
Jam pelajaran pertama sudah dimulai. Bella dan Inyong sedang serius mencatat beberapa materi pelajaran yang diberikan oleh Bu Selvi. Bella teringat perkataan Inyong soal Bu Selvi yang katanya tergila-gila pada Pak Ansel.
Tanpa sadar Bella memperhatikan Bu Selvi dengan seksama. Wanita yang berperawakan seksi itu tampak cantik dan anggun dalam balutan kemeja dan rok span dibawah lutut.
Laki-laki normal manapun pasti tidak akan menolak kecantikan wanita yang berusia kurang lebih 30 tahunan itu.
Bella mengetuk-ngetuk keningnya sendiri. Ah, kenapa dia tiba-tiba mikirin Bu Selvi dan Pak Ansel. Bella kembali memusatkan perhatiannya pada buku catatannya.
Namun tiba-tiba pintu ruangan di ketuk. Bella terkejut saat mendapati Pak Ansel sudah berdiri diambang pintu. Inyong pun ikut ternganga dan menyikut lengan Bella.
"St! Bell liat liat laki lo! mau apa dia kesini?" Bisik Inyong ditelinga Bella. Bella sontak menoleh ke Inyong dan buru-buru menyuruh inyong menutup mulutnya.
"Ish nyong jangan berisik! ntr ada yang denger!" Dengus Bella dengan setengah melotot ke Inyong. Inyong hanya nyengir kuda.
Pak Ansel mendekati Bu selvi dengan wajah datar. Bella mengikuti pergerakan langkah Pak Ansel sampai di tempat berdirinya Bu Selvi.
Bella menurunkan pandangannya pada sebuket bunga mawar merah yang ada ditangan Pak Ansel. Sepertinya Bella pernah mendengar adegan ini dari Inyong. Benar saja, beberapa detik kemudian Pak Ansel berteriak lantang.
"Saya harus berapa kali memperingatkan anda Bu Selvi! jangan pernah mengotori meja saya lagi, bisa?"
Bella dan seisi kelas terpana dengan apa yang dilihatnya. Buset! penolakan telak! tanpa ampun! Dan parahnya penolakan itu dilakukannya di depan semua mahasiswinya .Gila gak punya hati nurani emang! Bella bahkan tak sanggup menutup mulutnya karna dia tak menyangka jika Pak Ansel bisa sekejam itu.
Namun Bella lebih lebih ternganga lagi saat melihat dengan santainya Bu Selvi tersenyum seolah dia tak sadar jika dirinya baru saja dipermalukan oleh laki-laki didepannya.
"Maaf ya Pak Ansel. Lain kali saya akan kasih sesuatu yang lebih bapak sukai." Bu Selvi bahkan tetap bersikap ramah pada Pak Ansel.
Inyong dan Bella takjub! gila bebal juga wanita itu. Kalau Bella jadi Bu Selvi mungkin dia tak akan berani lagi muncul dihadapan semua orang. Sungguh itu penghinaan besar bagi harga diri seorang wanita.
"Dengar! saya tidak ingin menerima apapun dari anda. Bisa anda tidak menggangu saya lagi dengan hal-hal konyol seperti ini?" Pak Ansel menatap tajam Bu Selvi.
Seisi ruangan membisu, lebih tepatnya semua orang sedang terpana pada kejamnya penolakan cinta seorang Pria pada seorang wanita yang bucin berat padanya.
"Maaf pak sampai kapanpun saya akan tetap melakukan hal-hal seperti ini sampai bapak luluh dan mau membuka hati bapak untuk saya!"
__ADS_1
HAH?! Gila bebal! muka badak! Bella terpana untuk kesekian kalinya. Astaga gosip yang Inyong katakan waktu itu ternyata memang benar. Hari ini, detik ini dia menyaksikan sendiri semuanya.
Inyong menggelengkan kepalanya namun kali berikutnya dia mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Suhu kita nih! patut dicontoh kegigihannya!" Inyong berteriak membuat seisi kelas menahan tawa. Mereka ingin tertawa tapi mereka takut pada Pak Ansel.
"Hus!" Bella menyikut lengan Inyong untuk diam.
Pak Ansel sempat menoleh ke tempat duduk Inyong. Matanya langsung berubah fokus saat menyadari ada Bella duduk disebelah gadis itu. Bella menunduk dan pura-pura mencatat.
"Sayangnya saya tidak tertarik membuka hati saya untuk siapapun!" Tandas Pak Ansel telak.
Pak Anselpun berjalan namun bukan melangkah untuk keluar melainkan dia menaiki anak tangga menuju kursi mahasiswi paling atas.
Bella deg degan, jantungnya serasa mau copot. Bella berharap pria itu tidak sedang berjalan ke arahnya. Namun doanya di tolak mentah-mentah saat itu juga. Ansel kini telah berdiri persis disampingnya.
Diraihnya satu tangan Bella lalu kemudian diletakkannya buket mawar itu ke tangan gadis itu. Seisi kelas melongo begitupun dengan Bu Selvi, wajahnya yang sedari tadi santai kini berubah menjadi marah padam.
Pak Anselpun pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Dia tak sadar jika ulahnya itu telah membawa Bella kedalam masalah baru. Sepasang mata tajam kini menatapnya dengan kilatan kecemburuan yang luar biasa.
Seisi kelas menjadi riuh dan bersorak saat Pak Ansel sudah keluar ruangan.
"Cinta segitiga yang membagongkan." Ucap salah seorang mahasiswa yang sedari tadi ikut terpana menyaksikan adegan yang bak sinetron ini.
"DIAM SEMUANYA DIAM!" Pinta Bu Selvi yang mendadak membuat seisi kelas kembali membisu.
"lanjutkan catatan kalian. Kalau masih bersuara kalian boleh keluar dari kelas saya!" Ancaman itu jelas membuat para mahasiswi takut. Merekapun kembali melanjutkan pelajaran seperti biasa.
Tinggallah Bella dengan perasaan tidak enak yang kini menggelayuti nya. Bella sadar setelah ini Bu Selvi pasti tidak akan bersikap biasa-biasa saja padanya seperti kemarin-kemarin.
Bel pelajar pertama telah berbunyi. Bella dan Inyong duduk di kantin untuk mengisi bahan bakar.
"Bell, gila ya tadi tuh seru banget tau, Inyong berasa lagi ngeliat sinetron beneran! takjub Inyong sama bu Selvi segitu muka badaknya banget dia, inyong harus banyak belajar nih dari suhu.." Inyong dengan bersemangat membahas kejadian tadi sambil mengunyah somay di mulutnya sementara tangannya yang lain memegang segelas es teh manis dan sibuk mengaduk-ngaduknya.
__ADS_1
Bella hanya diam tak memperhatikan ucapan Inyong, dia malah sibuk melamun sementara tangannya hanya mengaduk-ngaduk somay saja dari tadi tanpa berniat memakannya. Bella terus memikirkan Dosennya Bu Selvi. Pak Ansel pasti sengaja menyulut permusuhan diantara dirinya dan Dosennya itu. Sial! Bella mengepal kedua tangannya seketika.
"AH, DASAR PSIKOPAT!" Bella menjerit keras sambil menggebrak meja dihadapannya. Kontan seisi kantin menoleh padanya. Inyong pun kaget dan segera berdiri memohon maaf pada penghuni kantin yang lain atas ulah sahabatnya barusan.
"Maaf ya maaf, silahkan dilanjutkan hidangannya! jangan hiraukan kami!" Ucap Inyong sambil menyenggol lengan Bella. Bella tersipu malu saat sadar ulahnya barusan sudah membuat seisi kantin memperhatikannya. Bella langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Lo kenapa sih Bell?" Tanya inyong.
"Sorry nyong. Gue kelepasan!"
"Pasti lo mikirin Pak Ansel ya?"
"Engga kok! najis amat gue mikirin orang kaya dia ih!"
"Ouh iya ngomong-ngomong gue mau konfirmasi satu berita deh sama lo Bell.." Inyong langsung teringat sesuatu
"Berita apaan?"
"Emang beneran si Kevin mau nikah sama Citra?"
Hah? Gilaaa Inyong tau dari mana soal itu? bener-bener ngalahin FBI nih anak. Segala berita dia tahu dengan mudahnya. Bella hanya diam. Dia bingung harus menjawab apa.
"Sebenernya gue gak perlu nanya sama lo sih Bell, karna yang mengatakan hal ini si Kevin nya sendiri. Tapi ya bisa jadi tuh anak cuman halu doang makanya gue pengen memastikan aja."
Kontan mata Bella terbelalak lebar.
"Apa maksud lo nyong? si Kevin ngaku gitu mau nikah sama Citra?"
"Iya Bell, kemaren gue denger sendiri dia ngumumin didepan kelasnya ke temen-temennya kalau hari minggu ini dia akan jadi besannya pak rektor kita Pak Hamis! Gila kan tuh anak?"
Bella sampe tak bisa berkata apa-apa lagi. Kevin sudah melakukan kesalahan besar tapi dia dengan bangga mengumumkan pernikahannya. Muka temboknya udah ngalahin bu Selvi ini mah! rutuk Bella dalam hatinya.
bersambung..
__ADS_1