SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Diandra galau


__ADS_3

Diandra menangis terisak didalam mobil saat membayangkan Ansel tengah menggendong gadis itu. Seharusnya tadi dia tidak kesana, seharusnya dia tidak menuruti ucapan salah satu mahasiswanya yang bernama Kevin itu.


Saat pulang kampus tadi Kevin sengaja menemuinya untuk menyampaikan pesan jika Citra adiknya Ansel ingin sekali bertemu dengan dirinya. Karna Diandra dulunya sangat dekat dengan Citra diapun tanpa pikir panjang langsung mengiyakan undangan itu.


Namun dia tak menyangka jika kunjungannya kerumah Ansel malah akan membuat dirinya melihat sesuatu yang sangat menyakitkan.


'Sebenarnya siapa gadis itu?'


Satu pertanyaan besar muncul di kepalanya saat ini.


"Apa jangan-jangan Ansel memang sudah menikah?" Tanya Diandra pada dirinya sendiri. Matanya menatap lurus ke depan jalan.


"ARGGGHHH SIALAN!" Diandra pun menggebrak dasbor dengan sangat kencang saking emosinya.


Pikirannya kalut, ternyata dia tidak sanggup melihat Ansel bersama wanita lain, rasa sakitnya ternyata melebihi sakit kanker yang selama ini dideritanya. Hatinya benar benar hancur berkeping keping.


Sementara itu di rumah kediaman keluarga Hamis Wijaya, Ansel sedang mengoleskan salep luka bakar ke kaki Bella.


Bella menatap Ansel yang sedang serius meniup telapak kakinya yang tadi kena air panas.


"Apa kita perlu ke dokter?" Ansel menatap Bella dengan khawatir, Bella langsung menggeleng cepat.


"Tidak usah pak, salep ini udah cukup ampuh, kaki aku udah kerasa lebih enakan sekarang.."


"Yakin?"


"Hmm" Bella mengangguk lagi.


"Baiklah kalau begitu." Ansel lalu membereskan kotak obatnya dan segera meletakkannya kembali ke dalam lemari.


"Apa bapak tidak ingin mengejarnya?" Tanya Bella pada akhirnya, sesungguhnya dia sejak tadi sangat penasaran ingin bertanya karna Ansel terus diam seolah tidak terjadi apa apa.


Ansel menoleh sekilas lalu pura pura sibuk dengan berkas berkasnya.


"Mengejar siapa?" Ansel balik bertanya.


Bella tampak ragu menyebut nama itu.


"Bu.. "Kalimat Bella terpenggal, dia ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Siapa?"


"Bu Diandra.."


"Kenapa saya harus mengejar dia?" Sepasang alis Ansel kini terangkat. Dia akhirnya menghampiri Bella dan duduk dihadapan istrinya.


Nyali Bella langsung ciut seketika. Dia tahu sebenarnya dia tidak berhak menanyakan apapun soal bu Diandra kepada Ansel karna pria itu pasti tidak akan suka.


"Mungkin bapak ingin menjelaskan sesuatu pada bu Diandra tentang hubungan kita." Nyali Bella gede juga saat tak sadar dia sudah melontarkan pertanyaan itu.

__ADS_1


Ansel hanya diam, dia menatap mata Bella dengan pandangan lurus.


Bella tak tahu arti dari tatapan suaminya itu.


"Bella, aku tidak ingin membahas apapun soal itu." Ucap Ansel akhirnya.


Bella mengangguk pelan. Sudah dia duga, Ansel pasti tidak akan nyaman membahas soal Diandra dengannya.


Tapi Bella sangat gelisah melihat tatapan bu Diandra tadi, tatapan itu menyiratkan kecemburuan yang sangat besar. Bella bisa merasakannya bahkan hanya dengan melihat mata wanita itu.


Esoknya waktu menunjukkan pukul 08.30 wib di kampus Brawijaya


Bella sedang berjalan dilorong dengan tergesa-gesa, dia lupa jika hari ini ada kuis yang harus segera dia ikuti.


Bella pun berlari untuk mengejar ketinggalan dan berharap semoga Dosennya belum hadir dikelasnya.


"Bella tunggu!" Langkah Bella terhenti saat seseorang memanggilnya dari belakang.


Bella menoleh dan seketika mematung melihat ternyata yang memanggilnya itu adalah bu Diandra.


Diandra tampak berjalan mendekati Bella.


"Bella, bisa kita bicara sebentar diruang kesehatan?"


Bella tak menjawab, dia bingung karna tidak mungkin dia melewatkan kuis dengan percuma hari ini.


"Maaf bu, saya lagi ada kuis, mungkin sehabis kuis ya?"


Bella menepati janjinya, selesai kuis dia langsung menuju ruang kesehatan untuk bertemu dengan bu Diandra.


Jantung Bella berdegup sangat cepat, sejujurnya dia sangat gugup, entah karna apa dia merasa sangat canggung akan berhadapan dengan mantan dari suaminya itu.


"Eh Bella, kemari lah." Suara Bu Renata langsung menyadarkan Bella yang terlihat bengong didepan ruang kesehatan. Bella tersenyum dan langsung masuk kedalam ruangan.


"Permisi bu, saya kesini untuk bertemu dengan bu Diandra, beliau.."


"Iya Bella, itu bu Diandra sudah nungguin kamu.." Bu Renata memotong ucapan Bella lalu menunjuk ke arah sofa.


Terlihat bu Diandra sudah duduk disana dengan menatapnya.


"Bella, maaf memanggilmu kemari, ada hal yang ingin saya ketahui.." Bu Diandra berdiri lalu menyuruh Bella untuk duduk.


"Bella, saya langsung ke intinya saja ya, saya tidak suka basa basi, sebenarnya apa hubungan kamu dengan pak Ansel?" Bu Diandra menatap Bella dengan seksama.


"Saya.. saya.." Bella bingung, haruskah dia mengatakan yang sebenarnya? tapi bagaimana jika Ansel marah? dia kan pernah bilang dulu jika tidak ingin ada orang dikampus yang tau tentang pernikahan mereka.


"Bella istri saya Diandra!" Sebuah suara tiba tiba mengangetkan semua yang ada diruang kesehatan itu.


Bella, Diandra dan Renata menoleh kaget saat mendapati Ansel kini telah berdiri di mulut pintu. Matanya menatap tajam ke arah Diandra.

__ADS_1


Diandra membuang nafas kasar, dia tampak sangat syok mendengarnya. Tidak mungkin! ini pasti cuman mimpi!


"Kamu becanda Sel? gak mungkin!" Renata tampak ikut tak percaya mendengar pengakuan Ansel barusan.


Ansel menghampiri Bella dan menarik tangan gadis itu untuk berdiri.


Kemudian Ansel langsung melingkarkan tangannya di pinggang Bella.


"Seorang Ansel tidak pernah bercanda dengan cintanya." Sahut Ansel dengan penuh penekanan pada setiap katanya.


Diandra ternganga sambil tertawa miris.


"Kenapa? kenapa Sel?" Diandra mendekat ke arah Ansel.


Bella jadi tak enak melihat ekspresi wajah wanita itu yang kini terlihat sangat syok.


"Kenapa? kamu bahkan udah gak berhak bertanya sama saya.." Kedua bola mata itu menatap Diandra dengan tajam.


Diandra tertawa lagi, kali ini dengan tawa yang diakhuri dengan tangisan. Dia benar benar tak menyangka jika pria yang sangat dicintainya itu ternyata sekarang sudah menjadi milik orang lain.


"Kamu pasti cuman mau gertak saya kan? ucapan kamu tadi pasti cuman basa basi ajakan sel? kamu cuman pengen bales kesalahan saya kemaren, iya kan? sebenarnya kamu masih tetep cinta sama sayakan? iya kan? jawab!" Diandra mulai histeris, Renata mencoba memegangi bahu Diandra dan menyuruhnya untuk tenang.


"Di, sabar di, inget kondisi kamu.." Renata mencoba menyuruh Diandra duduk namun wanita itu malah mengamuk dan menatap Bella dengan tajam.


"Kamu dibayar berapa sama Ansel?" Tanya Diandra dengan nada melecehkan.


Ansel tampak geram mendengar ucapan Diandra, dia hendak membuka mulutnya namun Bella menahannya.


"Pak, lihat! bu Diandra pucet banget wajahnya.." Bella malah sempat sempatnya memperhatikan raut wajah Diandra.


"Darah! bu ada darah keluar di hidung ibu!" Bella hendak memberikan tisu kepada Diandra namun Diandra menepis tangan Bella dengan kasar.


"Saya tidak butuh bantuan dari kamu!" Tolaknya dengan serta merta.


"Di, Stop! Ansel.. lebih baik kamu bawa Bella keluar sekarang! Diandra biar saya yang tangani." Renata akhirnya menyuruh Ansel keluar karna dia tidak ingin keributan ini jadi panjang.


Ansel menatap sesaat ke arah Diandra yang kini tengah merebahkan kepalanya disandarkan sofa. Darah segar terlihat merembes keluar dari kedua lobang hidungnya.


Ada sedikit perasaan kasihan yang muncul di hati kecilnya.


Anselpun kemudian menggandeng Bella untuk keluar ruangan.


"Obat leukimia kamu taro mana Di?" Tanya Bu renata.


Bella yang hendak keluar dari ruang kesehatan langsung menoleh kaget mendengar kalimat itu.


"Leukimia?" Bella tampak tak percaya.


Tak lama bu Diandra pun pingsan. Bella dan Ansel tampak kaget, Ansel ingin menolong namun dia memikirkan perasaan Bella.

__ADS_1


"Pak! kenapa diem aja! ayo angkat bu Diandra ke atas ranjang!" Bella akhirnya menyuruh Ansel karna dia tahu pria itu tidak akan bertindak sebelum dia bicara.


bersambung..


__ADS_2