SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Kencan pertama dipantai


__ADS_3

Reader ku sayang Jangan lupa vote dan sajennya ya 😁


Jam kukuk di kamar sudah berteriak hampir tiga belas kali. Namun Bella masih mematung di dalam pelukan Ansel suaminya. Matanya baru saja terbuka ketika cahaya matahari pagi menyusup dibalik celah jendela kamar Villa.


Bella terpana pada pemandangan di depannya. Masih tak percaya atau lebih tepatnya takjub! seolah olah semua yang terjadi dalam hidupnya ini hanya mimpi.


Seorang pewaris utama group Brandon yang paling tersohor di ibu kota sekaligus Dosennya yang super Killer ini sekarang ada dihadapannya, tidur dengan memeluknya seolah Bella akan lari darinya.


Bella jadi teringat kembali awal mula pertemuan mereka di hotel itu, dia tak menyangka jika laki laki yang menyelamatkannya saat itu akan menjadi suaminya, akan menjadi separuh dari jiwanya.


Bella tersenyum dan tanpa sadar membelai wajah tampan yang sedang terlelap dihadapannya itu.


Ansel sedikit terusik dan seketika membuka matanya dengan perlahan.


Mata coklatnya begitu menawan ketika dia tengah memandang Bella dalam diam lalu sedetik kemudian Ansel tersenyum sambil mengusap kepala Bella.


"Selamat pagi sayang.." Ansel mencium kening Bella dengan lembut.


"Selamat pagi juga pak.." Jawab Bell kikuk.


Ansel mengerutkan keningnya.


"Bella, bisakah jika kita hanya berdua saja panggil aku dengan sebutan sayang? tidak perlu memanggilku pak lagi, rasanya terlalu formal.."


Bella terdiam sambil menggigit bibirnya sendiri. 'Duh rasanya gak pede banget harus manggil Pak Ansel dengan sebutan sayang.." Gumam Bella dalam hatinya.


Tapi Ansel tetap menatapnya lurus menunggu Bella memanggilnya dengan sebutan itu.


"Iya, sa..yang." Ucap Bella terbata sambil menunduk malu. Bella menggigit bibirnya lagi, dia tak sadar jika kelakuannya itu malah membuat Ansel mulai terpancing.


"Kenapa menatapku begitu?" Tanya Bella.


Ansel tersenyum lalu memeluk Bella lebih erat.


"Aku tidak tahan melihatmu malu malu begitu, apa kita harus mengulangi yang semalam?"


Bella spontan melotot kaget.


"Pak jangan menggodaku terus!!" Bella merajuk sambil mencubit lengan Ansel hingga pria itu sedikit meringis kesakitan.


Ansel tertawa lalu kemudian membalas mencubit hidung Bella dengan gemas.


"Bella, ayo kita ke suatu tempat hari ini setelah kita periksa bayi kita, oke?" Ucap Ansel sambil menatap Bella dengan serius.


"Kemana?" Bella menoleh dengan wajah penasaran.


"Ke suatu tempat, dan kau pasti akan suka.." Ansel menjawab dengan tatapan misterius.


Setelah mandi Bella pun mempersiapkan sarapan untuk Ansel, dia menggoreng nasi untuk pertama kalinya buat suaminya itu. Kalau saja mereka sedang ada di rumah besar saat ini Bella tidak akan mungkin punya kesempatan untuk melayani suaminya seperti ini.


Ada baiknya juga memang pertengkaran ini. Pada akhirnya mereka malah saling dekat satu sama lain.

__ADS_1


"Hmm wanginya sangat enak Bella.. aku sudah tidak sabar memakannya.."


Ansel tiba tiba sudah berdiri di belakang Bella dan memeluknya dengan mesra.


"Pak! maksudku sayang.. ini di dapur.." Sergah Bella sambil mencoba menyingkirkan tangan Ansel, tapi pria itu malah mempererat pelukannya.


"Kenapa? apa kau masih malu? kita ini suami istri, aku tidak peduli dengan yang lainnya, lagi pula pintu depan masih di kunci kan?"


Bella tersentak ketika Ansel malah meny esap lehernya dari belakang.


"Sayang! duduklah, kau malah mengganggu konsentrasi ku.." Bentak Bella sambil memasang wajah galak tapi bukannya takut Ansel malah tertawa geli.


"Oke, aku bakal duduk manis sambil menunggu makananku datang."


Ansel akhirnya mengalah dan duduk di meja makan begitu melihat Bella berbalik dengan berkacak pinggang mirip ibu tiri yang jahat.


Dia memperhatikan Bella yang begitu serius dengan masakannya sambil tersenyum simpul. Rasanya semua beban dihatinya selama ini sudah sirna, inilah kehidupan yang selama ini dia inginkan, Bella adalah jawaban dari setiap mimpi mimpinya.


Bertemu dengan Bella adalah suatu keajaiban dalam hidupnya, gadis yang begitu polos dan baik ini sudah merubah cara pandangnya tentang hidup ini, kini dia sadar jika cinta akan selalu punya cara untuk menunjukkan jalannya.


Setelah selesai sarapan, mereka pun langsung pamit pada Ibu Laras. Bella sempat kaget saat mengetahui jika Alaska ternyata telah kembali ke Jakarta pagi ini.


Ansel dan Bella saling bertatapan karna tak mengira Alaska akan pergi tanpa pamit kepada mereka berdua.


"Kenapa Al gak ngasih tau kita ya? kan dia bisa pamit dulu tadi pagi.." Ucap Bella saat dia sudah berada di dalam mobil bersama Ansel.


Ansel hanya menggeleng pelan.


Bella diam sejenak, dia tiba tiba jadi ingat kuliahnya yang sudah dia tinggalkan selama beberapa minggu ini, tiba tiba wajahnya berubah jadi murung.


"Kenapa Bella?" Tanya Ansel yang menyadari perubahan sikap Bella.


Bella hanya menggeleng pelan.


"Kenapa sayang?" Tanya Ansel lagi sambil mengelus kepala Bella.


Bella menarik napas panjang sambil memandang keluar mobil, udara sejuk langsung menerpa wajahnya ketika dia membuka kaca jendela mobil.


"Aku hanya sedih, sepertinya beasiswaku telah dicabut.." Jawab Bella akhirnya. Pandangannya beralih ke depan, sekarang mereka telah sampai disebuah jalan dengan sisinya yang terhampar pantai biru yang membentang.


Ansel yang sedari tadi fokus menyetir langsung menepikan mobilnya kepinggir jalan. Kini dia menghadap Bella sambil menatapnya dengan lembut.


"Jadi, hal itu yang sedari tadi mengganggu pikiranmu Bella?"


Bella mengangguk.


Ansel meraih tangan Bella lalu menggenggamnya.


"Bella, aku tau kamu gadis yang sangat mandiri, tapi tidak kah kau percaya aku mampu memberimu nafkah lahir dan batin? tetang kuliahmu itu, ijinkan aku yang membiayainya, aku ingin menjalankan semua peranku dengan baik terhadapmu, itu kewajiban ku Bella.."


Bella terdiam, memang selama ini dia tidak mengijinkan Ansel membiayai kuliahnya karna dia tetap ingin memakai beasiswanya untuk membuktikan jika dia mampu lulus kuliah meski tanpa bantuan siapapun.

__ADS_1


Uang bulanan yang Ansel berikan kepadanya malah dia kembalikan lagi kepada Ansel.


"Jika kau menolak lagi, aku merasa gagal menjadi suamimu.."


"Tidak! bapak tidak boleh bilang begitu.. aku cuman tidak ingin merepotkan mu.."


"Aku justru senang kalau kau repot kan aku dengan hal hal seperti itu, kau istriku, kau tanggung jawabku Bella.."


Bella terharu sekali mendengarnya, Ansel mengusap pipi Bella lembut. Laki laki ini sudah sangat berubah 180 derajat.


"Mulai saat ini, semua keperluan mu adalah tanggung jawabku, setuju?"


Bella mengangguk pelan.


"Terima kasih sayang.."


Mata Bella mulai berkaca kaca. Ansel kemudian memeluknya dan memberikan satu pagutan manis di bibirnya.


Setelah itu merekapun melanjutkan perjalanan ke sebuah klinik di desa munduk.


Setelah dari klinik mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke arah pantai. Ansel memacu mobilnya dengan kecepatan penuh membelah jalanan yang terlihat lengang.


Sampai ditempat tujuan mata Bella terbelalak seketika. Mulutnya ternganga tak mampu menyembunyikan rasa takjubnya pada pemandangan yang disuguhkan didepan matanya.


Sebuah pantai dengan pemandangan laut lepas nan indah, langit yang bak lukisan dengan coretan warna oranye.



Ansel memarkirkan mobilnya di sebuah tempat yang didepannya terdapat jembatan panjang yang membentang ke tengah laut.


Kelopak bunga mawar yang bertebaran terlihat menghiasi setiap lantai jembatan yang terbuat dari kayu itu.


Yang lebih membuat Bella terpana adalah pemandangan diujung jembatan yang memperlihatkan sebuah tempat makan romantis yang sudah ditata sedemikian rupa. Tempat makan itu menghadap langsung ke arah laut.


Bella tak dapat lagi menahan perasaannya. Dia tak sadar langsung melompat turun dari mobil. Ansel langsung kaget dan berlari menghampiri Bella.


"Bella hati hati! jangan melompat seperti itu kau sedang hamil sayang.." Ucap Ansel cemas.


"Maaf sayang, aku benar benar takjub melihat semua ini.. apa ini semua ide bapak?"


"Iya, aku menyuruh orang orang ku untuk menghias tempat ini sebelum kita kesini, apa kau suka?"


Bella mengangguk cepat. Ansel tersenyum lalu kemudian mengajak Bella untuk berjalan di jembatan kayu itu.


"Ayo tuan putri.."


Ansel membungkuk posenya mirip seperti orang yang hendak melamar kekasihnya.


Dia mengulurkan satu tangannya kehadapan Bella sambil tersenyum manis.


"Nona Bella Wijaya, mau kah kamu melakukan kencan pertama yang sebenarnya denganku?"

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2