
Zio segera membopong tubuh Ansel dengan dibantu oleh beberapa tim pencari yang ikut bersama mereka, sementara Bella digendong oleh salah satu tim pencari juga karna keadaan Bella juga tidak kalah memprihatinkan dari Ansel.
Sasya terus menangis sepanjang perjalanan dan mencoba menguatkan Bella yang mulai tak kuasa memejamkan matanya yang sudah terasa sangat berat. Butuh waktu setengah jam lebih untuk sampai ke tempat kamping dari lokasi ditemukannya Bella dan Ansel tadi.
Sesampainya ditempat kamping waktu sudah menunjukan pukul 02.00 dini hari. Semua orang langsung keluar dari tenda mereka dan berkumpul untuk melihat keadaan Bella dan Pak Ansel.
Sarah membangunkan Kevin yang tengah terlelap di tendanya.
"Bangun Kev, bangun! Gawat! ayo bangun!" Pinta Sarah sambil mencoba menggoyang goyangkan lengan Kevin supaya pria itu segera bangun dari tidurnya.
"Ada apa sih Sar? aku udah ngantuk banget nih.." Ucap Kevin kesal karna merasa tidurnya sudah diganggu oleh Sarah.
"Pak Ansel sama Bella udah ditemukan, Kev!" Ucap Sarah dengan wajah panik. Sontak Kevin langsung membelalakkan matanya, tiba-tiba saja rasa kantungnya sirna mendengar berita yang barusan Sarah bawa itu. Jelas saja karna itu adalah berita yang sangat buruk baginya.
"Kamu jangan becanda Sar!" Ucap Kevin sambil berdiri dan hendak berjalan ke luar tenda.
"Aku gak becanda Kev, aku serius, lihat aja keluar. Mereka sudah ditemukan oleh tim pencarinya pak Zio dan Sasya! sekarang mereka lagi diperiksa di ruangan panitia"
Kevin melihat keluar tenda untuk memastikan ucapan Sarah itu benar atau tidak. Saat dia berjalan keluar dan menghampiri ruangan panitia, orang-orang sudah berkerumun didepan tempat itu. Kevin dan Sarah pun langsung berlari kesana untuk mendekat.
"Bella.." Sarah ternganga melihat pemandangan di depannya. Bella sedang diberikan tabung oksigen oleh salah seorang tim medis, wajahnya terlihat sangat pucat dan sekujur tubuhnya penuh dengan luka lebam.
Sarah mundur perlahan, tubuhnya tiba-tiba menjadi sangat lemas, ya ampun Bella.. apa yang sudah orang-orang Kevin perbuat padanya? bukankah dia berkata jika Bella tidak akan dilukai?
Kevin yang berdiri disamping Sarah pun tak kalah kaget melihat keadaan Bella yang sangat mengenaskan. Kevin mencoba berjalan lebih dekat, matanya tambah terbelalak ketika melihat Ansel sedang dipasangi selang oksigen dihidung nya. Kondisinya malah lebih memprihatinkan dari pada Bella. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh noda darah.
Pria yang sangat dia benci itu kini telah tergolek lemah dihadapannya. Kevin menatap dada Ansel, ada balutan kain disana. Para preman suruhannya pasti sudah menembak Ansel dibagian itu. Mampus kau! Kevin tersenyum puas melihat kondisi musuh dihadapannya.
"Kita harus segera membawa mereka ke rumah sakit terdekat, terlebih Pak Ansel kondisinya sekarang sudah sangat kritis! dia harus segera mendapatkan donor darah dan juga penanganan pada luka di dadanya.." Ucap salah seorang tim medis kepada Zio.
Zio langsung menyetujuinya dan tanpa membuang waktu lagi segera membawa Ansel dan Bella kerumah sakit terdekat di daerah itu.
__ADS_1
Sasya dan Inyong pun ikut menemani mereka kerumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, Zio segera melarikan Bella dan Ansel keruang IGD, untunglah saat itu ada dokter yang sedang berjaga disana jadi Ansel dan Bella bisa langsung mendapatkan penanganan pertama.
Zio meminta Sasya untuk mengabari Tuan Hamis tentang kondisi putranya karna Zio harus mengurus beberapa berkas persetujuan didepan ruang administrasi.
"Bella gak apa-apa kan, Sya?" Inyong menatap ruang IGD dengan wajah yang sangat cemas.
"Kita berdoa ya nyong semoga Bella dan Pak Ansel gak bakal kenapa napa.." Ucap Sasya tak kalah cemas dengan Inyong.
Setelah berhasil menghubungi keluarga Pak Hamis, Sasya langsung kembali menghampiri Inyong diruang tunggu. Mereka berdua saling berpelukan dan berharap semoga tidak terjadi sesuatu yang serius pada sahabatnya Bella.
setengah jam berlalu dua orang suster terlihat keluar dari ruang IGD dengan mendorong sebuah ranjang pasien.
Sasya dan Inyong langsung berdiri menghampiri. Mereka melihat Bella diatas ranjang itu dengan selang oksigen yang menempel di hidungnya dan juga infusan yang kini telah melekat di lengan kanannya.
"Bagaimana keadaan teman saya sus?"Tanya Inyong pada salah seorang suster yang memegangi botol infusan Bella.
"Tenang ya, kondisi nona Bella sudah mulai stabil, sekarang kita akan pindahkan beliau keruang perawatan.."
Merekapun ikut mengantarkan Bella kedalam kamar rawat inapnya.
"Kalian bisa tunggu diluar ya, kalau pasien sudah siuman baru ada yang boleh masuk kedalam.." Ucap salah seorang perawat kepada Inyong dan Sasya.
Kedua perawat itupun pergi setelah memeriksa keadaan Bella sekali lagi.
Inyong dan Sasya terpaksa menunggu diluar ruangan sampai Bella sadar. Sasya tiba-tiba teringat pada Zio dan Pak Ansel.
"Nyong, gue ke ruang IGD lagi ya, gue mau liat kondisinya Pak Ansel.." Ucap Sasya sambil berdiri dan menepuk pundak Inyong.
"Iya Sya.." jawab Inyong pendek sambil mengangguk pelan.
Sasya pun langsung berjalan ke arah ruang IGD namun tiba-tiba dia berpapasan dengan Zio ditengah-tengah lorong.
__ADS_1
"Sya!" Zio menghampiri Sasya.
"Pak, bagaimana keadaan Pak Ansel?" Tanya Sasya. Namun Zio tak menjawab, dia terlihat sangat murung dan matanya berkaca-kaca namun pria dihadapannya itu sama sekali tak mau memperlihatkannya pada Sasya.
"Ansel sudah dipindahkan keruang operasi Sya, dia akan dioperasi sekarang juga karna luka di dadanya sudah mengalami infeksi.." Jawab Zio dengan suara yang menyiratkan kecemasan yang begitu dalam.
Sasya mengelus punggung Zio dengan lembut.
"Pak, Pak Ansel itu kuat, dia pasti bakal baik-baik aja.." Sasya mencoba menenangkan Zio walau dia tahu itu tidak akan berhasil.
"Seandainya saya menemukan mereka lebih cepat Sya.." Zio menatap nanar lorong didepannya padahal tidak ada apa-apa disana. Ucapan dokter tadi sungguh membuatnya benar-benar khawatir pada kondisi Ansel.
"Kondisi pasien sangat kritis, pasien sudah kehilangan banyak darah ditambah luka di dadanya sudah mengalami infeksi yang cukup parah, pasien harus segera dioperasi sekarang juga.." Ucapan dokter inilah yang dari tadi terus terngiang-ngiang ditelinga Zio.
"Ayo pak, kita ke ruang operasi, kita tunggu Pak Ansel disana.." Ajak Sasya sambil menggandeng lengan Zio.
Zio berjalan lesu sambil tertunduk, seandainya tadi dia bisa lebih cepat menemukan Ansel mungkin kondisi sahabatnya itu tidak akan separah sekarang. Zio jadi menyalahkan dirinya sendiri.
"Bagaimana dengan kondisi Bella, Sya?" Zio mendongak dan menatap Sasya.
"Bella sudah stabil Pak, kita cuman disuruh nunggu sampe Bella siuman, baru kita boleh masuk ke dalam ruangan.."
Zio jadi sedikit lega mendengarnya. Setidaknya Bella tidak apa-apa.
"Tapi saya penasaran pak, kenapa pak Ansel bisa sampai tertembak, siapa yang sudah tega menembak pak Ansel dan siapa juga yang udah menyerang Bella?"
Zio terdiam, dia seperti sedang memikirkan hal yang sama dengan Sasya.
"Kita akan mencari tahu siapa yang udah nyelakain mereka Sya, secepatnya setelah Bella sadar kita bisa minta keterangannya, karna saya yakin ini sepertinya bukan kecelakaan biasa." Zio terlihat geram sambil menatap ruang operasi didepannya dengan wajah sendu.
"Kevin pasti terlibat dengan semua ini!" Ucap Zio lirih.
__ADS_1
bersambung..