat sayakan? saya udah bilang kan berkali kali bu, saya tidak suka hal-hal seperti itu, ibu paham?"
Bu Selvi tampak kebingungan mendengar perkataan Ansel. Memang selama ini dia suka melakukan hal hal konyol agar menarik perhatian Ansel, contohnya seperti waktu itu, saat dia memberikan bunga secara diam diam di meja kerjanya pak Ansel. Tapi kali ini dia memang tak merasa melakukan yang dituduhkan, bu Selvi pun dengan tegas menyanggahnya.
"Loh, saya gak tau pak, itu bukan bekal dari saya, kalau dari saya pasti saya ngaku.."
Ansel tersenyum kecut. Kini mereka menjadi pusat perhatian semua dosen yang sedang ada di ruangan itu.
"Jangan mengelak bu!" Ansel mulai terlihat kesal, dia sangat yakin bu Selvi lah pelakunya, karna hanya dia yang selama ini berani melakukan hal hal seperti ini.
"Sumpah pak! saya memang gak tau apa-apa!" dengan wajah bingung perempuan itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Lalu kalau bukan anda, siapa yang udah lancang naro ini di meja saya?"
Ansel menatap sekeliling ruangan, hening! semua orang tak ada yang berani menyahuti anak dari rektor Brawijaya itu.
"Aku Ansel, aku yang udah naro bekal itu di meja kamu.." Suara itu membuat Ansel menoleh. Sorot matanya seketika berubah dingin.
Diandra pun berjalan menghampiri Ansel. Bu Selvi dan yang lainnya terlihat sangat kaget dengan pengakuan dosen baru itu.
Diandra memang sengaja menyiapkan bekal untuk Ansel. Dia ingat kalau Ansel sangat suka makanannya, Diandra berharap dengan memasak sesuatu yang Ansel sukai, pria itu akan luluh dan mau memaafkannya.
"Maaf Ansel, saya yang udah nyuruh OB buat naro itu di ruang kerja kamu, di dalam kotak makan itu ada cumi saos padang yang saya masak sendiri.." Diandra menatap Ansel yang kini memalingkan wajah darinya.
Laki laki itu masih sama seperti beberapa tahun lalu, dia masih sangat tampan dan menawan. Bu Selvi yang berdiri disebelahnya memandang Diandra dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Ambil ini! perlu anda ketahui saya sudah tidak menyukai makanan itu." Ansel menyodorkan kotak bekal itu kehadapan Diandra. Diandra membuka katup mulutnya, dia tampak syok mendengar penolakan itu dari Ansel.
"Tapi Ansel.. saya sudah memasak ini spesial buat anda."
"Tidak ada yang menyuruh anda kan? berhentilah melakukan hal yang sia-sia bu Diandra!"
Ansel menoleh, kini dia menatap mantan pacarnya itu dengan wajah yang terlihat dingin.
__ADS_1
Diandra merasakan nyeri di relung hatinya melihat sikap Ansel yang benar benar berubah. Dia tak menyangka jika meninggalkan Ansel sementara tanpa kabar dahulu itu adalah kesalahan yang sangat fatal.
Namun dia takan menyerah, Diandra masih yakin jika Ansel akan mau kembali padanya suatu hari nanti, dan dia akan berusaha untuk itu.
"Bu Selvi, maafkan kata kata saya tadi." Ansel menatap bu Selvi sesaat dan langsung pergi dari tempat itu tanpa berkata apa-apa lagi.
Sementara itu Inyong langsung mengajak Bella dan Sasya ke gudang kampus yang letaknya dibelakang gedung. Dia memilih tempat itu karna menurutnya tempat itu adalah tempat paling aman untuk membicarakan masalah yang sangat genting.
"Ngapain sih nyong lo ngajak kita kesini? gak ada tempat lain yang lebih layak apa?" Protes Sasya sambil mengibas ngibaskan roknya karna kena sarang laba-laba saat masuk ke ruangan tadi.
"Ada sih, di toilet! mau?" Jawab Inyong sambil melirik ke arah Sasya.
"Sama aja bohong!"
"Makanya udah disini paling oke buat kongkow!"
"Emang ada hal penting apa sih nyong?" Bella menatap penasaran. Karna tidak biasanya Inyong sampai menyuruh mereka ke tempat tersembunyi segala.
"Nih liat!" Inyong mengeluarkan Walkie Talkie dari dalam tasnya dan menyodorkannya kehadapan Bella dan Sasya.
"Walkie Talkienya pak Doni kan ini?" Sasya ingat betul Walkie Talkie itu yang digunakan salah satu panitia kamping saat dia meminta tolong mencari keberadaan Bella saat itu.
"Bukannya Walkie Talkie ini hilang ya dulu? makanya Si Alaska kan gak bisa ngehubungin panitia pas kita kesesat itu.."
Bella semakin heran kenapa sekarang Walkie itu ada ditangan Inyong.
"Nah bener banget Bell! lo pada mau tau gak Inyong dapet ini dari mana?"
Inyong menarik napas panjang. Dia malah membuat suasana semakin tegang dengan diamnya.
"Lo dapet dari mana nyong?!" Desis Sasya kesal karna Inyong malah diam saja.
"Dari.. dari tasnya Sarah." Ucap Inyong akhirnya.
"Hah? kok bisa?"
"Iya, tadi pas gue ketemu dia di kantin, benda ini gak sengaja jatoh dari tasnya. Gue sih gak mau nuduh dulu, makanya gue ngasih tau kalian. Gimana kalau kita tanya langsung ke pak Doni?" Inyong menatap Sasya dan Bella dengan serius.
Perasaan Bella seketika menjadi tidak enak. Kenapa Walkie Talkie ini ada ditangan Sarah? apakah Sarah menemukannya atau..
"Gue setuju, lebih baik kita tanya pak Doni aja langsung.." Bella akhirnya membuang pikiran negatif dari pikirannya. Dia tidak ingin secepat itu menyimpulkan jika Sarah mungkin terlibat dengan kasus penculikannya saat itu.
Selesai jam kuliah, Bella, Inyong dan Sarah langsung bergegas menemui pak Doni di ruangannya.
"Ada apa Nyong?" Pak Doni terlihat sedang sibuk mencatat sesuatu ditangannya namun matanya melihat ke arah ketiga mahasiswinya itu sesekali.
"Pak, ini milik bapak bukan?" Inyong menyodorkan Walkie itu kehadapan pak Doni.
"Loh! kok bisa ada di kamu?" Pak Doni menghentikan aktifitasnya dan melirik ke arah Inyong.
__ADS_1
"Jadi bener ini punya bapak?"
"Iya, ini hilang pas kamping kemaren. Gara gara ini nih saya kehilangan komunikasi sama anak anak!" Pak Doni langsung berdiri dan memeriksa Walkie Talkie itu.
"Kamu nemu ini dimana nyong? Padahal saya kira Sarah yang ngambil, wah berarti saya sudah bersalah sama dia.."
Mata ketiga gadis itu langsung melotot sempurna mendengar ucapan Dosennya itu.
"Maksud bapak apa?"
"Iya, waktu itu seingat saya walkie ini saya taruh diatas tas saya, nah kebetulan ada si Sarah disana lagi ngelaporin hilangnya Kevin, pas saya tinggal sebentar keluar, tau-tau Walkie nya sudah hilang.."
Ketiga mahasiswi itu saling tatap dengan wajah yang sangat syok.
"Emang kamu nemu ini dimana nyong?"
Inyong melirik ke arah Bella dan Sasya. Dia bingung harus menjawab apa.
"Kami gak sengaja nemuin ini pak di tempat kamping, tapi kami baru inget sekarang buat ngembaliin ini sama bapak, kami minta maaf ya pak.." Sasya yang akhirnya bersuara untuk memberikan alibi.
Pak Doni hanya mengangguk pelan.
"Terima kasih kalau gitu ya.. Ada lagi yang bisa bapak bantu?" Pak Doni kini tampak sibuk kembali dengan catatannya.
"Kami cuman mau ngembaliin itu pak, kami permisi dulu ya.."
"Iya silahkan.."
Ketiganya pun langsung pergi dari sana dengan perasaan yang kini bercabang di otak mereka masing-masing.
"Kalian mikirin yang Inyong pikirin gak sih?" Tanya Inyong sambil menatap kedua sahabatnya dengan pandangan lurus.
Sasya mengangguk pelan.
"Mungkin yang waktu itu Inyong denger soal rencana itu ya ini, mereka terlibat sama penculikan Bella!" Inyong tampak gusar.
Bella jadi bingung, kenapa dia merasa Inyong dan Sasya sedang membicarakan sesuatu yang dia tidak ketahui.
"Rencana apa? terus mereka yang lu maksud itu siapa nyong?" Bella menatap tak sabar sambil menunggu jawaban dari Inyong.
Sasya dan Inyong saling bertatapan. Mereka menarik nafas berat, wajah kedua sahabatnya itu seketika berubah keruh. Sasya jadi tak tahan jika terlalu lama menyimpan kebenaran ini dari Bella.
"Bell, gue rasa udah saatnya lo tau semuanya.." Desis Sasya sambil memegang kedua bahu Bella.
Bella tampak semakin bingung.
"Kevin dan Sarah itu pacaran dan mereka juga yang kita curigai sebagai dalang dari kasus penculikan lo kemaren!"
Bella tersentak, mulutnya ternganga lebar.
__ADS_1
"Mustahil!" Bella menatap Sasya dengan raut tak percaya.
Bersambung.